Jika Teman Traveler sedang liburan di Surabaya, tak ada salahnya mengenang kehidupan sang pencipta lagu kebangsaan di Makam WR Supratman. Tempat bersejarah di Surabaya ini mampu mengembalikan ingatan Teman Traveler akan perjalanan penciptaan Indonesia Raya. Yuk, langsung saja disimak ulasan berikut.
Kisah Hidup Sang Maestro


Sebelum saya mengajak Teman Traveler menjelajah makam W.R. Supratman, ada baiknya kita membahas sedikit soal perjalanan hidup Sang Maestro. Lahir di Purworejo, ia sudah belajar memainkan gitar dan biola sejak remaja. Selain merupakan seorang musisi berbakat, ia juga tercatat pernah bekerja sebagai guru di Makassar dan menjadi wartawan di
Bandung serta Jakarta.
Tak berlebihan rasanya jika Wage Rudolf disebut sebagai seseorang yang multi talenta. Di luar bidang musik dan jurnalistik, ia juga adalah seorang sastrawan ulung. Beberapa buku ciptaannya sudah pernah diterbitkan. Sebut saja Perawan Desa, Darah Moeda, dan Kaoem Panatik. Hal ini sepertinya dipengaruhi oleh masa mudanya yang kebanyakan diisi dengan menulis di surat kabar dan aktif di organisasi pergerakan nasional.
Cerita di Balik Indonesia Raya

Memasuki pertengahan 1928, W.R. Supratman berhasil menyelesaikan lagu Indonesia Raya dan pertama kali diperdengarkan, meski tanpa lirik, di Kongres Pemuda II pada tahun yang sama. Dua tahun berselang, Pemerintah Kolonial memutuskan melarang lagu tersebut dan penciptanya ditahan serta diinterogasi lantaran dianggap melakukan gerakan subversif.
Meski demikian, hal tersebut sama sekali tak meruntuhkan semangat Sang Komposer. Bersama kawan-kawannya, ia terus berjuang bersama golongan pergerakan nasional lainnya.
Wafat Sebelum Indonesia Merdeka

Sang maestro tercatat tutup usia pada 17 Agustus 1938. Beberapa saat sebelumnya, ia ditangkap oleh tentara kolonial dan ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. Secara tragis, W.R. Supratman tak sempat merasakan negeri yang begitu dicintainya meraih kemerdekaan.
Meski mengalami nasib tragis di penghujung usianya, nama dan karya W.R. Supratman abadi hingga kini. Ia akan terus dikenang sebagai salah satu pahlawan dan musisi terbaik Tanah Air. Sebagai apresiasi, Pemerintah menetapkan hari kelahirannya sebagai Hari Musik Nasional.
Berziarah ke Makam

Apabila sedang jalan-jalan di Surabaya, Teman Traveler dapat berziarah ke makam W.R. Supratman di Jalan Kenjeran. Di tengah kompleks makam ini terdapat bangunan joglo berwarna putih yang jadi tempat pusara Sang Pahlawan. Bentuknya unik, mirip seperti lekukan biola, alat musik kesayangan Sang Maestro.
Di bagian lain makam, terdapat patung W.R. Supratman tengah menggesek biola. Tepat di belakangnya, terdapat prasasti lirik lagu Indonesia Raya versi lengkap. Lirik sepanjang tiga stanza itu dipahat di permukaan marmer putih.
Selain itu masih ada prasasti lain yang memuat cerita singkat hidup W.R. Supratman. Di sini Teman Traveler dapat mengetahui kisah perjuangan Sang Komposer yang sangat inspiratif. Dijamin bakal bikin kalian makin cinta dan bangga pada Indonesia.
Ramai di Hari Nasional

Jika ingin berziarah, Teman Traveler bisa menemui juru kunci makam yang tinggal tak jauh dari sini. Siapkan bunga untuk ditaburkan di atas pusara. Oh ya, komplek ini biasanya ramai dikunjungi pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Pahlawan.

Itulah sedikit pengalaman saya menjelajah Makam WR Supratman. Jika Teman Traveler ingin ikut pula mengenang jasa-jasa Sang Maestro pencipta lagu kebangsaan, jangan lupa mampir ke wisata Surabaya satu ini ya. Selamat jalan-jalan.