4 Kuliner Jogja dengan Penjual Mbah-mbah, Masih Laris dengan Rasanya yang Juara

Umur boleh tua, tapi semangatnya masih membara. Kalimat tersebut sepertinya pantas untuk kita sematkan pada sosok-sosok berikut ini. Di usianya yang tak lagi muda, para ‘Mbah-Mbah’ ini masih setia menjajakan kuliner Jogja untuk para pelanggannya. Seperti tak kenal rasa lelah, mereka tetap menyajikan hidangan dengan rasa yang tetap istimewa. Siapa sajakah mereka dan apa kuliner andalannya? Berikut ulasan dari Kontributor Travelingyuk, Annissa Saputri

Gudeg Mbah Pujo

Gudeg Mbah Pujo (Annissa Saputri)
Gudeg Mbah Pujo (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Mendapat julukan sebagai Kota Gudeg, sudah pasti kuliner Jogja ini sangat dengan mudah ditemui. Salah satu penjual gudeg yang wajib Teman Traveler sambangi adalah Mbah Pujo. Sosok pembuat gudeg ini sudah berjualan selama 30 tahun sejak tahun 1988. Di usianya yang sudah menginjak 76 tahun, Mbah Pujo masih semangat menyajikan kuliner khas Jogja ini kepada masyarakat.

Gudeg ala Mbah Pujo (Annissa Saputri)
Gudeg ala Mbah Pujo (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Beralamat di Jalan Selokan Mataram, Soropadan, Condongcatur, Depok, Sleman, Mbah Pujo membuka lapaknya dari pukul 05.00 WIB dengan meja dan bangku yang sederhana. Gudeg disajikan dengan menu pelengkap seperti ayam, tahu, telur, dan sambal krecek. Selain nasi, beliau juga menyediakan bubur yang cepat sekali habisnya. Untuk satu porsinya, harga yang ditawarkan sangat terjangkau yakni mulai Rp5.000. Nah, karena lapak Mbah Pujo hadir di pagi hari, gudeg simbah ini cocok dijadikan andalan untuk sarapan.

Tape Keliling ‘Mbah Sugeng’

Tape keliling Mbah Sugeng (Annissa Saputri)
Tape keliling Mbah Sugeng (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Di Jogja ada tape keliling yang sudah dikenal oleh banyak orang, bahkan memiliki banyak pelanggan. Penjualnya bernama Mbah Sugeng, penjual tape legendaris dengan cara berkeliling seputaran Jogja bersama sepeda onthel-nya. Kakek berusia 60 tahun lebih ini, berangkat dari rumahnya yang beralamat di Piyungan dengan mengayuh sepeda ke daerah seputaran Sleman bahkan hingga kota Jogja.

Tape singkong dan ketan Mbah Sugeng (Annissa Saputri)
Tape singkong dan ketan Mbah Sugeng (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Mbah Sugeng sudah berjualan tape selama 30 tahun lebih. Ada dua jenis tape yang dijajakan yakni singkong dan ketan. Dengan slogan ‘Jual Tape Enak’, hidangan yang dijualnya memang terkenal enak dan manis. Tekstur tape singkongnya lembut dan legit dengan harga mulai Rp5.000. Sedangkan ketannya pulen yang dihargai Rp1.000 per bungkus.

Jangan lupa dilarisi ya! (Annissa Saputri)
Jangan lupa dilarisi ya! (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Lupis Mbah Satinem

Mbah Satinem meracik lupis (Annissa Saputri)
Mbah Satinem meracik lupis (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Salah satu kuliner tradisional yang tak lekang oleh waktu, yaitu lupis. Jajanan tradisional ini masih bisa ditemukan di pasar tradisional. Nah, di trotoar Pertigaan Jalan Bumijo – Jalan Diponegoro, juga bisa menemukan Lupis Mbah Satinem yang sudah populer di Jogja. Meski usianya sudah menginjak 73 tahun, tapi beliau tetap semangat untuk melestarikan panganan tradisional.

Lupisnya yang nikmat (Annissa Saputri)
Lupisnya yang nikmat (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Dengan resep yang diperoleh dari Sang Ibu, Mbah Satinem sudah mulai menjajakan lupisnya sejak tahun 1963. Selain lupis, simbah juga menyediakan panganan seperti cenil, thiwul, dan gatot yang tak kalah enak. Mbah Satinem membuka lapaknya mulai pukul 06.00 WIB hingga dagangannya habis, namun terkadang pukul 08.00 sudah ludes. Tak mematok harga yang mahal, cukup Rp5.000 sudah bisa mendapatkan seporsi lupis legit dengan parutan kelapa gurih. Tak lupa dengan saus gula jawa yang manis.

Es Cemoro Tunggal Pak Jumadi

Es Cemoro Tunggal Pak Jumadi (Annissa Saputri)
Es Cemoro Tunggal Pak Jumadi, Kuliner Jogja yang tak boleh terlewatkan (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Di saat cuaca panas, minuman es yang menyegarkan adalah pilihan terbaik. Dan salah satu es legendaris di Jogja adalah Es Cemoro Tunggal Pak Jumadi yang hadir sejak tahun 1977. Awalnya beliau berjualan dengan cara berkeliling. Dan di tahun 80-an hingga 2010 berjualan menetap di dekat Sekolah Vokasi UGM. Dari situlah warungnya diberi nama Es Cemoro Tunggal.

Esnya yang segar dan nikmat (Annissa Saputri)
Esnya yang segar dan nikmat (c)Annissa Saputri/Travelingyuk

Namun sejak ada penertiban, warung ini berpindah ke Jalan Sendowo, Senolowo, Sinduadi, Mlati, Sleman, yang tak jauh juga dari lapak awalnya. Di usianya yang sudah tak muda lagi, Pak Jumadi masih semangat menyajikan cita rasa es buatannya yang terkenal nikmat dengan porsi banyak.

Selain sop buahnya dengan isian super lengkap, beliau juga menawarkan es doger, es teler, es buah, es kelapa muda, dan masih banyak lagi. Sementara harga es campur dibanderol Rp8.000. Sedangkan es teler dan sop buahnya dihargai Rp9.000. Untuk bisa menikmati kesegaran Es Cemoro Tunggal, kita bisa datang ke warungnya pada pukul 11.00-17.00 WIB.

Umur mereka boleh tua, tapi rasa kuliner Jogja yang dijajakan masih tetap juara. Bahkan semangat yang mereka miliki patut kita apresiasi. Jika ke Kota Gudeg, jangan lupa mampir untuk bertemu beliau-beliau dan dilarisi dagangannya ya. Selamat berburu kuliner!

Tags
Indonesia Jogja kuliner Jogja Sleman Travelingyuk Yogyakarta
Share