Pasar Papringan Temanggung, Yuk Belanja Sambil Nostalgia

Di antara lebatnya hutan bambu pedesaan Temanggung di Jawa Tengah, Pasar Papringan hadir setiap hari Minggu Pon dan Minggu Wage, mengajak lintas generasi untuk merasakan kembali suasana masa lalu dalam berbagai bentuk dan citarasa kuliner tradisional.

Bagaimana rasanya belanja kue-kue tradisional dengan alat tukar sekeping bambu? Seperti apa lezatnya jajanan ndeso yang sudah jarang kita temukan seperti lento, tiwul, kemplang, dan sawut? Semua ada di Pasar Papringan.

Pasar Papringan digelar tiap hari Minggu Pon dan Wage di Temanggung, Jawa Tengah
Suasana pusat pasar Papringan (c) Zulfikar Aleksandri / Travelingyuk

Lokasi Pasar

Pasar Papringan berlokasi di Desa Ngadiprono, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Lokasinya yang berada di pelosok desa dan di tengah hutan bambu, tidak menyurutkan antusiasme pengunjung yang datang. Wisatawan pun tak hanya dari Temanggung dan sekitarnya, tetapi juga dari kota-kota lain di Jawa Tengah dan luar provinsi.

Kepingan bambu atau pring yang jadi alat tukar di Pasar Papringan
Kartu parkiran pasar Papringan (c) Zulfikar Aleksandri / Travelingyuk

Meski berada di tengah kampung, area parkir menuju kawasan pasar ini sudah terorganisir dengan baik. Mobil dan motor pengunjung diparkir di beberapa halaman rumah warga yang memang disiapkan untuk Pasar Papringan. Warga pun dengan senyum ramah khas Jawa Tengah menunjukkan arah jalan menuju pintu masuk pasar.

Peraturan Pengungjung

Selain kuliner tradisional, juga tersedia berbagai hasil kebun dan pertanian
Penjual sayur di pasar Papringan (c) Zulfikar Aleksandri / Travelingyuk

Pasar ini mengambil lokasi di tengah hutan bambu yang dulunya dibiarkan begitu saja, bahkan tak diurus dan dipakai untuk membuang sampah. Kini lahan yang dulu terbengkalai, disulap menjadi lokasi pasar wisata yang dikunjungi ratusan orang tiap dua minggu dalam sebulan.

Uniknya lagi, semua transaksi di pasar ini sifatnya cashless. Pengunjung harus menukar uangnya dengan kepingan bambu atau pring. Harga jajanan dan makanan di pasar ini sangat terjangkau, mulai dari satu pring sampai lima pring saja.

Fasilitas Pasar Suasana ‘Ndeso’

Suasana di salah satu sudut Pasar Papringan
Kulineran di Papringan (c) Zulfikar Aleksandri / Travelingyuk

Papringan tak hanya menyajikan kuliner tradisional, tapi juga kerajinan tangan dari bambu, misalnya keranjang dan tampah. Pasar ini juga dilengkapi area untuk merokok, toilet, tempat menyusui, wastafel, dan arena permainan tradisional seperti ayunan dan egrang.

Jajanan di sini sepenuhnya memanfaatkan komoditas dari desa setempat, seperti jagung, singkong, dan umbi-umbian, serta dimasak tanpa pengawet atau pemanis buatan. Uniknya, semua makanan disajikan dengan wadah piring dari bambu dan daun, tanpa penggunaan plastik. Ide yang brilian untuk mengedukasi masyarakat dan pengunjung, khususnya generasi muda untuk meminimalkan penggunaan plastik.

Nostalgia Kuliner

sego abang (c) Zulfikar Aleksandri / Travelingyuk

Jajanan ndeso yang mulai jarang kita temui sangat banyak ragamnya di sini, seperti lento, tiwul, kemplang, ndas borok, langgeng, gemblung gurih, gemblong klomot, bajingan kimpul, bajingan singkong, dawet ireng, jenang, combro, srowol, jadah bakar, yangko, rondo kenul, sawut nanas, jenang lot, susuk kedele, wedang tape, dawet ayu, sop buah.

Sejumlah makanan khas pedesaan yang disajikan cocok untuk sarapan di hari Minggu pagi, antara lain soto ayam kampung, lesah ayam, sego jagung kuning, rujak lutis lotek, gule ayam kampung, sego abang, bubur kampung, gule ayam kampung, dan lontong mangut. Masih banyak aneka makanan lain yang dapat dinikmati.

Karena tidak diadakan tiap pekan, tak heran bila Pasar Papringan selalu menjadi daya tarik wisatawan, terutama mereka yang ingin bernostalgia dengan suasana dan jajanan tempo dulu yang dikemas secara kreatif dan modern. Bagaimana, sudah siap rencanakan untuk weekend ini?

Tags
jogja kuliner kuliner Jogja Kuliner khas Jogja kuliner lawas makanan khas jogja pasar papringan wisata jogja
Share