Museum Brawijaya Malang, Potret Perjuangan era ’45

Museum Brawijaya adalah salah satu museum tertua dan paling ikonik di Malang. Berada Jalan Ijen No. 25A, Klojen, bangunan ini menyimpan koleksi benda sejarah yang jadi saksi masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. .

Kendati tak sepopuler Museum Angkut atau museum hits lainnya di Malang, destinasi ini cukup menarik untuk disambangi jika Teman Traveler sedang berada di Kota Bunga. Nah, agar Teman Traveler bisa tahu lebih banyak Museum Brawijaya sebelum berangkat, yuk baca ulasan saya berikut ini.

Diresmikan pada 1968

Peta Nusantara (c) Karina Puspita Sari/Travelingyuk

Dibangun di atas lahan seluas 10.500 meter persegi, Museum Brawijaya dibangun hanya dalam waktu sekitar satu tahun. Cukup singkat memang, namun hal tersebut tak lantas membuat koleksi di dalamnya tak berkualitas. Adapun pencetus berdirinya museum ini adalah Brigjend TNI (Purn) Soerachman.

Peta Malang zaman dulu (c) Karina Puspita Sari/Travelingyuk

Desain bangunan museum sendiri merupakan karya Kaptern Czi Ir.
Soemadi, yang kemudian diwujudkan dengan pembiayaan dari pemerintah kotamadya dan sumbangan Martha, seorang pemilik hotel di wilayah Pandaan.

Semangat kemerdekaan yang menyala (c) Karina Puspita Sari/Travelingyuk

Nama Museum Brawijaya disematkan lewat keputusan Pangdam VIII/Brawijaya. Tak hanya itu, museum ini juga mendapat wejangan serta pengharapan atas khusus dari Sang Panglima, yang berbunyi ‘Citra Uthapana Cakra’. Jika diartikan kurang lebih ‘sinar yang membangkitkan semangat atau kekuatan’.

Dengan ucapan tersebut, museum diharapkan bisa jadi panggon rekreasi
yang inspiratif, menjadi media penelitian, serta media pendidikan yang berkaitan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Hmm, menarik juga ya Teman Traveler.

Koleksi Revolusi 1945

Koleksi tank di halaman depan (c) Karina Puspita Sari/Travelingyuk

Koleksi Museum Brawijaya didominasi benda-benda dari masa perjuangan kemerdekaan 1945. Di halaman depan Teman Traveler akan menyaksikan tank Jepang hasil rampasan arek-arek Suroboyo pada peristiwa 10 November 1945. Selain itu masih ada tank Amfibi AM Track Belanda yang merenggut nyawa 35 pasukan TRIP, serta senjata Pompom Double Loop
yang dulu direbut pemuda BKR.

Koleksi senjata hasil rampasan (c) Karina Puspita Sari/Travelingyuk

Tak cuma berhenti sampai situ, koleksi Museum Brawijaya juga merambah hingga relief kekuasaan Majapahit, senjata hasil rampasan, serta beragam atribut pasca kemerdekaan. Dijamin bakal mengundang decak kagum siapapun yang punya minat besar terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Detail Ruangan dan Pembagian Lokasi

Kliping koran sebagai dokumentasi sejarah (c) Karina Puspita Sari/Travelingyuk

Ruangan di museum ini dibagi menjadi enam, yaitu halaman depan, ruang lobi, halaman tengah, ruang koleksi I, ruang koleksi II, dan perpustakaan. Setiap bagian memiliki jenis koleksinya masing-masing. Contohnya seperti pada Ruang Koleksi I, di mana Teman Traveler bisa melihat aneka koleksi benda bersejarah dari tahun 1945 hingga 1949.

Antik dan bernilai histori tinggi (c) Karina Puspita Sari/Travelingyuk

Sedangkan di Ruang Koleksi II, isinya merupakan benda koleksi dari tahun 1950 hingga 1976. Mulai dari senjata rampasan pada Operasi Trisula, Mata uang Jepang yang sempat beredar di Nusantara, hingga Teks Sapta Marga yang terbuat dari marmer.

Gerbong Maut

Gerbong Maut (c) Karina Puspita Sari/Travelingyuk

Salah satu koleksi Museum Brawijaya yang cukup kontroversial adalah Gerbong Maut. Gerbong kereta ini pernah digunakan untuk mengangkut 100 tawanan pejuang Indonesia secara massal di zaman penjajahan
Belanda.

Ukurannya begitu kecil namun dipaksakan mengangkut manusia sebanyak
itu Alhasil sebanyak 46 orang meninggal dunia akibat kekurangan oksigen. Jika Teman Traveler ingin tahu lebih banyak soal kengerian insiden bersejarah ini, langsung saja meluncur ke Museum Brawijaya antara pukul 08.00 hingga 14.30.

Akhir kata seperti pesan Bung Karno, sebagai warga negara yang
baik maka jangan sekali-kali Teman Traveler meninggalkan sejarah. Jika kalian sedang liburan di Malang, sempatkanlah waktu untuk mampir ke sini ya.

Tags
kontributor Malang Travelingyuk wisata malang
Share