Wisata Kopi di Desa Karangan, Cicipi Racikan Arabica yang Mantap

faiz fachri

faiz fachri

On Indonesia
Panorama Pegunungan di sekitar Desa Karangan Panorama Pegunungan di sekitar Desa Karangan

Kabupaten Enrekang atau biasa disebut Bumi Massenrempulu merupakan salah satu daerah penghasil kopi terkenal di Indonesia. Salah satu pusatnya ada di Desa Karangan, wajib dikunjungi para coffee addict maupun penyuka wisata alam.

Desa Karangan berada di Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Karangan juga merupakan jalur pendakian favorit untuk pecinta gunung dan salah satu desa penghasil kopi.

Transportasi Menuju Karangan

Panorama Pegunungan Enrekang (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Meski cukup jauh, saya jamin Teman Traveler gak akan menyesal bertandang ke Desa Karangan. Dari Makassar, perjalanan bakal memakan waktu antara enam sampai tujuh jam.

Bagi yang berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin bisa langsung menyewa mobil dan meluncur ke Baraka. Namun jika ingin lebih
menghemat budget, sebaiknya pilih transportasi umum saja.

Panorama di Desa Karangan (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Rinciannya, dari bandara Teman Traveler naik taksi atau ojek online menuju ke Terminal Biringkanaya. Setelah tiba, naik bus antar kota jurusan Enrekang. Tarifnya sekiar Rp150.000–170.000 tergantung kelas busnya.

Selama perjalanan Makassar-Baraka, Teman Traveler bisa beristirahat. Kumpulkan tenaga karena pada perjalanan berikutnya, dari Baraka menuju Karangan, akan lebih menantang.

Perjalanan Baraka-Karangan (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Tiba di Baraka, perjalanan bisa dilanjutkan ke Desa Karangan menggunakan jeep sewaan dengan tarif antara Rp700.000–1.000.000, tergantung kemampuan negosiasi. Jika beruntung, Teman Traveler bisa patungan dengan para pendaki Gunung Latimojong. Tentunya akan lebih menghemat budget.

Perjalanan dari Baraka-Karangan melipir dan naik turun pegunungan. Jalannya hanya sedikit yang dilapisi aspal. Selebihnya terdiri dari batu dan kerikil, jauh dari kata nyaman.

Kondisi jalan Baraka-Karangan (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Secara umum kondisi jalan di sini cukup memprihatinkan. Padahal Latimojong, salah satu Seven Summit of Indonesia. Termasuk tujuan wisata penting dan penghasil kopi arabica kualitas ekspor yang sangat terkenal. Potensi agrowisata di sini benar-benar menjanjikan.

Sampai di Desa

Pintu masuk Karangan (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Begitu tiba di Desa Karangan, Teman Traveler bisa langsung menuju basecamp atau numpang istirahat di rumah-rumah warga. Lantaran kala itu saya datang untuk sekalian mendaki Latimojong, saya sempat bermukim dua hari di rumah Ambe Simeng. Ambe adalah sebutan untuk bapak bagi masyarakat Enrekang.

Oh ya, Teman Traveler. Jika kalian tak ingin beristirahat dan memilih segera memulai pendakian, jangan lupa lakukan registrasi lebih dulu. Siapkan pula uang Rp15.000 untuk membayar tiket pendakian.

Sungai Eksotis

Sungai Karangan (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Karangan memiliki sungai eksotis bernama Salu Karangan. Sungai ini sekaligus jadi sumber air untuk lahan pertanian masyarakat. Arusnya yang cukup deras juga dimanfaatkan sebagai PLTA. Energi listrik yang dihasilkan dimanfaatkan untuk menerangi kawasan sekitar desa.

Surga Pecinta Kopi

Kopi dan musik (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Hampir setiap pekarangan rumah warga Desa Enrekang memiliki pohon kopi. Di sini, tumbuhan tersebut menjadi komoditi andalan bagi masyarakat sekitar. Berkebun merupakan kegiatan wajib bagi masyarakat
sekitar di pagi hari.

Saya sendiri sempat mengikuti aktivitas Ambe Simen kala berkebun dan mendapatkan banyak cerita menarik.

“Jenis Arabica menjadi varietas yang sangat digemari di sini, proses perawatannya tebilang mudah dan relatif cepat berbuah,” tuturnya sembari memetik buah kopi yang telah matang.

Menikmati Kopi di Tengah Kesejukan Karangan

Pertandingan voli desa (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Sore itu saya berkesempatan menikmati racikan kopi arabica khas Desa Karangan. Sambil duduk, di depan saya nampak lapangan di salah satu punggung bukit, dikelilingi pohon kobi dan perkebunan sayur. Kabut mulai turun ketika para pemain mulai berdatangan.

Pertandingan yang dimainkan kala itu merupakan semacam latihan menuju laga antar desa. Meski demikian, suasananya meriah. Penonton ramai menyoraki para pemain di lapangan.

Kembali ke soal kopi, tiap rumah yang saya singgahi selalu suguhkan racikan dengan aroma dan rasa berbeda. Usut punya usut, hal ini ternyata bergantung pada detail selama pemrosesan.

Proses pengupasan kulit tanduk dari biji kopi (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Keterangan tersebut saya dapatkan dari Kak Hasim, salah seorang pemuda desa yang kala itu terlihat sibuk memisahkan biji kopi dari kulit tanduk – tak jauh dari lapangan voli.

“Setelah ini, (biji kopi) disortir lagi untuk kasih pisah biji yang pecah dan yang rusak. Proses terakhir adalah disangrai atau digoreng sampai gosong dan kemudian digiling untuk menjadikannya bubuk kopi,” tuturnya.

Biji kopi yang sudah disangrai (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

“Aroma dan rasa kopi bisa berbeda-beda. Selain karena kualitas buah kopi, juga karena perlakuan biji kopi pasca panen. Pecinta kopi harus tahu faktor penyebab perbedaan rasanya,” lanjutnya, sebelum saya berpamitan kembali ke basecamp.

Suhu udara di Baraka makin dingin. Jaket yang saya kenakan pun harus ditutup serapat mungkin. Begitu tiba di basecamp, saya langsung berbenah dan mempersiapkan diri untuk pendakian.

Itulah sedikit pengalaman saya melakukan wisata kopi di Desa Karangan, salah satu destinasi Sulawesi Selatan yang menarik untuk dikunjungi. Sampai jumpa di cerita berikutnya ya, Teman Traveler.