Warung Tegal Kekinian, Mampir ke Warteg Jie Malang

Buat yang suka jalan-jalan di Malang, pasti ngeh kalau sekarang ada banyak coffee shop di mana-mana. Namun yang satu ini berbeda. Mengusung nama Warteg Jie, tempat makan ini beda dari biasanya. Konsepnya unik dan cantik, justru lebih mirip coffee shop ketimbang warung prasmanan.

Baru buka akhir April lalu, lantas seperti apa istimewanya Warteg Jie? Yuk, simak cerita saya Teman Traveler.

Baru Buka Laris Diserbu Mahasiswa

Suasana di dalam warteg (c) Suci Rahayu/Travelingyuk

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Warteg Jie baru buka akhir April lalu. Meski begitu, animo pengunjung langsung tinggi. Pelanggan banyak berdatangan, terutama dari kalangan mahasiswa dan anak kost di sekitarnya.

Lokasi Warteg Jie memang strategis, di Jalan Cengkeh yang notabene berdekatan dengan kampus Universitas Brawijaya, Universitas Islam Malang, dan UIN. Tempatnya juga persis di pinggir jalan raya, nggak perlu repot cari-cari atau meneluri gang.

Jadi favorit anak kost dan mahasiswa (c) Suci Rahayu/Travelingyuk

Saat baru di-launching, Warteg Jie mengadakan promo diskon 50 persen. Wah, pas banget kan? Akhir bulan bisa tetap makan enak dengan harga murah. Eits, tapi nggak hanya itu yang bikin warteg ini istimewa. Baca terus ya, Teman Traveler.

Tampilan Seperti Coffee Shop

Usung konsep ala coffee shop (c) Suci Rahayu/Travelingyuk

Jika dilihat sekilas dari depan, Teman Traveler pasti mengira tempat ini adalah coffee shop. Tenang, kalian nggak sendirian kok. Saya juga awalnya berpikir ini adalah tempat ngopi.

Konsep unik ini ternyata memang sudah dipikirkan matang oleh sang pemilik, Ivonne. Saat saya temui, ia mengatakan bahwa dirinya dan suami telah lama berniat mendirikan warung makan dengan tampilan estetika seperti kedai kopi.

Spot Instagenic (c) Suci Rahayu/Travelingyuk

Ivonne berniat mengubah persepsi publik soal warteg, yang selama ini identik dengan pengap, kotor, desak-desakan, dan sempit, menjadi lebih kekinian dan modern. Ia dan suami pun memilih konsep unfinished, lengkap dengan pencahayaan dan interior ala kafe. Tempat duduk di sini juga luas, tak perlu khawatir berdesak-desakan seperti di warung.

Harga Tetap ala Warteg, Nasi Ambil Sepuasnya

Ada 20-30 menu (c) Suci Rahayu/Travelingyuk

Namanya juga warteg ya, waktu saya akan pesan diminta ambil nasi sendiri. Teman Traveler bisa tentukan porsi banyak atau sedikit, sesuai selera. Asyiknya lagi, harganya tetap sama lho.

Pesannya juga ala warteg nih, tinggal tunjuk-tunjuk menu yang Teman Traveler mau di etalase. Awas ngiler ya, di sini tersedia 20-30 menu. Harganya? Murah. Makan berdua dengan masing-masing dua lauk dan sayur lengkap, plus minum, dan kerupuk, saya cukup bayar Rp35.000. Bisa nongkrong cozy tapi kenyang deh kalau ke sini.

Kenyang makan berdua nggak sampai Rp50.000 (c) Suci Rahayu/Travelingyuk

Selesai dengan makanan, saya lantas pesan minuman. Ternyata Warteg Jie hanya menyediakan empat minuman lho, yaitu teh, kopi, jeruk, dan air mineral. Benar-benar ala warteg kan?

Menurut Ivonne jenis minuman tersebut sengaja dibatasi karena ia ingin berbagi dengan warga sekitar. Ya, dalam waktu dekat di depan kuliner Malang ini akan memiliki beberapa booth yang menjual aneka minuman. Jadi makannya di warteg, pesan minumannya booth depan.

Nama yang Sering Salah Disebut Ternyata Ada Maknanya

Warteg Jie. tampak depan (c) Suci Rahayu/Travelingyuk

Jika diperhatikan, nama warteg ini cukup unik. Setelah kata ‘Jie’ ada tanda titik. Ternyata hal tersebut memang disengaja dan punya makna tertentu. Saya menyadari ini usai berulang kali menyebut warung dengan sebutan ‘Warteg Jie’.

“Warung Jiedot bacanya,” tutur Ivonne kala itu.

Oh, ternyata tanda titik setelah ‘Jie’ juga ikut dibaca hehe. Lalu apa artinya Jiedot? Ternyata ini adalah nama panggilan suami Ivonne, yang bertanggung jawab mendesain warteg mereka hingga jadi seperti coffee shop.

Bagian Dalam warteg (c) Suci Rahayu/Travelingyuk

Ivonne juga menyebutkan kalau Ji memiliki arti bagus, bermakna ‘siji’ (Bahasa Jawa), sekaligus melambangkan harapan kalau warteg ini akan jadi nomor satu. Jika mengingat lokasi strategis, tempat nyaman, pemilik ramah, dan harga murah, saya rasa ini bakal bisa terwujud.

Itu dia pengalaman menyenangkan dan menyenangkan saya di Malang. Selesai mengisi perut di warung tegal ini, lantaran lokasinya dekat kawasan ramai, Teman Traveler bisa lanjut keliling wisata Malang seperti yang saya lakukan. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Tags
kontributor kuliner malang Malang Travelingyuk
Share