Uniknya Puja Mandala, Wujud Toleransi Antar Umat Beragama di Bali

Bali dikenal dengan julukan Pulau Seribu Pura, perlambang mayoritas penduduknya yang merupakan penganut Hindu. Namun ternyata toleransi antar umat beragama di Pulau Dewata pantas diacungi jempol. Di kawasan Puja Mandala, Teman Traveler bisa menemukan objek wisata di Bali yang merupakan sebuah tempat ibadah dari kepercayaan berbeda berdampingan dengan damai.

Vihara Buddha Guna di kawasan Puja Mandala (c) Rosita/Travelingyuk

Dalam Bahasa Sansekerta, Puja berarti penyembahan dan Mandala berarti lingkaran. Lantas bagaimana asalnya hingga bisa ada lima tempat ibadah dari kepercayaan berbeda berdampingan di tempat ini? Yuk, simak bersama ulasannya.

Terletak di Kawasan Nusa Dua

Masjid Ibnu Batutah (c) Rosita/Travelingyuk

Puja Mandala menjadi perlambang kokohnya toleransi antar umat beragama di Bali. Lima tempat ibadah, masing-masing dari aliran kepercayaan berbeda, saling berdampingan di sini. Teman Traveler bisa menemukan kompleks seluas 2 hektar ini di kawasan Nusa Dua, Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Terdapat tempat ibadah umat Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Hindu dalam satu kawasan. Pembangunan semua tempat peribadatan tersebut dilakukan secara bertahap.

Letaknya sangat strategis, dengan lahan parkir cukup luas. Sepeda motor, mobil, bahkan bus sekalipun, bisa mengantar Teman Traveler menuju Puja Mandala. Lokasinya berada di jalan utama yang mengarah ke beberapa objek wisata di kawasan Nusa Dua. Sangat memudahkan bagi pelancong yang hendak mencari tempat ibadah.

Lima Tempat Ibadah Sekaligus

Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa (c) Rosita/Travelingyuk

Keberadaan Puja Mandala bisa dibilang merupakan salah satu bukti tingginya toleransi antar umat beragama di Bali. Cukup luar biasa, mengingat mayoritas penduduk Pulau Dewata menganut agama Hindhu. Di kawasan ini, tempat ibadah lima agama berdiri kokoh dan saling berdampingan. Tak heran jika kawasan ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Banyak yang ingin beribadah di tempat istimewa ini.

Lahan yang digunakan kawasan Puja Mandala berasal dari BTDC (Bali Tourism Development Corporation), kini bernama ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation). Proses pembangunan dimulai sejak 1994. Masjid Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, dan Gereja Kristen Bukit Doa disahkan pada 1997. Diikuti Vihara Buddha Guna pada 2003 dan terakhir Pura Jagat Natha pada 2005. 

Masjid, Gereja, Vihara dan Pura

Pura Jagat Natha (c) Rosita/Travelingyuk

Masjid Ibnu Batutah memiliki atap tumpang susun layaknya bangunan ala Jawa. Letaknya bersebelahan dengan Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, tempat ibadah yang pertama berdiri di kawasan ini. Selanjutnya ada Gereja Kristen Bukit Doa dengan menara lonceng dan beberapa anak tangga unik.

Vihara Buddha Guna nampak megah dengan ornamen putih dan keemasan. Di bagian depannya terdapat sepasang patung gajah putih. Selanjutnya ada bangunan terakhir yaitu Pura Jagat Natha. Meski di Bali sudah terdapat banyak pura, bangunan ibadah ini masih memiliki daya tarik tersendiri.  

Gereja Kristen Bukit Doa (c) Rosita/Travelingyuk

Itulah sekilas ulasan mengenai Puja Mandala, kawasan yang encerminkan tingginya tolerasi antar umat beragama di Bali. Yuk, segera realisasikan liburan kalian dan jangan lupa mengunjungi daerah ini. Selamat berlibur Teman Traveler.

Tags
Bali Indonesia kontributor Travelingyuk wisata bali
Share