Museum Le Mayeur dan Prasasti Blanjong, Pesona Wisata Sejarah Sanur

Coba tebak apa yang bisa dikunjungi di Sanur selain deretan pantainya? Well, ada dua tempat bersejarah yang layak dipertimbangkan. Setelah Museum Le Mayeur, Teman Traveler bisa melanjutkan perjalanan ke Prasasti Blanjong. Penasaran? Yuk, simak ulasan mengenai dua destinasi wisata sejarah Sanur tersebut.

Museum Le Mayeur

Rumah yang jadi galeri lukisan Le Mayeur (c) Prisca Lohuis/Travelingyuk

Siapa masih ingat Ni Pollok? Penari Bali yang dikagumi Presiden Soekarno ini menikah dengan seorang pelukis Belgia, Adrien-Jean Le Mayeur, pada 1935. Le Mayeur sendiri tiba di Pulau Dewata sekitar tahun 1932. Karya-karyanya termasuk salah satu yang jadi favorit Bung Karno. Bahkan Sang Proklamator tak jarang membeli lukisan Le Mayeur untuk dikoleksi.

Karakter Le Mayeur seolah tergambar dalam hasil lukisannya. Beliau sangat mengagumi wanita Bali beserta keistimewaannya. Banyak lukisannya menunjukkan wanita Bali bertelanjang dada, pemandangan umum di Pulau Dewata beberapa dekade silam. Namun tak jarang pula Le Mayeur melukis hal-hal unik yang dilihatnya ketika mengunjungi negara lain.

Halaman depan museum (c) Prisca Lohuis/Travelingyuk

Museum Le Mayeur dulunya merupakan rumah pribadi sang pelukis bersama istrinya, Ni Pollok. Lokasinya berada di Jalan Hang Tuah, tepat di pinggir Pantai Sanur. Fungsinya lantas diubah menjadi museum sekitar tahun 1956, atas permintaan Menteri Pendidikan dan mendapat restu dari empunya rumah.

Teman Traveler yang memiliki minat besar terhadap karya seni dan budaya Bali wajib mampir ke sini. Tiket masuk untuk WNI hanya dibandrol Rp15.000, sementara untuk WNA sekitar Rp35.000. Cukup terjangkau bukan?

Monumen mini mengenang Le Mayeur dan Ni Pollok (c) Prisca Lohuis/Travelingyuk

Hampir seluruh sudut bangunan di museum ini masih asli dan tidak mengalami perubahan apapun. Sayangnya, banyak dari lukisan Le Mayeur yang mulai memudar karena faktor usia. Alangkah baiknya jika ada perhatian dari pihak terkait untuk menyelamatkan karya-karya indah tersebut.

Salah satu patung hiasan di dekat pintu masuk (c) Prisca Lohuis/Travelingyuk

Oh ya, Teman Traveler dihimbau untuk tidak memotret lukisan Le Mayeur kala berkunjung ke sini. Ada peringatan khusus agar tidak melakukan hal tersebut.

Prasasti Blanjong

Prasasti Blanjong (c) Prisca Lohuis/Travelingyuk

Berikutnya ada Prasasti Blanjong di Jalan Danau Poso, Sanur. Teman Traveler cukup berkendara sekitar 10 menit dari Museum Le Mayeur untuk mencapai tempat ini.

Prasasti Blanjong ditemukan pada 1932 dan diklaim sebagai bukti tertulis tertua mengenai sejarah Bali. Isinya kurang lebih mengisahkan seorang raja bernama Sri Kesari yang berkuasa atas seluruh dunia dan beristana di Keraton Sanghadwala pada tahun 835 bulan Pahlguna. Ia berhasil mengalahkan semua musuhnya di gurun dan swal.

Gang kecil menuju kompleks prasasti (c) Prisca Lohuis/Travelingyuk

Prasasti ini memuat pesan dengan dua akasara, Pra Nagari untuk Bahasa Bali dan Kawi untuk Bahasa Sansekerta. Letaknya tidak terlalu mencolok dan agak menjorok di dalam gang yang tidak terlalu lebar. Hanya ada perlindungan berupa tembok kaca dan pagar di area luar.

Halaman depan kompleks prasasti (c) Prisca Lohuis/Travelingyuk

Di dalamnya Teman Traveler bisa melihat keberadaan meja untuk meletakkan persembahan dan berdoa bagi kaum Hindu. Meski termasuk cagar budaya Nasional, tempat ini tidak terlalu besar. Sama sekali tidak ada penjagaan maupun tiket masuk.

Pilar Prasasti Blanjong tertutup kain (c) Prisca Lohuis/Travelingyuk

Meski kedua Prasasti Blanjong dan Museum Le Mayeur cenderung sepi pengunjung, bukan berarti dua destinasi ini tak layak disambangi. Jadi Teman Traveler jangan ragu untuk mampir dua wisata sejarah Sanur tersebut.

Tags
Bali kontributor Travelingyuk wisata bali
Share