Warung Kopi Imah Babaturan, Jadul Tapi Bikin Cinta

Wisata ke Bandung jangan lupa menjelajah aneka kulinernya. Paris van Java selalu punya banyak pilihan menarik untuk manjakan perut. Salah satunya adalah Warung Kopi Imah Babaturan, sebuah kedai di Jalan Kebon Bibit no. 3. Meski sederhana, suasana rumahan yang ditawarkan benar-benar memanjakan dan bikin jatuh cinta.

Arti Nama Imah Babaturan

Papan nama warung (c) Intan Deviana/Travelingyuk
Cuma warung mungil (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Bagi Teman Traveler yang penasaran, istilah ‘imah babaturan’ berasal dari Bahasa Sunda yang artinya ‘rumah teman’. Konsep awal pendirian kedai kopi sekaligus warung makan ini memang terinspirasi dari seringnya pemilik warung ngumpul bersama di rumah teman. Dari situ, terbersitlah ide untuk menyediakan warung dengan kopi dan makanan rumahan sebagai menu andalan.

Suasana Jadul Bikin Betah

Sederhana banget ya (c) Intan Deviana/Travelingyuk
Order dan bayar pesanan di sini (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Sebelum saya bahas tentang menu yang mereka tawarkan, Teman Traveler jangan terkecoh dengan tampilan luar kedainya ya. Meski kelihatan seperti rumah biasa, suasana di dalamnya dijamin langsung bikin nyaman.

Kesan jadul (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Saya pribadi langsung jatuh cinta dengan deretan meja dan bangku sekolah yang disulap jadi meja pengunjung di sini. Kesannya jadul banget. Namun justru inilah yang bikin saya betah.

Sementara itu, di sudut lain Teman Traveler akan temukan deretan meja dan kursi panjang seperti di warung-warung bakso atau mie ayam. Kesan yang coba ditampilkan memang jauh banget dari kesan modern kekinian.

Menu Rumahan dengan Penyajian Unik

Kopi susu Vietnamese Drip (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Sekarang kita bahas soal kopi dan makanan yang jadi andalan mereka ya. Teman Traveler jangan mengira Imah Babaturan sediakan berpuluh macam sajian. Di sini kalian hanya akan menjumpai menu kopi sederhana seperti tubruk, es latte, dan kopi susu dengan metode Vietnamese Drip. Semuanya dihidangkan dengan gelas bening sederhana di atas piring lebar.

Sebagai teman minum kopi, Teman Traveler bisa pesan camilan rumahan seperti bala-bala sambal kacang, pisang rebus atau goreng, peyeum goreng, dan ketan susu.

Rasanya enak semua (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Sedangkan untuk menu makanan, Teman Traveler bisa pesan aneka menu rumahan seperti tongseng, gule, soto, sate, nasi cumi cabe ijo, dan nasi goreng. Menariknya, semua menu dihidangkan dengan piring seng beralaskan daun pisang. Unik banget, kan? Begitu pula dengan gelas yang digunakan untuk es teh manis, masih memanfaatkan gelas seng jaman dulu lho.

Hal unik lain dari Imah Babaturan adalah ada menu yang khusus tersedia pagi hari, seperti bubur lodeh. Untuk mencicipi sajian ini, Teman Traveler harus datang sebelum pukul 10.00. Oh iya, kerupuk putih yang disediakan di sini bisa dinikmati secara gratis lho.

Soal Rasa? Bikin Jatuh Cinta!

Rasanya juara (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Kerennya, meski cuma makanan rumahan, cita rasa menu di Imah Babatuan memang nendang banget. Saya dan teman memutuskan pesan tongseng kambing, nasi cumi cabe ijo, dan nasi goreng ayam. Dari ketiga menu tersebut, nggak ada yang nggak enak! Bahkan nasi goreng yang tampak biasa saja, ternyata rasanya langsung bikin jatuh cinta.

Bikin ketagihan (c) Intan Deviana/Travelingyuk

Kuah tongseng kambingnya gurih, tidak begitu kental, dan rasanya tidak terlalu pedas. Sedangkan nasi cumi cabe ijo-nya punya cita rasa pedas yang kuat karena dimasak dengan sedikit cabai rawit. Untuk nasi goreng ayam, digoreng tanpa menggunakan kecap. Jadi, warna nasinya masih putih dengan cita rasa yang gurih dan nikmat banget. Hmm, mendadak lapar lagi nih.

Itulah sekilas ulasan mengenai Warung Kopi Imah Babaturan, sebuah tempat makan yang usung suasana jadul nan menarik. Jika Teman Traveler sedang menjelajah wisata Bandung, jangan lupa mampir ke sini ya.

Tags
Bandung kontributor kuliner bandung Travelingyuk
Share