Trophy Hunting, Aksi Berburu Hewan Demi Dapatkan Kepuasan Diri

Firdha Rahma

Firdha Rahma

On Indonesia

Akun twitter @YuLianiYuLianis kini tengah jadi perbincangan. Dalam postongannya, ia menceritakan seorang pria yang sudah membunuh Burung Rangkong. Bahkan, raut wajahnya pun seperti tidak bersalah karena telah menghilangkan nyawa burung satu ini. Nah, fenomena ini biasa disebut dengan trophy hunting, di mana si pemburu menjadikan hewan tangkapannya sebagai sebuah piala. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan dari Traveling Yuk berikut.

Sejarah Trophy Hunting

trophy hunting
Pertama kali dilakukan di Afrika sekitar tahun 1960-an via instagram/ 4acesoutfitters

Sejarahnya, trophy hunting pertama dilakukan di Afrika sekitar tahun 1960-an. Bisnis ini menarik minat wisatawan kaya, serta investor asing dalam skala besar.

Terdapat klaim bahwa bisnis trophy hunting membantu masyarakat lokal yang miskin. Namun, tidak ada bukti tentang hal tersebut. International Council for Game and Wildlife Conservation menyebut hanya 3 persen dari keuntungan yang disumbangkan ke masyarakat lokal.

Nasib Tragis Para Binatang Liar

Menyimpan bagian tubuh hewan via instagram/
@YuLianiYuLianis

Tidak seperti pemburu lainnya yang menangkap hewan untuk diambil dagingnya. Para pemburu hewan ini memperlakukan binatang tangkapannya seperti piala. Dalam arti, ada bagian-bagian tubuh tertentu dari hewan yang dijadikan sebagai piala. Semisal, bagian tanduk, cula atau gading.

Setelah selesai berburu, beberapa bagian dari tubuh binatang tadi disimpan dan dipajang di dalam ruangan bernama trophy room. Bagi para pemburu seperti ini, trophy room merupakan sesuatu yang dibanggakan dan bisa dipamerkan kepada orang lain.

Afrika adalah Surga Para Trophy Hunting

Afrika yang menjadi surga trophy hunting via instagram/ two_waters_safari

Seperti yang kita tahu kalau Benua Afrika adalah negara dengan banyak hewan liar di dalamnya. Maka dari itu, pemburu dengan niat trophy hunting banyak datang untuk menangkap binatang-binatang liar.

Menurut studi yang disponsori oleh International Council for Game and Wildlife Conservation dengan Food and Agriculture Organization (FAO), pendapatan dari kegiatan kejam ini sangatlah tinggi di tahun 2008. Yaitu sekitar US$190 juta.

Trophy hunting yang ternyata dilegalkan di  beberapa negara

Dilegalkan di beberapa negara via instagram/ boesmanskraal_safaris

Walaupun sudah mengurangi populasi hewan, aksi ini ternyata dilegalkan di beberapa negara. Salah satunya adalah Amerika Serikat. Namun, masih ada syarat yang harus dipenuhi oleh para pemburu.

Seperti spesies apa yang bisa diburu, kapan waktu perburuan dan senjata apa yang digunakan. Bahkan, sering kali pemburu perlu izin dari pemerintah setempat terlebih dahulu.

Sangat sedih melihat perburuan hewan yang tujuannya hanya untuk memenuhi ego manusia. Padahal, kegiatan seperti itu justru mengurangi spesies hewan tersebut. Ada baiknya aturan dipertegas lagi, dengan tidak mentoleransi siapapun yang melakukannya.