Upacara 17an di Gunung Penanggungan, Rayakan Kemerdekaan dengan Gaya Baru

Mengadakan upacara bendera sudah jadi kebiasaan umum untuk merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia. Para pecinta alam biasanya mengadakannya di puncak gunung. Selain unik, hal semacam ini juga berikan sensasi tersendiri bagi para peserta. Termasuk acara 17an di Gunung Penanggungan yang sempat saya ikuti beberapa waktu lalu.

Lelah Namun Khidmat

dsc_0383_compress82_NgD.jpg
Upacara di puncak gunung (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Perjalanan menuju puncak Penanggungan saya mulai bersama sejumlah kawan via jalur Tamiajeng, Trawas, Mojokerto. Kala itu kami berangkat tengah malam dan berhasil sampai puncak di keesokan pagi, tepat pukul 05.30. Meski kelelahan, rombongan kami tetap khusyuk mengikuti upacara bendera di sini.

dsc_0384_compress37_CKT.jpg
Pengibaran bendera 200 meter (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Upacara dilakukan pada pukul 08.00. Selain kami, ada juga peserta dari beberapa komunitas dan kelompok pecinta alam. Prosesi berjalan tertib dan khidmat. Setelah semua selesai, para peserta dan perangkat upacara lantas berfoto bersama sebagai tanda keakraban.

Turun via Jolo Tundo

Setelah rampung, saya dan kawan-kawan lantas berniat melanjutkan perjalanan turun via Jolo Tundo. Jalur ini cukup istimewa karena di sepanjang perjalanan Teman Traveler akan menemukan beberapa candi dan situs sakral Gunung Penanggungan.

Penanggungan sendiri memang punya banyak situs purbakala di sekitar lerengnya. Tak heran jika pemerintah lantas menetapkan kawasan ini sebagai cagar budaya.

Mampir ke Petilasan

dsc_0379_compress23_1__IVw.jpg
Petilasan di sekitar Kawah Mati (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Objek peninggalan pertama yang bisa Teman Traveler sambangi adalah petilasan di sekitar kaldera atau kawah mati Penanggungan. Tiga tahun sebelum ini, sempat ada Pura di dekat situ. Namun bangunan ibadah tersebut akhirnya dibongkar pemerintah setempat. Alasannya karena dibangun tanpa izin dan melanggar undang-undang Cagar Budaya.

Candi Bayi

dsc_0403_compress10_1__5nz.jpg
Candi Bayi (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Berikutnya kami mampir ke Candi Bayi, letaknya ada di ketinggian 810 mdpl. Bentuknya memang kurang jelas, lantaran susunan batuannya sudah tidak beraturan. Namun demikian, situs ini tetap merupakan salah satu peninggalan masa lampau yang wajib dijaga.

Saat berkunjung ke sini, saya lihat kondisi lingkungan sekitar candi tampak bersih dan terawat. Di sekitarnya sengaja ditanami beberapa tanaman hias, yang membuat pemandangan jadi makin indah.

Candi Putri

dsc_0400_compress10_1__omF.jpg
Candi Putri (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Tidak jauh dari Candi Bayi terdapat Candi Putri yang bersebelahan dengan Bukit Bekel. Ketika sampai sini, rombongan kami menemukan tikar biru. Tampaknya ada beberapa orang yang menggelar ritual di sini semalam.

Saya tidak tahu pasti apa ritual yang dilakukan, namun yang jelas beberapa orang memang meyakini permohonan mereka bakal dikabulkan usai memanjatkan doa di tempat-tempat tertentu. Dari segi bantuk, Candi Putri masih tampak bagus dan terawat.

Candi Pura

dsc_0398_compress69_1__Z7N.jpg
Candi Pura (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Sekitar 10 menit dari Candi Putri, Teman Traveler akan menemukan Candi Pura. Bangunan kuno ini sedikit sulit ditemukan karena bentuknya sudah tidak beraturan. Namun demikian, masih ada satu area yang nampak utuh dan diyakini dulunya berfungsi sebagai altar pemujaan.

Candi Gentong

dsc_0396_compress15_1__EMK.jpg
Candi Gentong (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Candi Gentong berada di sisi barat lereng Penanggungan. Dinamakan demikian lantaran ada sebuah batu berlubang yang bentuknya mirip gentong. Melongok ke dalamnya, saya melihat sejumlah uang. Konon hal ini merupakan bagian dari ritual beberapa pendaki, yang berharap bakal mendapat kelimpahan rezeki.

dsc_0397_compress32_1__3J3.jpg
Uang di dalam ‘gentong’ (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Dari segi bentuk, Candi Gentong masih cukup utuh meski usianya sudah lumayan tua. Menurut penelitian para ahli, struktur ini sudah ada sejak Abad 14 Masehi atau pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Candi Shinta

dsc_0394_compress81_1__WzL.jpg
Candi Sinta (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Candi Shinta berada di ketinggian 1050 mdpl. Tepat di depannya terdapat sebuah bangunan mirip makam tanpa nama. Area di sekitar candi sendiri cukup luas dan udaranya sejuk, sehingga lokasi ini kerap dijadikan tempat istirahat oleh para pendaki.

Menurut penelitian, usia Candi Shinta hampir sama dengan Candi Gentong. Diperkirakan sudah mulai dibangun sejak Abad ke-14 Masehi.

Candi Jolotundo

dsc_0404_compress2_1__thC.jpg
Pintu masuk Jolotundo (c) Rudiyanto/Travelingyuk

Dibanding candi lain di Penanggungan, Candi Jolotundo mungkin adalah yang paling terkenal. Di dalamnya terdapat sebuah pemandian, yang aliran airnya mengalir dari sela-sela batu. Kolamnya kelihatan menarik lantaran dihuni beragam ikan warna-warni.

Candi yang konon merupakan peninggalan Prabu Airlangga ini banyak dikunjungi lantaran diyakini sebagai tempat keramat. Tak sedikit yang mampir untuk melaksanakan ritual tertentu maupun memanjatkan doa agar keinginan mereka terkabul.

Itulah pengalaman saya mengikuti upacara 17an di Gunung Penanggungan. Sebenarnya masih ada banyak reruntuhan kuno dan candi di sekitar wisata Mojokerto ini, tapi tidak semuanya bisa dikunjungi dalam sehari. Apalagi jika sudah memasuki malam, bakal banyak orang mampir untuk melakukan ritual sembahyang. Bagaimana, berani coba juga di tahun depan?

Tags
kontributor Mojokerto Travelingyuk wisata mojokerto
Share