Soto Kadipiro Jogja, Enaknya Konsisten Sejak 1924

erny kusumawaty

erny kusumawaty

On Indonesia
Suasana di Warung Soto Kadipiro Suasana di Warung Soto Kadipiro

Jogjakarta sudah lama kondang dengan tempat wisata asyik dan kuliner murah meriah. Meski sudah pernah berkunjung, kebanyakan orang seolah tak ada bosannya untuk kembali ke Kota Gudeg, terutama mereka yang ingin kulineran. Nah, salah satu yang bisa Teman Traveler coba adalah Soto Kadipiro.

Bangunan jadul Warung Soto Kadipuro (c) Erny Kusumawaty/Travelingyuk

Soto Kadipiro termasuk salah satu kuliner ngetop di Jogjakarta. Cita rasanya sudah melegenda di antara masyarakat Kota Pelajar. Penasaran? Yuk, simak pengalaman saya memanjakan lidah di sana Teman Traveler.

Sudah Ada Sejak 1924

Gambarnya saja sudah bikin ngiler ya (c) Erny Kusumawaty/Travelingyuk

Liburan ke Jogjakarta takkan lengkap jika belum cicipi Soto Kadipiro. Warna kuah panasnya khas, dipadati irisan daging ayam kampung empuk. Kuliner yang sudah lama akrab di telinga wisatawan dan masyarakat lokal ini sungguh lezat dan nikmat, wajib untuk dicoba.

Soto Kadipiro kini sudah membuka cabang di beberapa tempat. Tapi cabang pertamanya bisa Teman Traveler temukan di Jalan Wates no 33, Bantul. Termasuk salah satu yang tertua, lantaran buka sejak 1924. Tempatnya bisa dibilang sangat sederhana, lantaran hanya memanfaatkan ruang di sebuah rumah beranyam bambu.

Perintis Soto Kadipiro bernama Widadi Tahir Kartowijoyo. Dari tangan dinginnya, lahir racikan soto ayam kampung dengan cita rasa yang tersohor. Bumbunya meresap sempurna dalam daging, hingga terasa nikmat dan pas di lidah. Tak heran jika kedainya selalu dipadati pelangga.

Cukup Terjangkau Kantong

Tambah nikmat dengan lauk pelengkap (c) Erny Kusumawaty/Travelingyuk

Seporsi Soto Kadipiro disajikan dalam mangkuk ukuran sedang. Rasanya akan tambah nikmat jika disantap bersama lauk pelengkap seperti ati ampela, potongan ayam plus ceker, telur puyuh, tempe, maupun tahu. Harganya cukup murah Teman Traveler, sekitar Rp20.000 semangkuk. Terjangkau kan?

Diolah Secara Tradisional

Pemilik sibuk melayani pelanggan (c) Erny Kusumawaty/Travelingyuk

Pengolahan soto di sini masih menggunakan cara tradisional. Memanfaatkan tungku dalam pawon (dapur, Bahasa Jawa). Lantaran menggunakan bahan bakar kayu, aroma sotonya jadi lebih khas. Daging ayamnya juga kian lunak. Benar-benar njawani Teman Traveler.

Secara keseluruhan, warung soto ini terlihat jadul. Sekujur dindingnya dihiasi foto-foto pemilik awal beserta para generasi penerusnya. Hal itu seolah menggambarkan konsistensi rasa soto, yang tak pernah berubah sejak jaman dulu.

“Kami tetap menjaga cita rasa khas Soto Kadipiro,” tutur salah seorang karyawan yang sudah lama bekerja di sini.

Nah, untuk Teman Traveler yang sedang berwisata di Jogja, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi Soto Kadipiro ya. Rasanya benar-benar maknyus, dijamin tak bakal bikin menyesal.