Tunggu Waktu Berbuka di Tamansari Jogja, Istana yang Menjelma Destinasi Wisata

Gallant Tsany A

Gallant Tsany A

On Indonesia
Tamansari Jogja Tamansari Jogja

Wisata apa yang tidak terlalu jauh dari Malioboro, alias sekitar pusat kota, tapi bagus? Pertanyaan seperti ini yang rata-rata disampaikan oleh wisatawan di Jogjakarta. Selain dekat dan mudah dijangkau, mereka biasanya juga mencari wisata Jogja yang Instagenic. Nah, jika sudah seperti itu maka jawaban yang tepat adalah Tamansari Jogja.

Gedhong Gapura Panggung (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Tamansari Jogja berada di tengah kota, tidak jauh dari Malioboro. Kompleks bangunan berarsitektur kuno ini sangat Instagenic. Tiket masuknya juga murah dan di dalamnya Teman Traveler akan menemukan banyak titik sarat sejarah.

Pemandian Istri Sultan

Tangga di balik gerbang masuk (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Teman Traveler mungkin ada yang pernah mendengar sedikit soal sejarah Tamansari. Kompleks bangunan megah ini konon dulunya digunakan sebagai pemandian istri-istri sultan. Ada juga yang mengatakan di sini Sultan akan melihat beberapa wanita mandi dan kemudian melemparkan bunga pada salah satu di antara mereka, sebagai perlambang bakal dinikahi.

Cerita-cerita tersebut tidak sepenuhnya benar, namun sepenuhnya salah. Tamansari Jogja memang sempat jadi pemandian serta tempat istirahat bagi para istri dan keluarga sultan lainnya. Namun kisah soal pelemparan bunga tersebut sama sekali tidak ada buktinya.

Awal Mula Pembangunan Tamansari

Salah Satu Gedhong Sekawan (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Tamansari bisa dibilang adalah sebuah proyek besar zaman dahulu. Kompleks ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I dan baru selesai pada saat tahta beralih ke Sultan Hamengkubuwono II.

Sosok yang bertanggung jawab atas desainnya adalah seorang arsitek Portugis bernama Demang Tegis. Tak heran jika beberapa sudut di kompleks Tamansari memiliki sentuhan gaya Eropa.

Dulunya Tamansari memiliki sebuah kebun berisi aneka tanaman buah, mengapit kanal yang menghubungkan antara dua pulau buatan – Pulo Gedhang di sisi timur dan Pulo Kenanga di sisi barat.

Dua struktur buatan tersebut masing-masing berdiri di atas segaran atau sebuah danau buatan yang dihubungkan dengan lorong khusus. Aliran airnya berasal dari Umbul Pacethokan, mata air yang berada tepat di bawah lokasi Tamansari. Bisa dibayangkan betapa megahnya kompleks bangunan ini dulu.

Masa Renovasi

Salah satu kolam pemandian (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Jogjakarta tercatat beberapa kali diguncang gempa. Salah satunya terjadi pada 1867 dan meruntuhkan sebagian besar bangunan Tamansari. Kejadian ini membuat kompleks Istana Air tersebut terbengkalai sehingga penduduk mulai membangun hunian di antara bekas kebun dan puing bangunan. Meski sempat direnovasi serius pada 1977, hanya sedikit bagian Tamansari yang bisa diselamatkan.

Gempa di 2006 lalu juga ikut memberi andil terhadap runtuhnya bangunan Tamansari Jogja. Revitalisasi kembali dikerjakan. Tak sedikit yang menyebutkan peperangan melawan penjajah ikut jadi salah satu penyebab rusaknya beberapa bagian bangunan.

Istana Menjelma Wisata

Penduduk sekitar membatik dan membuat Wayang (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Selain berfungsi sebagai tempat rekreasi keluarga Keraton, Tamansari juga menjadi tempat beribadah dengan adanya masjid bawah tanah atau Sumur Gumiling. Kawasan ini sekarang jadi salah satu titik paling ramai dikunjungi wisatawan.

Tak hanya itu, Tamansari juga memiliki tembok-tembok tebal dan lorong-lorong panjang untuk bersembunyi. Bisa difungsikan sebagai benteng untuk melindungi keluarga Keraton saat terjadi peperangan.

Salah satu lorong di kampung taman (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Namun itu semua kini hanya tinggal cerita lama. Luasnya istana, kebun kebun, atau danau-danau sudah tak nampak lagi wujudnya. Namun sisa-sisa kemegahan Tamansari masih bisa kita nikmati sebagai tempat wisata dengan banyak cerita.

Kampung Taman di sekitar kawasan Tamansari berkembang menjadi kampung sadar wisata dan budaya. Di wisata Jogja satu ini, Traveler bisa menemukan sederet perajin batik, sablon, serta pemahat. Semua ada untuk mendukung pariwisata dengan menjual karya mereka sebagai oleh-oleh.

Beberapa waktu lalu, Mark Zuckerberg pendiri Facebook juga sempat mengunjungi Kampung Taman yang dikenal sebagai Kampung Siber. Tamansari Jogja dengan sisa-sisa kemegahannya sangat siap menyambut kedatangan Teman Traveler sekalian.