Deretan Warisan Budaya Unik di Desa Liya Togo Wakatobi

Liya Togo merupakan desa wisata dengan sejarah panjang dan memiliki keunikan tersendiri. Masyarakatnya masih memegang serta melestarikan nilai-nilai dan kebudayaan tradisional dengan begitu kuat. Kali ini saya akan mengajak Teman Traveler melihat satu-persatu warisan kebudayaan yang ada di Desa Liya Togo. Yuk, baca ulasan lengkapnya.

Masjid Peninggalan Kesultanan Buton

Foto Pribadi (Fani Farnani)
Berfoto di dekat masjid keraton (c) Fani Farni/Travelingyuk

Masjid Keraton Liya Togo merupakan salah satu masjid tertua di Sulawesi. Bangunan peninggalan Kesultanan Buton ini masih berdiri kokoh di Pulau Wangi-wangi dan terus terjaga hingga kini. Dibangun pada 1546 saat masa Kesultanan Murhum, masjid ini sempat dipugar pada 1924, 1970, 1973, dan terakhir 2005.

Dinas Pariwisata Wakatobi
Masjid peninggalan zaman kerajaan (c) Dinas Pariwisata Wakatobi/Travelingyuk

Meski fungsi utamanya adalah bangunan ibadah, masjid ini memiliki benteng yang melindungi seluruh wilayah Desa Liya Togo. Tujuannya untuk menghadang pergerakan musuh yang mencoba masuk ke kawasan desa.

Mangani’a, Tarian Lariangi, dan Monari Mosega

Dinas Pariwisata Wakatobi
Tradisi yang masih dijunjung tinggi (c) Dinas Pariwisata Wakatobi/Travelingyuk

Mangania’a merupakan acara adat masyarakat Desa Liya Togo. Diadakan untuk bersilahturahmi dan memanjatkan doa demi keselamatan desa. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk mengucapkan rasa syukur atas hasil pertanian dan laut melimpah.

Dalam menghadiri Mangania’a, masyarakat biasanya datang membawa makanan dan minuman hasil panen. Keduanya ditawarkan pada sesama warga desa atau pelancong yang ikut meramaikan gelaran tradisional ini. Tak lupa akan diadakan kegiatan menyenandungkan Kanda’dio, syair puisi setempat yang begitu indah.

Dinas Pariwisata Wakatobi
Monari Mosega (c) Dinas Pariwisata Wakatobi/Travelingyuk

Tradisi lain yang tak boleh dilewatkan adalah tarian Lariangi Liya dan Monari Mosega. Tarian yang disebut terakhir biasanya dilakukan para lelaki tangguh, sembari mengikuti irama tabuhan gendang.

Pelancong yang singgah di wisata Wakatobi ini juga bisa bergaul bersama penduduk sekitar Liya Togo yang dikenal ramah. Mereka akan dengan senang menceritakan berbagai kisah sejarah, budaya, dan kearifan lokal. Apalagi di malam hari, ditemani secangkir kopi dan camilan ubi goreng.

Dinas Pariwisata Wakatobi
Nelayan setempat (c) Dinas Pariwisata Wakatobi/Travelingyuk

Ketika bulan sedang cerah dan ombak cukup rendah, Teman Traveler bisa ikut menemani nelayan setempat mencari kepiting, kerang, dan makhluk laut lain. Pastinya bakal sangat berkesan karena warga sekitar hanya berbekal senter dan alat pancing sederhana.

Menikmati Makanan Tradisional

Dinas Pariwisata Wakatobi
Aneka hidangan tradisional (c) Dinas Pariwisata Wakatobi/Travelingyuk

Menikmati hidangan tradisional setempat, seperti susuru (kue bowsprit), onde-onde, dan wadhe (kue beras ketan), adalah sebuah keharusan. Jangan lewatkan pula lezatnya jus asam, dibuat menggunakan bahan alami yang tumbuh liar di sekitar desa.

Untuk makan siang atau malam, Teman Traveler dapat memesan soami (makanan pengganti nasi yang terbuat dari singkong), makin nikmat disantap bersama daun kelor segar dan bermacam ikan segar. Semua bahan yang digunakan organik dan diambil langsung dari kebun atau laut setempat. Rasanya dijamin memanjakan lidah.

Jika ingin lebih menyelami masakan lokal, Teman Traveler bisa mengikuti kelas memasak bersama masyarakat sekitar. Kalian akan diajak belajar membuat sejumlah sajian sederhana. Pastinya bakal jadi pengalaman liburan indah dan tak terlupakan.

Sajian lain yang tak boleh dilewatkan antara lain Kasuami (sajian berisi abon ikan), tepung beras yang digoreng dalam bentuk anyaman, sanggara (pisang goreng), kue cucur, , dan masih banyak lagi.

Itulah sekilas ulasan mengenai pesona Desa Wisata Liya Togo di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi. Sederet warisan budaya dan kulinernya benar-benar bisa membuat wisatawan terpukau. Bagaimana Teman Traveler, adakah di antara kalian tertarik menghabiskan liburan di sini?

Tags
featured kontributor Travelingyuk Wakatobi wisata wakatobi
Share