Festival Lesung Nusantara, Uniknya Warisan Budaya Indonesia

Lesung merupakan salah satu alat tradisional yang biasa digunakan untuk mengolah gabah menjadi beras. Terlepas dari fungsinya, alat ini merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia. Guna melestarikannya, masyarakat Batu lantas menggelar Festival Lesung Nusantara.

Alat Tradisional nan Berdaya Guna

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Lesung merupakan alat tradisional untuk membantu proses pengolahan gabah menjadi beras. Fungsi utamanya adalah memisahkan kulit gabah dari beras. Biasanya terbuat dari kayu dan bentuknya mirip perahu mungil.

Soal ukuran, lesung umumnya memiliki panjang kurang lebih dua meter, lebar setengah meter, dan punya cekungan sedalam 40 meter. Namun ada juga yang bentuknya sedikit lebih besar.

Kini Jadi Barang Antik

Lesung termasuk peninggalan jama dulu (c) Dwi Saniman/Travelingyuk

Lesung pada dasarnya tak lebih dari sebuah wadah cekung. Umumnya dibuat dari kayu besar yang dibuang bagian dalamnya. Bagian ini akan jadi tempat menaruh gabah, sebelum ditumbuk dengan tongkat kayu tebal yang biasa disebut alu. Hal ini dilakukan berulang hingga beras terpisah dari sekam.

Namun seiring berjalannya waktu, lesung berubah fungsi menjadi barang antik. Tidak lagi digunakan sebagai penumbuk padi, namun disimpan sebagai koleksi. Selain sudah ada teknologi yang lebih modern, lesung perlahan ditinggalkan karena bobotnya yang lumayan.

Beberapa warga Batu tercatat menyimpan lesung sebagai bagian dari koleksi barang antik mereka. Setiap perayaan Maulid Nabi, lesung-lesung tersebut akan dihiasi buah-buahan dan polo pendem sebelum akhirnya dikirab.

Festival Lesung Nusantara

Para ibu dan remaja sedang menata buah (c) Dwi Saniman/Travelingyuk

Acara kirab tersebut lantas dikemas dengan sebutan Festival Lesung Nusantara. Selain untuk mengucap syukur, acara ini juga diadakan untuk menghormati Nabi Muhammad.

Lesung-lesung nantinya akan diisi beragam buah seperti apel, jeruk, dan semangka. Setelah persiapan rampung, semuanya akan dibacakan doa-doa tertentu. Begitu kirab selesai, buah-buahan tersebut itu bakal diperebutkan warga karena dipercaya membawa berkah.

Bernilai Sangat Tinggi

Lesung siap diarak keliling (c) Dwi Saniman/Travelingyuk

Di Kota Batu, pemilik lesung bisa dihitung dengan jari sebab harganya tergolong fantastis. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, alat tradisional ini sudah tergolong sebagai barang antik. Namun demikian, setahun sekali lesung-lesung tersebut akan dikeluarkan demi kepentingan kirab.

Meski cekungannya sepintas terlihat kecil, lesung ternyata mampu menampung buah cukup banyak. Masyarakat pun jadi makin puas karena mereka bisa mendapat semakin banyak buah di akhir acara nanti.

Satu lesung bisa menampung banyak buah (c) Dwi Saniman/Travelingyuk

Festival Lesung Nusantara di Batu biasanya dimulai dari Ngaglik menuju Desa Panggaran. Namun biasanya masyarakat yang datang jumlahnya bisa sangat membludak. Hal ini karena mereka berbondong-bondong hadir dari desa dan wilayah lain di sekitar Batu.

Itulah sedikit ulasan mengenai keseruan Festival Lesung Nusantara. Bagi Teman Traveler yang ingin rasakan serunya berebut buah dan terlibat dalam kirab budaya masal, boleh coba liburan di Batu di momen Maulid Nabi.

Tags
Share