Kue Dongkal, Jajan Tradisional Betawi yang Nyaris Terlupakan

Indonesia memang keren. Hampir tiap daerah punya makanan dan camilan yang jadi ciri khas masing-masing. Sayangnya tak sedikit yang mulai punah lantaran kalah bersaing dengan aneka kuliner kekinian. Kue Dongkal khas Betawi adalah salah satunya.

img_20190726_173947_d63.jpg
Proses pembuatan Kue Dongkal (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Makin nyaris terlupakan, Kue Dongkal sebenarnya punya citarasa yang lezat, cocok disantap sembari ditemani menyeruput teh atau kopi hangat. Untungnya, meski sedikit, Teman Traveler masih bisa menjumpai sejumlah penjaja kue ini di beberapa lokasi di Jabodetabek.

Jajanan Khas Betawi

img_20190726_174746_1Jy.jpg
Kue sebelum dipotong (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Bagi yang belum tahu, Dongkal ini merupakan jajanan tradisional khas Betawi. Namun, tak sedikit pula yang menyebutnya sebagai jajanan dari Tanah Sunda. Di Bandung, panganan ini lebih populer dengan nama awug.

Konon pada zaman dulu, sajian ini sering jadi bagian dari upacara adat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Dongkal lebih dikenal sebagai jajanan pasar atau kue tradisional.

Mirip Kue Putu

img_20190726_174539_hpA.jpg
Rasanya mirip kue putu (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Terbuat dari tepung beras dan gula aren, cita rasa Dongkal bisa dibilang hampir mirip kue putu. Bedanya, kue ini biasanya disajikan dalam balutan warna putih. Secara tekstur, jajanan khas Betawi ini juga terasa sedikit lebih kasar.

Ciri Khas Utama

img_20190726_174437_3b9.jpg
Cara mengukus kue (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Perbedaan lain besar lain antara dongkal dan putu adalah proses pembuatannya. Jika putu dibentuk menggunakan cetakan bambu sebelum dikukus, maka dongkal melibatkan alat khusus bernama aseupan – kukusan dari anyaman bambu berbentuk kerucut.

img_20190726_174834_KyH.jpg
Cetakan dongkal (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Aseupan bakal diisi tepung beras dan gula aren secara selang-seling. Begitu penuh, cetakan tersebut lantas dikukus dalam sebuah dandang khusus bernama seeng.

Dandang seeng ini bentuknya unik lho Teman Traveler. Tengahnya meramping, sementara sisi bawah dan lehernya tampak melebar. Desain ini berfungsi mempertahankan uap agar kue lekas matang.

Penyajian yang Tak Kalah Menarik

img_20190726_174817_VSo.jpg
Dipotong sesuai selera (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Setelah matang sempurna, dongkal dikeluarkan dari kukusan. Bentuknya akan nampak mirip nasi tumpeng. Permukaannya membentuk pola belang-belang putih dan coklat, terbentuk dari penyusunan tepung beras dan gula aren.

img_20190726_182702_Vsk.jpg
Taburan parutan kelapa bikin gurih (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Sebelum disajikan, dongkal bakal diiris-iris sesuai selera dan ditaburi parutan kelapa agar makin gurih serta lezat. Buat saya, jajanan tradisional ini paling nikmat disantap selagi hangat. Jika sudah dingin, teksturnya akan jadi sedikit keras.

Harganya Murah

img_20190726_173907_ZR5.jpg
Hanya dibanderol Rp10.000 per porsi (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Salah satu penjual kue dongkal yang sempat saya temui ada di Kecamatan Sawangan, Depok. Kuliner Betawi satu ini seporsinya hanya dibanderol Rp10.000 saja. Sementara untuk ukuran besar, Teman Traveler cukup keluarkan Rp15.000. Cukup terjangkau kan? Tak perlu modal besar untuk puas nikmati jajanan tradisional Betawi ini.

Cukup unik ya Kue Dongkal dari Betawi ini. Buat kalian yang penasaran, bisa coba mencari penjualnya di tempat tempat seperti pasar tradisional, stasiun commuter line, atau perempatan jalan raya besar. Sempatkan membeli agar kalian tak penasaran dengan cita rasanya yang manis dan gurih. Bagaimana, apakah ini termasuk kue favorit Teman Traveler?

Tags
Jakarta kontributor kue dongkal kuliner jakarta Travelingyuk
Share