Pisang Goreng Tanduk Mpo Nur, Ukuran Jumbo Rasa Perfecto

Setiap naik Kereta Listrik (KRL), saya jarang turun di Stasiun Manggarai. Lebih sering berhenti di Stasiun Bogor, Gondangdia, atau Juanda. Namun, sepulang jalan-jalan di sekitar Monas tempo hari, mendadak saya sangat ingin mampir. Kala itu saya penasaran dengan Pisang Goreng Tanduk Mpo Nur yang konon sangat hits.

img_20190827_144159_lJn.jpg
Warung sederhana Mpo’ Nur (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Teman Traveler mungkin bertanya-tanya, cuma pisang goreng saja kok bisa nge-hits? Eits, jangan underestimated dulu. Pisang Goreng Tanduk Mpo Nur memang sedikit berbeda dan spesial dibanding kuliner sejenis. Daripada penasaran, langsung saja yuk simak cerita saya selengkapnya.

Gunakan Pisang Tanduk

img_20190827_143933_V3H.jpg
Juru masak Mpo’ Nur (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Teman Traveler pasti doyan jajan pisang goreng kan? Camilan sederhana ini umumnya dibuat menggunakan pisang kepok atau uli. Namun di Warung Mpo’ Nur justru beda karena menggunakan pisang tanduk. Jelas saja rasa dan bentuknya jadi unik.

img_20190827_144031_tMJ.jpg
Menunggu pisang digoreng (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Menurut cerita salah seorang pegawainya, Mpo Nur mulanya juga menjual pisang goreng dengan pisang uli sebagai bahan utama. Namun suatu ketika pemasoknya sedang kehabisan stok dan menawarkan pisang tanduk sebagai gantinya, bahkan konon kala itu sedikit ‘memaksa’.

Sang penjual pisang ngotot sekarang sudah nggak zaman jualan pisang goreng berukuran kecil. Berdasarkan masukan tersebut, Mpo Nur lantas berjualan pisang goreng tanduk dan terus bertahan hingga kini. Tak hanya itu, ia juga sudah punya ratusan pembeli setia.

Hanya Gunakan Pisang Tanduk Matang

img_20190827_143628_Oc7.jpg
Pisang tanduknya bikin salah fokus (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Ketika datang ke sini, Teman Traveler bakal dibuat takjub dengan pemandangan pisang tanduk yang digantung di langit-langit warung. Jumlahnya mungkin mencapai puluhan atau bahkan ratusan. Mpo’ Nur konon kekeuh hanya ingin menggunakan pisang tanduk matang untuk bahan jualannya. Tak hanya itu, semua pisang didatangkan langsung dua kali seminggu dari Sukabumi.

Tingkat kematangan pisang jadi kunci nikmatnya dagangan pisang goreng ala Mpo’ Nur. Sebab jika pisang belum matang, hasilnya akan terasa sepat alih-alih manis dan legit. Ia bahkan lebih memilih tidak berjualan sementara waktu jika stok pisangnya belum matang sempurna. Menurunkan kualitas dagangan dan membuat pelanggan kecewa adalah dua hal yang paling dihindari sang pemilik.

Resep Menggoreng

img_20190827_143604_reG.jpg
Pegawai sedang membelah pisang (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Saat berkunjung ke sini, saya lihat seorang pegawai Mpo Nur bertugas mengupas pisang tanduk dan membelahnya jadi dua, alih-alih dipotong kecil-kecil. Jadi bisa dibayangkan ya gimana ukuran pisang gorengnya. Sementara itu, dua pegawai lain kelihatan sibuk menggoreng pisang yang sudah dibaluri tepung. Satu pegawai sisanya bertugas melayani para pembeli.

img_20190827_144037_DGm.jpg
Proses penggorengan (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Dengan konsep open kitchen begini, Teman Traveler bisa melongok langsung proses menggoreng pisang di sini. Mpo Nur’ menggunakan tiga wajan ukuran besar dengan minyak nyaris penuh. Pisang tanduk yang sudah dicampur adonan tepung terigu dan tepung beras lantas mengalami dua kali proses penggorengan. Inilah salah satu rahasia yang membuat pisang goreng di sini terasa matang sempurna dan miliki warna coklat keemasan.

Ukuran Jumbo, Rasa Perfecto

img_20190827_164047_kVv.jpg
Tampak menggoda (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Melihat pisang goreng berukuran besar dan panjang, saya langsung jadi penasaran soal rasanya. Meski masih mengepul usai digoreng, saya coba gigit sedikit sambil menahan panas di lidah. Sejak kunyahan pertama, langsung terasa bahwa pisang goreng di sini memang spesial. Teksturnya renyah banget, kriuk-kriuk saat digigit. Pisangnya terlihat berwarna kuning dengan rasa manis dan legit.

img_20190827_143816_sO8.jpg
Tiga ribu rupiah per biji (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Hmm, kalau begini sih memang asli nendang banget rasanya! Pisang goreng ukuran jumbo dengan rasa perfecto. Dibanderol seharga Rp3.000, Teman Traveler dilarang hanya beli dua biji karena pasti bakal kurang. Percaya deh. Mumpung lagi di Manggarai, kemarin saja saya borong sampai 15 biji lho.

Omzet Hingga Puluhan Juta Per Hari

img_20190827_144004_64U.jpg
Salah satu pembeli yang sedang antre (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Saking larisnya pisang goreng tanduk Mpo Nur, Teman Traveler penasaran nggak sih dengan berapa omzetnya per hari? Kabarnya, warung sederhana ini bisa menjual 2.000-2.500 pisang per hari. Kalau satu pisang dibelah dua, maka 2.000-2.500 pisang dikalikan dua, lalu dikalikan lagi dengan Rp3.000. Wah, nominal omzet per harinya bisa lebih dari Rp12 juta!

Nah, itulah tadi pengalaman saya berburu pisang goreng Mpo Nur. Kalau Teman Traveler sedang menjelajah wisata Jakarta, sempatkan datang ke warungnya di Jalan Manggarai Utara II No.6, sekitar 100 meter dari Stasiun Manggarai. Jam bukanya dua kali dalam sehari, yaitu 05.30-10.00 dan 14.00-20.00. Sedangkan hari Minggu tutup. Jangan sampai terlewat ya.

Tags
Jakarta kontributor kuliner jakarta Travelingyuk
Share