Sego Lemeng, Kuliner Para Gerilyawan Banyuwangi Bertahan dari Serangan Belanda

Banyuwangi yang baru saja menyelenggarakan Festival Gandrung Sewu pada 20 Oktober 2018 lalu, mendapat sambutan baik mulai dari wisatawan lokal sampai mancanegara. Event yang menampilkan 1.000 penari Gandrung tersebut menggambarkan taktik melawan penjajah saat masa kolonial Belanda. Tidak hanya melalui tarian dalam festival tersebut, jejak perlawanan terhadap Belanda pun tergambarkan pada bidang kuliner. Salah satunya adalah sego lemeng yang sampai saat ini masih bertahan di Desa Banjar Kabupaten Banyuwangi. Yuk baca ulasan berikut untuk informasi selengkapnya!

Penganan untuk Bertahan Hidup para Gerilyawan

Sego Lemeng via Instagram @lusia.waty
Sego Lemeng via Instagram @lusia.waty

Tidak hanya sekedar kuliner yang berasal dari Desa Banjar Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, sego alias nasi lemeng ternyata menyimpan cerita dari masa lalu. Konon rakyat Desan Banjar yang sedang melawan penjajah Belanda harus berdiam di dalam hutan. Tentu diperlukan makanan untuk bertahan hidup, pilihan jatuh pada sego lemeng yang proses pembuatannya tergolong sederhana. Tidak ada catatan sejarah secara pasti kapan kuliner ini mulai dikonsumsi oleh para gerilyawan, namun ada sumber menyebutkan mulai tahun 1771 ada pula yang menyatakan pada tahun 1947.

Proses Pembuatan Sederhana

Cara Memasak dengan Dibakar via Shutterstock
Cara Memasak dengan Dibakar via Shutterstock

Proses membuat sego lemeng tergolong mudah, nasi yang sudah ditanak dengan santan dan rempah-rempah diisi ikan laut atau daging ayam. Berikutnya digulung dalam daun pisang layaknya membuat lontong, kemudian dimasukkan ke dalam bilah bambu untuk dibakar.

Potongan bambu yang digunakan yang masih basah alias berwarna hijau sehingga proses memasak cukup lama sampai benar-benar matang. Ketika bambu mulai menghitam, itulah tanda penganan ini siap disantap.

Penganan yang Awet Berhari-hari

Dimasak dalam Bambu via Shutterstock
Dimasak dalam Bambu via Shutterstock

Tidak hanya cara membuatnya mudah dan bahan-bahannya mudah didapat, sego lemeng ternyata juga awet selama paling tidak 3 hari setelah dibuat. Dikarenakan memasak dengan metode slow-cook serta asap yang dihasilkan dari proses pembakaran inilah sebagai pengawet alami, sama halnya pada cara mengawetkan daging asap. Oleh karena itu, kuliner ini cocok bekal naik gunung apalagi kemasannya yang dipotong-potong kecil, memudahkan penyimpanan.

Kopi Uthek, Pendamping Sego Lemeng

Kopi Uthek dengan Gula Nira via Instagram @indotripnews
Kopi Uthek dengan Gula Nira via Instagram @indotripnews

Sego lemeng memang bukanlah menu yang disajikan sehari-hari, hanya ada waktu tertentu seperti upacara adat atau syukuran di kampung Desa Banjar. Tidak banyak generasi kini yang bisa membuat sego lemeng. Demi tetap mempertahankan tradisi kuliner tersebut, biasanya diadakan Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek yang merupakan dua penganan khas Suku Osing dari Desa Banjar. Kopi uthek ialah kopi tubruk, disajikan dengan gula nira secara terpisah. Meminumnya pun mempunyai cara tersendiri, gula nira digigit sembari menyeruput kopi.

Rupanya penganan yang terlihat sederhana secara tersirat menggambarkan bagaimana perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah. Ada baiknya juga melestarikan kuliner nusantara yang menyimpan cerita sejarah seperti sego lemeng. Cara yang paling mudah adalah dengan tetap mengkonsumsi makanan tersebut ketika singgah di Banyuwangi, khususnya Desa Banjar. Bagaimana, apakah ada Teman Traveler yang sudah pernah mencobanya?

Tags
Banyuwangi Indonesia Jawa Timur Kopi Uthek kuliner Sego Lemeng
Share