Solo City Jazz 2019, Tampil Beda Lewat Fashion on The Street di Kampung Batik

Akhir September lalu, suasana Solo mendadak lebih ramai lewat hadirnya gelaran Solo City Jazz 2019. Ajang musik tahunan ini sudah memasuki edisi ke-10 dan terasa makin meriah tiap tahunnya. Satu hal yang menarik adalah untuk pembukaan digelar Fashion on the Street alias pagelaran busana di jalanan. Seperti apa menariknya? Yuk, simak ulasan berikut.

Bertempat di Kampung Batik

dscf0575_DCS.jpg
Kampung Batik Laweyan (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Solo City Jazz 2019 berlangsung sedikit berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya lantaran digelar di tiga tempat sekaligus. Dua tempat pertama adalah Kampung Batik Laweyan dan Kauman, kawasan berisi puluhan perajin batik Solo. Sementara lokasi terakhir yang juga sekaligus digunakan untuk menghelat acara puncak adalah Taman Balekambang.

dscf0449_CXP.jpg
Pembukaan Fashion on The Street (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Semua tempat tersebut dipilih bukan tanpa pertimbangan. Sama seperti sebelum-sebelumnya, penyelenggara Solo City Jazz selalu mengambil lokasi yang bisa dibilang merupakan landmark-nya Solo. Edisi 2018 silam digelar di Pasar Gedhe dan tahun sebelumnya lagi di Pasar Windujenar-Ngarsopuro.

Fashion Show Apik Karya Rory Wardana

dscf0564_Cid.jpg
Rory Wardana berfoto bersama para model (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Deretan karya desainer Rory Wardana menandai dibukanya pagelaran Fashion on The Street, yang sekaligus menandai dibukanya Solo City Jazz 2019. Jalanan di sekitar Kampung Batik Laweyan dan Kauman nampak makin meriah berkat karya-karya menawan dari sang perancang.

Rory sendiri merupakan desainer asli Solo yang mengawali karirnya sejak 1997. Di tahun yang sama, ia tercatat menyabet gelar Juara Harapan I di ajang Putra Batik Jawa Tengah. Seiring berjalannya waktu, ia makin mendalami kemampuan di bidang fashion & modeling, hingga kini menjadi salah satu desainer kenamaan Kota Batik.

Menampilkan 9 Karya Khas Nusantara

dscf0533_PSM.JPG
Para model mengenakan busana bernuansa etnik (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Dalam Fashion on The Street yang digelar di Kampung Batik Laweyan, Rory Wardana memamerkan total sembilan karya busana etnik yang terinspirasi dari kain tenun khas Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Papua. Warna-warna yang dipilih cukup mencolok, untuk menyesuaikan meriahnya suasana kampung batik.

dscf0554_sHK.jpg
Para model saat pagelaran busana (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Kampung Batik Kauman pun juga menggelar acara serupa. Di sini Rory memilih untuk tetap mengangkat wastra Nusantara dari berbagai daerah Indonesia. Sebut saja songket Palembang serta Padang, hingga tapis dari Lampung.

Makin Seru dengan Lantunan Perkusi

dscf0447_crk.jpg
Penampilan Piee Cee Project (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Demi menyegarkan suasana, Solo City Jazz kerap memberi kesempatan pada pemusik atau penampil lain yang sebenarnya tidak fokus sepenuhnya pada aliran jazz. Hal ini kerap jadi daya tarik tersendiri, melihat bagaimana para musisi tersebut memberikan interpretasi pada musik jazz.

Dalam pagelaran tahun ini, keunikan tersebut diwakili oleh Piee Cee Project, sebuah grup perkusi yang mengiringi jalannya acara Fashion on The Street. Mereka berhasil tampil memukau hingga mengundang decak kagum para jurnalis dan warga Solo yang menghadiri acara.

dscf0484_dFa.jpg
Penampilan yang mengundang decak kagum (c) Nurlaili S/Travelingyuk
dscf0496_gOD.jpg
Kerumuman pengunjung menyaksikan acara (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Itulah sedikit bahasan mengenai meriahnya Fashion on The Street, cara unik untuk membuka gelaran Solo City Jazz 2019. Buat Teman Traveler yang melewatkan event ini, jangan khawatir. Perhelatan akbar ini rutin digelar tiap tahun di Kota Batik. Jadi mulai sekarang, susun rencana liburan ke Solo dan jangan lupa hadiri acara ini tahun depan ya.

Tags
kontributor Solo Travelingyuk Wisata Solo
Share