Gulali, Jajanan ‘Zaman Old’ dengan PermenTradisional yang Tetap Difavoritkan

Rizky Nusantara

Rizky Nusantara

On Indonesia
Jajanan Gulali Jajanan Gulali

Menjamurnya kuliner kekinian dengan bentuk unik memang tengah jadi rebutan. Namun, bukan berarti makanan tradisional ditinggalkan. Buktinya, jajanan gulali masih tetap difavoritkan oleh banyak kalangan. Bahkan, variannya kini makin beragam dari bunga mawar, bunga matahari, hewan dan banyak lainnya. Tak percaya? Berikut ulasan tentang jajanan zaman old yang dirangkumkan oleh Kontributor Travelingyuk, Rizki Nusantara.

Sejarah Singkat Gulali

Gulali berbentuk bunga matahari
Gulali berbentuk bunga matahari  (c) Rizki Nusantara/ Travelingyuk

Jajanan tradisional tidak hanya enak, tapi juga cukup sehat karena menggunakan bahan alami. Begitu pula dengan gulali yang memiliki sejarah menarik. Jajanan manis ini pertama kali diperkenalkan oleh Wiliam Morrisson dan Jhon C Warton dalam pameran di St. Louis World’s Fair pada tahun 1904. Saat itu, namanya Fairy Floss dan menjadi salah satu jajanan terlaris. Kepopulerannya dibawa oleh para jenderal Belanda dan dikenal kepada orang Indonesia. Siapa sangka, peminatnya banyak sehingga diproduksi secara masal saat pemerintahan Hindia Belanda.

Proses Pembuatan Gulali

Gulali berbentuk mawar
Gulali berbentuk mawar (c) Rizki Nusantara/ Travelingyuk

Jajanan manis ini terbuat dari gula yang diberi pewarna makanan. Proses pembuatan dengan  menggunakan mesin yang berbentuk wadah kecil di bagian tengahnya. Di bagian tepi terdapat pemanas yang berfungsi untuk melelehkan gula. Ketika sudah siap, adonan di masukkan ke dalam wadah dan diputar sehingga menghasilkan gulali. Dari jauh, bentuknya memang padat, tapi jajaan ini akan mencair ketika digigit. Sementara itu, teksturnya juga akan lengket ketika terkenal uap air.

Varian Gulali yang Bikin Nagih

Gulali dengan aneka bentuk
Gulali dengan aneka bentuk (c) Rizky Nusantara/Travelingyuk

Di Indonesia, gulali mempunyai dua versi yang difavoritkan banyak orang. Versi pertama, pembuatannya menggunakan gula jawa hingga berwarna coklat kehitaman. Biasanya jajanan ini dicampur dengan kacang dan menghasilkan rasa unik. Sementara versi kedua, berupa gulali dengan gula pasir. Untuk jenis ini, pedagang biasa menggunakan campuran pewarna makanan. Jika Teman Traveler menemukan gulali dengan aneka rasa, maka bahan yang digunakan berupa gula pasir dengan pewarna makanan.

Pedagang Gulali di Jogja

Pedagang Gulali
Pedagang Gulali (c) Rizky Nusantara/Travelingyuk

Jajanan gulali yang rasanya klasik ini cukup sulit dicari di zaman sekarang. Hal ini tidak lain karena kalah saing dengan aneka permen yang memiliki warna lebih menarik perhatian. Pun demikian, tidak dengan Jogja. Teman Traveler masih dengan mudah menemukan jajanan tersebut di kota ini. Biasanya, permen tradisional tersebut muncul saat ada event kebudayaan yang digelar. Selain rasanya yang menggigit, harganya juga terjangkau. Tak bakal bikin kantong bolong.

Nah, itulah ulasan tentang jajanan gulali yang tetap laris manis meski pamornya mulai turun karena kuliner kekinian. Bagaimana dengan Teman Traveler, masih sering menemukan jajanan dengan rasa spesial ini kan?