Kue Ape Pasar Aur Kuning, Si Manis dari Jakarta

Siapa di antara Teman Traveler yang pernah mencicipi kue Serabi? Si manis yang kerap banyak ditemui di Jakarta ini ternyata sudah sangat populer di Indonesia. Penjualnya pun kini tak hanya ada di Jawa, namun sudah merambah hingga Sumatera Barat. Saya sendiri sempat nikmatnya mencicipi Kue Ape Pasar Aur Kuning.

Yap, serabi sering disebut dengan istilah Kue Ape oleh warga sekitar Bukittinggi. Meski beda nama, tekstur dan rasanya cukup mirip kok. Yuk, simak cerita saya mencicipi enaknya Kue Ape Pasar Aur Kuning.

Kue Ape yang Menarik

Penjaja Kue Ape (c) Indah Lubis/Travelingyuk

Kala itu saya berjalan mengelilingi Pasar Aur Kuning bertepatan dengan ‘Hari Pasar, begitulah orang sini menyebutnya. Istilah itu biasa digunakan untuk menggambarkan pasar yang sedang ramai-ramainya. Sebab pedagang di sekitar Bukittinggi, luar kota, hingga mereka yang berasal dari kaki gunung bakal datang untuk berdagang di sini.

Hari Pasar biasa terjadi dua kali seminggu, Rabu dan Sabtu. Namun sehari sebelumnya, para pedagang biasanya sudah mulai berdatangan. Mereka umumnya bersiap menyusun dagangan lebih awal, bahkan ada yang sampai menginap di pasar. 

Berjalan di keramaian pasar kala itu membuat perut saya keroncongan. Saya sendiri memang sedang mencari kue untuk cemilan. Tak berapa lama, dari kejauhan tampak gerobak warna biru dengan tulisan Kue Ape di kacanya.

Pelepas Rindu Ibu Kota

Sebijinya dibanderol Rp2.000 saja (c) Indah Lubis/Travelingyuk

Tanpa basa-basi, saja langsung menanyakan berapa harganya. Mulanya sang pedagang menawarkan Rp2000 per biji. Namun setelah ditawar, saya hanya perlu keluarkan Rp5000 untuk tiga Kue Ape.

Saya lantas sedikit berbincang dengan si abang penjual. Kue Ape yang ia tawarkan memang terinspirasi Serabi khas Jakarta. Ia sudah cukup lama berjualan di sini. Pembelinya ada yang memang tertarik dengan rasanya, namun ada pula yang ingin sekedar melepas kerinduan akan nuansa ibu kota.

Cara Masak Tradisional

Pembuatan kue ape (c) Indah Lubis/Travelingyuk

Pembuatan Kue Ape Pasar Aur Kuning terbilang masih tradisional, menggunakan tungku besi. Si Abang langsung memasaknya di depan pembeli. Teman Traveler juga bisa meminta yang kue yang masih hangat.

Ape yang baru selesai dimasak memang rasanya lebih nikmat. Mungkin karena tekstur permukaannya jadi gurih dan crispy. Selain itu, jika sudah dingin memang agak sedikit alot. Tapi tenang saja, masih enak kok.

Saya sendiri lebih memilih menyantapnya selagi hangat. Apalagi ditemani dengan minuman teh atau sejenisnya. 

Nikmatnya Bikin Nagih

Rasanya enak lho Teman Traveler (c) Indah Lubis/Travelingyuk

Kue dari tepung beras ini cukup mengenyangkan. Dari kejauhan aromanya yang khas langsung bikin perut keroncongan. Bentuk dan rasanya benar-benar khas. Terasa manis dengan sedikit sensasi pandan. Menyantapnya lidah seolah dimanjakan, apalagi jika Teman Traveler termasauk pecinta makanan manis,

Dari bincang-bincang kami, Si Abang penjual mengaku selalu pulang dengan gerobak kosong alias habis terjual. Namun memasuki bulan Ramadan, ia takkan berdagang demi menghormati orang yang berpuasa. 

Jika ditanya di mana persisnya gerobak Kue Ape Pasar Aur Kuning ini mangkal, saya tak bisa menjelaskan secara rinci. Selalu berpindah, namun masih berada di sekitaran pasar kok. Teman Traveler harus siap-siap blusukan jika ingin mencarinya.

Tags
Bukittinggi kontributor kuliner bukittinggi Travelingyuk
Share