Museum Tsunami Aceh, Mengenang Bencana dalam Sebuah Mahakarya

Sudah hampir 15 tahun berlalu sejak Tsunami Aceh terjadi. Boleh dibilang masyarakat Serambi Mekkah kini sudah bisa move on dari kejadian tersebut. Namun bukan berarti bencana memilukan itu dilupakan begitu saja. Salah satu buktinya adalah Museum Tsunami Aceh yang berdiri pada 2009 silam.

Kapal PLTD Apung, salah satu bukti kedahsyatan tsunami (c) Arief Kurniawan/Travelingyuk

Dibangun sebagai sumber pengetahuan dan sarana belajar bagi generasi penerus, Museum Tsunami termasuk salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi di Banda Aceh. Banyak turis lokal dan asing datang ke sini untuk mengetahui lebih dalam soal bencama memilukan yang pernah meluluhlantakkan Aceh.

Mudah Dijangkau

Papan nama Museum Tsunami (c) Arief Kurniawan/Travelingyuk

Museum ini berada di pusat kota Banda Aceh dan dirancang sebagai monumen untuk mengenang bencana gempa bumi dan gelombang
tsunami dahsyat yang menerjang Aceh pada 2004 silam. Tempat ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan bencana dan tempat perlindungan darurat andaikata tsunami kembali menghantam Serambi Mekkah.

Museum Tsunami beralamat di Jalan Sukaramai, Baiturrahman, Banda Aceh. Lokasinya tak terlalu jauh dari Mesjid Raya Baiturrahman. Menuju sini juga bukan hal sulit. Teman Traveler bisa menggunakan transportasi online dari pusat kota. Tarif juga takkan membuat kantong bolong.

Desain Filosofis

Ornamen Tari Saman (c) Arief Kurniawan/Travelingyuk

Mungkin tak banyak tahu bahwa wisata Aceh ini dirancang oleh Ridwan Kamil. Sebelum menjadi pejabat publik, ia merupakan seorang arsitek yang sudah menelurkan deretan karya terkenal. Untuk Museum Tsunami, pria yang kini memimpin Jawa Barat tersebut memadukan konsep rumah adat
tradisional Aceh, nilai-nilai keislaman, dan penggambaran suasana tsunami.

Melewati lorong gelap (c) Arief Kurniawan/Travelingyuk

Museum Tsunami terdiri dari empat lantai, dengan luas keseluruhan mencapai 2.500 meter persegi. Dinding lengkungnya dihiasi relief geometris. Ketika menjelajah di dalamnya, pengunjung akan diajak melewati lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air tinggi. Tujuannya untuk menggambarkan suasana dan kepanikan saat Tsunami Aceh 2004.

Sekujur dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, melambangkan kekuatan, kedisiplinan, dan sisi religius Suku Aceh. Jika dilihat dari atas, atap museum memiliki bentuk menyerupai gelombang laut. Sementara lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Ruangan Berisi Nama Korban

Nama-nama korban Tsunami Aceh (c) Arief Kurniawan/Travelingyuk

Bagian paling menyentuh dari seluruh museum adalah ruangan khusus berhiaskan ukiran nama-nama korban Tsunami Aceh. Hampir seluruh
korban jiwa yang dapat teridentifikasi dicantumkan namanya di sini.

Sumur doa (c) Arief Kurniawan/Travelingyuk

Ruangan ini dinamakan Space of Sorrow atau Sumur Doa. Desainnya mirip cerobong asap, dengan tulisan Allah di bagian atasnya. Bagi pengunjung yang orang-orang terdekatnya jadi korban gempa dan tsunami Aceh pada 2004 silam, berada di ruangan ini bisa jadi bakal membuat mereka sedikit emosional.

Edukasi Bencana

Deretan foto-foto di Museum Tsunami (c) Arief Kurniawan/Travelingyuk

Museum Tsunami tak sekedar bermanfaat bagi pengembangan pariwisata Aceh, namun juga untuk mengedukasi warga Serambi Mekkah agar tanggap bencana. Bangunan museum juga bisa dijadikan tempat perlindungan jika di masa mendatang kembali terjadi bencana serupa. Meski tentunya hal tersebut sangat tidak diharapkan.

Deretan bendera negara yang berpartisipasi membangun Aceh pasca tsunami (c) Arief Kurniawan/Travelingyuk

Itulah sekilas ulasan mengenai Museum Tsunami Aceh. Tak sekedar jalan-jalan, Teman Traveler bisa ikut mengenang pedihnya tragedi yang pernah menghantam Serambi Mekkah dan mendapat pengetahuan baru tentang pentingnya tanggap bencana.

Tags
Aceh kontributor Travelingyuk wisata aceh
Share