Benteng Vredeburg, Mengenang Kisah Heroik di Tanah Jogja

Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita sendiri terkait usaha perlawanan menghadapi penjajah, termasuk Jogjakarta. Jika tertarik menyelami kisah-kisah heroik seputar hal tersebut, Teman Traveler bisa mampir ke Benteng Vredeburg. Yuk, simak ulasan selengkapnya. Penggemar wisata sejarah wajib masuk!

Sempat Dikuasai Belanda, Inggris, dan Jepang

benteng_0gK.jpg
Pernah dikuasai Belanda, Inggris, dan Jepang (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Sebelum disulap menjadi museum pada 1992, Benteng Vredeburg miliki sejarah panjang. Awalnya Pemerintah Belanda meminta pihak Keraton membuat benteng, yang ternyata digunakan untuk mengawasi gerak-gerik di dalam kediaman Sultan.

cover_Zav.jpg
Benteng Vredeburg (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Seiring berjalannya waktu, meski tanah tempat berdirinya benteng merupakan milik Keraton, Vredeburg sempat jatuh ke tangan Belanda, Inggris, serta Jepang. Barulah setelah merdeka kepemilikannya diambil oleh Pemerintah Indonesia.

Berarti Perdamaian

suasana_di_dalam_benteng_6SV.jpg
Salah satu bangunan dalam benteng (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Sebelum mengusung nama ‘Vredeburg’, benteng sempat menyandang sebutan ‘Rustenberg’ yang berarti benteng peristirahatan. Namun usai dihantam gempa 1867 dan sebagian bangunannya rusak, diberikan nama anyar yang berarti ‘perdamaian’. Sebutan baru ini sekaligus jadi simbol damai antara Keraton dengan Belanda.

Jembatan dan Parit Masih Dipertahankan

jembatan_YZB.jpg
Jembatan sebelum memasuki wilayah benteng (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Sebelum memasuki wilayah museum, Teman Traveler bakal melewati jembatan dengan parit di bawahnya. Dua fitur ini sudah ada sejak zaman dulu dan berfungsi sebagai pertahanan terluar benteng. Dulunya jembatan ini bisa dibuka tutup, model gantung. Namun kini sudah diubah menjadi jembatan permanen.

Ruang Pengenalan dan Audio Visual

ruang_pengenalan_edn.jpg
Ruang Pengenalan (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Vredeburg diperkirakan memiliki luas lebih dari 46.000 meter persegi. Meski sempat dipugar sebelum disulap menjadi museum, bentuk asli benteng tetap dipertahankan.

Ditambahkan pula beberapa fasilitas anyar agar pengunjung semakin tertarik datang. Salah satunya adalah ruang pengenalan. Di ruangan ini Teman Traveler bisa menonton video singkat mengenai Benteng Vredeburg.

Selain itu masih ada ruang Audio Visual yang memutar beberapa film perjuangan. Ruangan ini hanya buka pada Jumat dan Minggu. Jadi Teman Traveler jangan sampai salah hari ya.

Ruang Diorama dengan Perspektif Keren

ruang_diorama_h1x.jpg
Ruang Diorama (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Sebagian besar koleksi museum berbentuk diorama dan tersebar di empat ruangan. Ruang Diorama I menggambarkan peristiwa pada masa Dipenogoro hingga Penjajahan Jepang. Masuk Ruang Diorama II, Teman Traveler akan temukan penggambaran peristiwa mulai Masa Kemerdekaan
hingga Agresi Militer Belanda.

Lanjut ke Ruang Diorama III, pengunjung bakal disambut kepingan peristiwa dari Perjanjian Renville hingga pernyataan Kedaulatan Republik Indonesia Serikat. Terakhir, ada Ruang Diorama IV yang menggambarkan sejarah selama masa Orde Baru.

Semua diorama di Benteng Vredeburg dibuat dengan perspektif keren. Melihatnya sama sekali tidak terasa bosan. Benar-benar sebuah cara asyik untuk belajar sejarah bangsa.

diorama_ukuran_asli_lwG.jpg
Diorama ukuran asli (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Selain diorama kecil dalam ruang kaca, Benteng Vredeburg juga miliki beberapa diorama dengan ukuran sebenarnya. Setiap patung ditempatkan di beberapa lorong, seolah sedang berperang. Kawasan sekitar sini bisa jadi spot foto menarik buat Teman Traveler.

Permainan Interaktif

permainan_interaktif_cq9.jpg
Permainan interaktif (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Guna menarik pengunjung, pengelola museum juga menyediakan beberapa layar sentuh dengan permainan interaktif. Di sini pengunjung bisa menguji kecepatan dan pengetahuan seputar perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Kira-kira Teman Traveler bisa menjawab berapa pertanyaan nih?

Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949

monumen_serangan_1_maret_QZD.jpg
Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Satu komplek dengan museum, Teman Traveler bisa melihat Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Sudut ini memperingati momen penting, di mana kala itu Indonesia menunjukan pada dunia soal kesanggupan menjaga kedaulatan.

Tertarik berkunjung ke sini? Teman Traveler cukup bayar Rp3.000 bagi untuk tiket masuk. Sementara anak-anak dikenakan tarif Rp2.000 saja. Museum ini buka antara Selasa-Minggu, mulai pukul 07.30 hingga 16.00.

Itulah sedikit ulasan mengenai Benteng Vredeburg, sebuah bangunan megah yang sudah lewati banyak kisah sejarah menarik. Jika Teman Traveler sedang menjelajah wisata Jogja, jangan lupa mampir ke sini ya.

Tags
Jogja Jogjakarta kontributor Travelingyuk wisata jogja Wisata Jogjakarta
Share