Raito Resto Bogor, Ramen Lezat Harga Mahasiswa

Jika sedang bertandang ke Bogor, saya biasanya mengincar kuliner soto mie atau mie ayam enak. Dua sajian ini seakan tak pernah bikin saya bosan. Namun, kali ini tiba-tiba saja saya pengin menjajal ramen, sajian mie ala Jepang. Pilihan pun akhirnya jatuh pada Raito Resto.

img_20190824_143145_NL4.jpg
Antre untuk pesan makanan (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Dari sekian tempat makan ramen di Bogor, Raito Resto memang sering direkomendasikan oleh orang-orang terdekat. Kabarnya, sajian ramen di sini spesial dan rasanya bikin nagih. Oke, untuk menjawab rasa penasaran, yuk bareng-bareng buktikan kebenarannya ya, Teman Traveler.

Bangunan Raito Resto

img_20190824_155311_yNl.jpg
Banner restoran (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Setelah saya search lokasinya di aplikasi Maps, restoran ini ternyata berada tak jauh dari Stasiun Bogor, jaraknya hanya sekitar 3,5 kilometer. Bisa dibilang sangat strategis karena dekat juga dengan exit Tol Jagorawi dan berada di pinggiran jalan besar.

Lantaran sajikan menu ala Jepang, awalnya saya pikir interior resto ini bakal kental dengan ornamen khas Negeri Matahari Terbit. Mulai dari noren, edo furin, atau lentera chochin. Namun ternyata dugaan saya salah, Teman Traveler.

img_20190824_155226_9pS.jpg
Deretan meja pengunjung (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Beralamat di Jalan Pakuan No.38 Tegallega, Bogor Tengah, Raito ternyata sama sekali tidak berada di tepi jalan raya utama, melainkan menempati salah satu jalan kecil di sebelah Universitas Pakuan. Meski begitu, alamatnya mudah ditemukan kok. Teman Traveler tak perlu takut nyasar.

img_20190824_153658_LI9.jpg
Tempat order makanan dan minuman (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Atmosfer ala Jepang yang saya bayangkan sebelumnya juga sama sekali tak nampak dari tiap sudut bangunannya. Setelah melihat-lihat di dalam, saya bisa simpulkan bahwa resto ini dulunya adalah sebuah rumah hunian yang kemudian disulap menjadi rumah makan.

Eits, tapi jangan kecewa dulu. Bangunan resto ini bisa dibilang cukup besar dan luas, terdiri dari dua lantai. Meski tanpa penyejuk ruangan, udara di dalamnya cukup sejuk lantaran langit-langit bangunannya lumayan tinggi.

Aneka Menu yang Ditawarkan

img_20190824_144539_cyA.jpg
Menu yang saya pesan (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Kalau boleh jujur, saya sebetulnya bukan fanatik makanan Jepang. Jenis sajian Negeri Sakura yang paling saya paham hanyalah ramen dan sushi. Jadi saat datang ke Raito, selain ramen saya hanya tertarik untuk memesan sushi. Pilihan akhirnya dijatuhkan pada Chasiu Ramen, Godzilla Tomyum Ramen, Ebi Tempura Roll, dan Ultraman Roll.

Sebenarnya masih ada banyak pilihan menu menarik yang bisa Teman Traveler pesan di sini. Sebut saja aneka hotplate, nasi, takoyaki, okonomiyaki, dan kakigori.

Harga Mahasiswa

img_20190824_144439_GCh.jpg
Kuah tomyum yang tampak menggoda (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Inilah salah satu yang bikin saya tertarik mencoba kulineran di Raito. Harga yang ditawarkan sangat ramah kantong, cocok untuk kalangan mahasiswa. Mungkin karena lokasinya dekat Universitas Pakuan dan target market-nya adalah para murid perguruan tinggi, jadinya menu-menu di sini tidak terlalu mahal.

img_20190824_143210_FN3.jpg
Perut kenyang, kantong senang (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Dari daftar menu yang terpajang, harga makanan dan minuman di sini berkisar antara Rp10.000-Rp40.000 saja. Teman Traveler bisa makan sampai perut kenyang tanpa takut menguras isi kantong. Saya sendiri hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp100.000 untuk bersantap di sini, itu pun sudah nambah ocha dan lemon tea.

Soal Rasa? Tidak Mengecewakan!

img_20190824_144430_9Wa.jpg
Chasiu Ramen dengan kuah tori garlic onion (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Begitu dua pesanan ramen hadir di depan mata, tampilannya cukup menggugah selera makan. Chasiu Ramen dilengkapi isian ayam panggang dan kuah kare, sementara Godzilla Tomyum Ramen hadir bersama udang, potongan cumi, dan beberapa topping. Buru-buru saya seruput kuah dan mengunyah helaian ramennya. Hasilnya? Istimewa banget. Rasanya benar-benar tidak mengecewakan.

img_20190824_144811_1_YYK.jpg
Ebi tempura roll (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Begitu pula dengan sushi yang saya pesan. Meski ukurannya mini sesuai harganya, rasanya enak. Dua porsi sushi dijamin sudah cukup untuk mengenyangkan perut kalian.

img_20190824_144921_Rsg.jpg
Ramen-nya spesial (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Salah satu keiistimewaan Raito Resto adalah ramen yang disajikan merupakan homemade alias buatan sendiri. Bahan bakunya berupa gandum berprotein tinggi dan diolah tanpa bahan pengawet. Hmm, pantas saja rasanya senikmat ini.

Hanya Menerima Pembayaran Tunai

img_20190824_153938_UJ0.jpg
Cuma bisa bayar cash (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Satu hal yang harus Teman Traveler persiapkan saat kulineran di sini adalah uang tunai. Pasalnya, Raito hanya menerima pembayaran secara cash. Hal ini awalnya cukup bikin saya panik. Untungnya ada ATM di sekitar Universitas Pakuan, jadi saya bisa tarik dana dulu di sekitar sana.

Nah, itulah tadi pengalaman saya berburu ramen di Raito Resto Bogor. Dengan segala plus minus-nya, saya tetap merekomendasikan Teman Traveler untuk bersantap di sini. Cita rasanya memang nggak bikin kecewa sih. Bagaimana, langsung ingin coba sendiri, kan?

Tags
Bogor kontributor kuliner bogor raito resto bogor Travelingyuk
Share