Selamatan Desa Ngaglik, Tradisi Lawas yang Terus Terjaga

Dwi Yuniar Saniman

Dwi Yuniar Saniman

On Indonesia
Pertunjukan Wayang di Selamatan Desa Ngaglik Pertunjukan Wayang di Selamatan Desa Ngaglik

Selamatan Desa merupakan salah satu tradisi Jawa sebagai bentuk ucapan terima kasih pada dayangan atau pendiri desa. Sosok ini biasanya jadi orang yang babat alas alias mendirikan kawasan pemukiman dari nol. Jika Teman Traveler sedang menuju wisata Batu, jangan lupa saksikan menariknya Selamatan Desa Ngaglik.

Sama seperti selamatan desa pada umumnya, para warga bakal menyumbangkan encek alias berbagai makanan dan hasil bumi. Selain dijadikan persembahan, hal ini juga dipercaya ampuh untuk mencegah desa terkena gangguan hal-hal jahat.

Digelar untuk Hormati Mbah Masayu

Rombongan mengarak janur kuning (c) Dwi Saniman/Travelingyuk

Selamatan Desa Ngaglik biasanya diadakan di Makam Mbah Masayu Sinto Mataram. Tempat peristirahatan Sang Danyang diyakini berada tepat di depan TMP Batu. Uniknya, tradisi ini juga mendapat sedikit pengaruh muslim.

Beberapa prosesi selamatan tak jarang digelar pula di masjid, dengan diiringi doa-doa muslim. Sementara untuk kawasan yang tidak memiliki masjid atau makam danyang, selamatan biasanya diadakan di rumah Kepala Desa atau Pak Lurah.

Dihelat Setahun Sekali

Selamatan Desa atau Bersih Desa bisa dimaknai dengan berbagai cara, Teman Traveler. Tak sedikit pula yang menganggap tradisi ini sebagai bentuk ucapan syukur usai bekerja keras selama setahun penuh. Di Kelurahan Ngaglik, ritual ini biasanya dihelat pada Senin Kliwon, setahun sekali.

Pertunjukan Wayang

Pertunjukan wayang (c) Dwi Saniman/Travelingyuk

Selain upacara selamatan, masing-masing kelurahan biasanya juga mengadakan pagelaran wayang kulit. Hal ini menjadi bagian dari tradisi dan sekaligus merupakan bentuk ucapan syukur. Jika sampai tak diadakan, desa tersebut diyakini bakal ditimpa hal-hal tak diinginkan. Percaya tak percaya, inilah kenyataannya.

Tradisi Tumpengan

Rombongan membawa tumpeng (c) Dwi Saniman/Travelingyuk

Khusus tahun ini, tradisi bersih desa di Kelurahan Ngaglik terasa lebih meriah dengan Kenduri Agung. Aktivitas ini diikuti oleh tak kurang dari 15 Rukun Warga, masing-masing membawa satu tumpeng. Persembahan ini tak memandang perbedaan kepercayaan maupun agama, karena tujuannya untuk mengucap syukur pada Tuhan.

Pagi setelah Salat Subuh, para warga akan mengadakan Tadarus Al-Quran. Begitu waktu Dhuhur tiba, akan dilakukan pemasangan sandingan sebagai penanda batas kota. Memasuki pukul 00.00, bakal ada arak-arakan mengelilingi Kelurahan Ngaglik dengan waktu kurang lebih tiga jam.

Itulah sedikit gambaran mengenai tradisi Selamatan Desa Ngaglik. Bagaimana Teman Traveler, menarik bukan? Bagi kalian yang tertarik mendalami budaya dan tradisi Jawa, jangan sampai lewatkan perhelatan ini tahun depan.