Naik Bus Damri Via Soko, Bikin Perjalanan Tulungagung-Ponorogo Makin Berkesan

Reezumiku

Reezumiku

On Akomodasi
Bus Damri Via Soko Bus Damri Via Soko

Perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki pemandangan yang tak kalah menarik. Apalagi bagi Teman Traveler yang hendak menuju Tulungagung atau sebaliknya, Ponorogo. Selain dengan kendaraan pribadi, Bus Damri Via Soko siap mengantarkan sampai ke tujuan. Menariknya, perjalanan akan menantang mengingat akses jalannya yang berkelok.

Seperti apa sih perjalanan Tulungagung-Ponogoro dengan menaiki Bus Damri via Soko ini? Berikut pengalaman dari Kontributor Travelingyuk, Reezumiku.

Bus Penyelamat Jalur Perbatasan Jatim-Jateng

Penumpang yang penuh saat weekend
Penumpang yang penuh saat weekend (c) Reezumiku/Travelingyuk

Damri atau Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia ini sangat menguntungkan bagi warga yang ingin bepergian ke Tulungagung atau Ponorogo. Pasalnya, tidak banyak angkutan umum di daerah pegunungan. Dulunya hanya ada angkot (kol) yang hanya beroperasi sekali dalam sehari. Padahal kebutuhan akan perjalanan jarak pendek amat dibutuhkan warga.

Kini, bus penyelamat jalur perbatasan ini telah beroperasi. Sekitar dua tahun lalu, terbuka jalur baru yaitu TA-PO Via Sooko. Hanya ada dua bus dengan rute ini. Keduanya memiliki jadwal pemberangkatan yang sama yaitu dari Terminal Gayatri Tulungagung dan Terminal Seloaji Ponorogo.

Jalan Berkelok yang Menantang

Jalan curam dan tidak rata
Jalan curam dan tidak rata(c) Reezumiku/Travelingyuk

Dua bus yang beroperasi ini tidak hanya memudahkan, tapi juga menawarkan sensasi perjalanan yang mendebarkan. Jalurnya melalui Kecamatan Pagerwojo yang memiliki medan naik turun dan berkelak-kelok. Perjalanan paling menegangkan setelah meninggalkan perbatasan Kabupaten Tulungagung. Kanan-kiri berupa jurang yang bakal mengadu adrenalin.

Tak perlu khawatir, bus yang berkapasitas 19 orang ini bakal aman terkendali karena memiliki supir yang handal. Bahkan, di tikungan ekstrem pun mereka tetap handal dan tidak membahayakan penumpangnya. Seperti Pak Gianto, supir yang cekatan dan juga ramah kepada penumpang. Tak jarang, pria ini memberikan candaan untuk melepas ketegangan setelah melewati jalur-jalur ekstrem.

Pemandangan Hijau yang Manjakan Mata

Hijau pepohonan
Hijau pepohonan(c) Reezumiku/Travelingyuk

Meski jalurnya berkelok dan memacu adrenalin, tapi pemandangan selama perjalanan memanjakan mata loh. Bus Damri via Soko ini menawarkan pemandangan hutan yang hijau. Pepohonan pinus yang berjejeran rapi sungguh memanjakan mata dan juga menenangkan pikiran. Belum lagi ladang sayuran khas pedesaan.

Naik Bus Damri via Soko
Naik Bus Damri via Soko (c) Travelingyuk/Asnan Affandi

Jika mengesampingkan medan ekstrem, pesona lereng Gunung Wilis sepadan dengan debaran yang dirasakan selama perjalanan. Perbukitan tampak hijau, cantik menyatu dengan landscape awan putih dan langit biru. Melihat daunnya mengayun-ayun saat tertiup angin saja sudah membuat perasaan terasa segar.

Tips Cerdas Naik Bus Damri

Bus Damri Via Sooko yang saling berpapasan
Bus Damri Via Sooko(c) Reezumiku/Travelingyuk

Harga tiket TA-PO sebesar Rp15.000 sekali jalan. Kendaraan mulai bergerak saat pagi yaitu pukul 07.00 WIB dan siang pukul 13.00 WIB. Lamanya perjalanan sekitar 3,5 jam. Selama waktu tersebut, bus hanya berhenti ketika ada penumpang. Namun jika kamu terpaksa ingin ke kamar kecil, pak sopir akan bersedia mencarikan toilet umum terdekat.

Tidak ada pedagang di dalam kendaraan, jadi bawalah minuman atau camilan sendiri. Sementara itu, tempat duduk ternyaman adalah di bagian tengah. Medan yang tidak rata membuat bus bergoyang dan memantul ringan selama perjalanan. Bangku di atas ban akan merasakan getaran dan pantulan lebih kuat sehingga membuat duduk agak tidak nyaman. Perut akan terasa terkoyak-koyak.

Pemandangan lereng Gunung Wilis
Pemandangan lereng Gunung Wilis(c) Reezumiku/Travelingyuk

Pemandangan selama perjalanan memang memanjakan mata. Nah, usai mencoba naik bus Damri via Soko ini, mampirlah ke destinasi wisata di Ponorogo. Seperti Taman Wisata Ngembag dan Taman Koto Ponorogo. Sementara wisata di Tulungagung juga tak kalah banyak. Bagaimana, Teman Traveler berani mencoba?