Keindahan Wisata Lombok, Pesonanya Sungguh Mencuri Hati

Lombok sudah lama kondang sebagai salah satu destinasi favorit para wisatawan. Keindahan alam yang disajikan sungguh unik, berbeda dari daerah lain di Indonesia. Deretan wisata Lombok pun siap memanjakan para pelancong yang mendarat di Nusa Tenggara Barat.

Salah satu kontributor Travelingyuk, Rizqy Auliafitri, pernah mendapat kesempatan merasakan langsung indahnya wisata Lombok. Baik dari panorama, atmosfer, maupun kekayaan kulinernya. Penasaran? Mari kita simak bersama penuturannya berikut ini.

Perjalanan menuju Mataram

Matahari terbenam di Pulau Lombok (c) Rizqy Auliafitri
Matahari terbenam di Pulau Lombok via Instagram.com/dynielcodenk/

Kesempatan Rizqy Auliafitri mengunjungi Mataram datang kala ia mengikuti kegiatan rapimnas dan rapleno HKPSI (Himpunan Komunitas Peradilan Semu Indonesia) di Universitas Mataram. Dengan niatan ingin mengeksplor wisata setempat lebih lanjut, Rizqy sengaja memajukan jadwal keberangkatan dan mengundur kepulangan.

Begitu mendarat di Bandara Internasional Lombok, keindahan alam setempat yang begitu menakjubkan langsung terlihat. Gunung Rinjani nampak dari kejauhan, begitu pula tanah berbukit-bukit dan menara masjid yang menjulang. Tak heran jika Lombok dijuluki sebagai pulau seribu masjid.

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk menuju kota Mataram dari Bandara Internasional Lombok. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disajikan kentalnya budaya suku sasak dan nuansa religius. Rizqy mengungkapkan bahwa hampir seluruh bangunan yang ia lihat bentuk atapnya masih menggunakan model rumah tradisional. Selain itu banyak ibu-ibu lalu lalang sembari mengenakan kain tenun khas setempat.

Kuliner khas yang menggiurkan

Plecing Kangkung (c) Rizqy Auliafitri
Plecing Kangkung Lombok via Instagram.com/alleys.food/

Selama berada di Mataram, Rizqy menginap di rumah ‘Pakde’ alias paman. Menurut penuturannya, Si Pakde ini menikah dengan orang sasak asli bergelar Baiq – salah titel kebangsawanan suku setempat selain Lalu dan Lale.

Rizqy pun berkesempatan menjaja makanan khas setempat, seperti pindang (ikan kakap bumbu kuning yang ditambahi daun bawang), plecing kangkung (cara makannya diurap dengan taoge dan kelapa), serta tahu (teksturnya sangat lembut dan sangat terasa keledainya).

Soal rasa, pada umumnya makanan khas Lombok bercita rasa pedas. Selain itu, warga setempat terbiasa menyajikannya dalam jumlah besar meski belum tentu habis dimakan semuanya.

Indahnya Pantai Ampenan

Pantai Ampenan via Instagram.com/iazisarifin/

Di sela-sela kegiatan rapimnas dan rapleno HKPSI hari pertama, Rizqy dan peserta lainnya sempat diajak panitia berkeliling kota Mataram. Salah satu tempat yang dituju adalah Pantai Ampenan. Dulunya pantai ini difungsikan sebagai pelabuhan penyebrangan dari Bali, namun batal karena ombaknya terlalu ganas dan lautannya cukup dangkal.

Pantai Ampenan cocok bagi mereka yang ingin sekedar melepas penat atau berdiskusi santai, karena anginnya tak terlalu kencang. Namun kurang pas bagi para pemburu pemandangan matahari terbit maupun terbenam.

Kawasan ini bisa dicapai dengan perjalanan sekitar 20 menit dari pusat kota Mataram. Sepanjang perjalanan, para pelancong akan dimanjakan dengan kawasan kota tua – mirip dengan yang ada di Semarang.

Santap malam di Rumah Makan Taliwang Tifa

Sayur Labui (c) Rizqy Auliafitri
Menu Rumah Makan Tilawang Tifa via Instagram.com/weenzul/

Saat gala dinner penutupan, Rizqy mendapatkan jamun makan malam di Rumah Makan Taliwang Tifa yang ada di Selaparang, Mataram. Beragam masakan unik sempat ia jajal di sini, termasuk di antaranya ayam taliwang, plecing kangkung, dan labui, sayur berbahan dasar kacang kedelai hitam dan rasanya manis.

Selain itu ada nasi balap puyung, dibungkus daun pisang dan mirip dengan nasi krawu. Isinya terdiri dari daging suwir, sambal hitan, dan juga kacang kedelai cukup banyak.

Berkunjung ke Pantai Seger

Pantai Seger via Instagram.com/taherabbani/

Pada hari terakhir, Rizqy dan peserta rapleno HKPSI diajak panitia setempat menjelajah ke salah satu pantai di Mandalika yaitu Pantai Seger. Dari pusat kota Mataram, butuh perjalanan sekitar satu setengah jam Sebelum sampai, pengunjung akan dimanjakan dengan indahnya pantai Kuta Lombok serta Cottage Putri Mandalika, yang bisa dibilang sebagai gerbang masuk kawasan pantai

Pantai Seger sendiri dipisah menjadi dua kawasan, Pantai Seger Luar untuk surfing dan Pantai Seger Dalam dengan kawasan yang menjorok ke dalam seperti teluk – dengan bukit-bukit kecil di sekelilingnya. Perairan di kawasan ini terlihat sangat biru, siapapun yang melihatnya pasti tergoda untuk berenang.

Pemandangan di atas bukit Pantai Seger via Instagram.com/ola__wu/

Namun bagi yang tak ingin berbasah-basahan, bisa naik ke bukit yang terletak persis di persimpangan Pantai Seger Luar dan Dalam. Pemandangan yang tersaji sungguh cantik. Waktu terbaik mengunjungi pantai ini adalah antara Februari hingga Maret, karena biasanya diadakan festival berburu Nyale – cacing laut berwarna-warni yang bisa dimakan.

Desa Wisata Sade

Desa Wisata Sade via Instagram.com/arizalasfat/

Selesai menikmati keindahan Pantai Seger, panitia lantas mengajak Rizqy dan peserta lain berkunjung ke Desa Wisata Sade. Kawasan ini terletak di sisi timur Bandara Lombok dan bisa ditempuh dalam waktu 15 menit.

Desa Wisata Sade merupakan kawasan perkampungan Suku Sasak dengan aroma tradisional yang masih kental. Penduduk setempat mencari nafkah dengan berjualan suvenir, seperti kain, tas, kaos, celana, serta menenun songket. Proses pembuatan songket bisa memakan waktu berminggu-minggu, hingga tak heran harganya begitu maha.

Keunikan lainnya di Desa Wisata Sade adalah rumah adat suku sasak yang dibersihkan menggunakan kotoran kerbau. Menurut penuturan warga setempat, metode ini membuat lantai lebih mengkilap dan juga mengeraskan tanah.

Loang Baloq dan Pantai Senggigi

Pantai Loang Baloq via Instagram.com/azis_nw/

Usai rangkaian kegiatan rapleno HPSI berakhir, Rizqy dan peserta lain yang belum berniat pulang masih menyempatkan diri untuk berkeliling Mataram. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Loang Baloq atau Lubang Buaya, yang konon dihuni seekor buaya berusia ratusan tahun. Di kawasan ini terdapat taman dengan pohon beringin besar, cocok sekali untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.

Selanjutnya, rombongan Rizqy melanjutkan perjalanan ke Pantai Senggigi. Pantai eksotis ini cocok sekali untuk melihat sunset dan bermain snorkeling. Terumbu karangnya juga masih tertata alami, sementara ombak di sekitar sini sangat tenang. Apalagi kawasan perbukitan di sekitar pantai banyak warung yang menjajakan kuliner jagung bakar.

Taman Narmada

Taman Narmada via Instagram.com/anwar_efendy95/

Tempat berikutnya yang dikunjungi Rizqy adalah Taman Narmada, letaknya 10 kilometer dari Mataram. Di kawasan seluas dua hektar ini, berdiri taman kuno yang didirikan pada 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem. Lokasi ini biasa digunakan sebagai tempat upacara Pakelem tiap purnama kelima tahun Caka atau antara Oktober hingga November.

Taman Narmada juga memiliki sebuah kolam air, yang konon bisa menambah awet muda bagi siapapun yang membasuh wajah di sana. Namun sebelum masuk ke dalam areal sakral ini, pengunjung diwajibkan melakukan sembahyang terlebih dahulu.

Suasana di dalam Taman Narmada cukup sejuk karena letaknya di perbukitan. Suara gemericik air dari kolam-kolam raja membuat rasanya ingin berlama-lama menghabiskan waktu di sana. Di pintu keluar, banyak orang menjajakan suvenir, seperti mutiara. Harganya juga tidak terlalu mahal.

Sate Bulayak

Sate Bulayak via Instagram.com/makanapadimakassar/

Puas menjelajah di area taman, Rizqy langsung meluncur ke kawasan Suranadi untuk makan siang. Menu yang jadi pilihan adalah sate bulayak atau lontong dalam bahasa sasak. Mulanya sate ini hanya menggunakan jerohan, namun karena permintaan pelanggan akhirnya dimasukkan juga daging ayam dan sapi.

Satu hal yang berbeda dari sate bulayak adalah bumbu kacang ditambahi dengan santan, plus bumbu tradisional lainnya. Proses selanjutnya, sate dibakar di atas arang batok kelapa. Penyajiannya dibalut dengan daun aren dan untuk membukanya harus dengan cara memutar karena tak disediakan sendok maupun garpu.

Pasar Cakranegara

Jalan-jalan tentu belum lengkap jika tak membeli oleh-oleh. Rizqy pun lantas memutuskan berbelanja buah tangan ke Pasar Cakranegara, yang konon menawarkan harga lebih bersaing dibanding toko yang ada di tempat-tempat wisata. Selisih harganya bisa mencapai lima hingga 20 ribu rupiah.

Bagi yang ingin berbelanja makanan ringan khas Lombok, disarankan mampir ke Phoenik. Toko ini punya banyak cabang dan mereka buka antara pukul delapan pagi hingga enam sore. Di sini wisatawan bisa membeli beragam oleh-oleh khas berbahan rumput laut dan kacang mede.

Itulah tadi sekilas gambaran mengenai deretan wisata Lombok yang sudah mencuri hati Rizqy Auliafitri. Bagaimana, ada yang sudah ikut terpesona dan merencanakan perjalanan ke pulau seribu masjid ini?

Tags
Share