Satu Suro Kraton Surakarta, Unik dan Meriah

Malam Tahun Baru Islam atau 1 Muharram pada tahun ini jatuh pada 1 September 2019. Dalam tradisi Jawa, malam tersebut dianggap keramat sehingga sering diadakan berbagai perayaan tradisional. Beberapa daerah menyambut momen ini secara meriah. Salah satu contohnya adalah tradisi Satu Suro Kraton Surakarta.

Laku Bisu di Pura Mangkunegaran

satu suro kraton surakarta
Abdi Dalem Kraton (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Setiap malam satu Suro tiba, Pura Mangkunegaran Solo akan menggelar tradisi Kirab Pusaka serta Laku Bisu. Ritual ini biasanya diikuti oleh para kerabat dan abdi dalem keraton. Tahun ini rutenya dimulai dari gerbang utama di Jalan Ronggowarsito, lanjut dengan belok kanan ke Jalan Kartini, lanjut ke Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, hingga akhirnya kembali ke Pura Mangkunegaran.

Selama mengelilingi tembok keraton, para peserta akan berjalan tanpa mengenakan alas kaki dan tak mengucapkan sepatah katapun. Itulah yang membuat ritual ini kerap disebut juga dengan sebutan ‘Laku Bisu’ atau tapa bisu.

go_07392_B5U.JPG
Pihak kraton membagi sedekah (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Setelah kirab dan laku bisu selesai, pihak Kraton akan menyebar uang logam dalam tradisi ‘Udik-udik.’ Ratusan warga bakal berdesakan untuk memperebutkan uang recehan Rp500 hingga Rp1000. Hal tersebut mereka lakukan demi mendapat keberkahan. Tradisi Satu Suro sekaligus menjadi simbol kedermawanan raja pada rakyatnya.

Kebo Bule Kiai Slamet

satu suro kraton surakarta
Kebo Bule Kiai Slamet (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Satu lagi yang selalu ditunggu-tunggu dari tradisi Satu Suro Kraton Surakarta adalah kehadiran ‘kebo bule’ alias kebo Kyai Slamet. Hewan ini konon merupakan hadiah dari Kiai Hasan Beshari Tegalsari Ponorogo dan menjadi kerbau kesayangan Pakubuwono II.

Kehadiran ‘kebo bule’ berfungsi sebagai ‘cucuk lampah’ alias pengawal pusaka keraton bernama Kiai Slamet, saat beliau pulang dari mengungsi di Pondok Tegalsari. Kala itu sedang terjadi pemberontakan pecinan hingga membuat komplek Istana Kartasura terbakar.

Itulah mengapa hingga kini keturunan kerbau tersebut tetap dipertahankan hingga sekarang. Sebutan bule diberikan karena kerbau ini memiliki kulit putih kemerahan. Setiap malam Satu Muharram, kerbau-kerbau akan bertugas menjadi ‘cucuk lampah’ atau pembuka jalan kirab.

go_07552_q5k.jpg
Abdi Dalem membawa tombak (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Begitu kebo Kiai Slamet keluar, prosesi akan dilanjutkan dengan kirab pusaka oleh sejumlah abdi dalem keraton, salah satu yang tak pernah absen adalah koleksi tombak.

Rute Kirab Pusaka

satu suro kraton surakarta
Abdi Dalem selama kirab (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Seakan menambah kesyahduan malam, beberapa abdi dalem membawa oncor atau obor dan kemenyan. Selama kirab, mereka juga tidak diperkenankan mengucapkan sepatah kata pun.

go_07489_K7D.JPG
Kirab dimulai dari Kori Kamandungan (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Berangkat dari Kori Kamandungan, kirab dimulai pukul 23.50 dengan berjalan tanpa alas kaki menyusuri Supit Urang, Alun-Alun Utara Jenderal
Sudirman, Mayor Kusmanto, Kapten Mulyadi, Veteran, Yos Sudarso, Slamet Riyadi, lalu kembali ke Keraton melalui Alun-alun Utara.

Antusiasme Warga 

satu suro kraton surakarta
Antusiasme Warga (c) Nurlaili S/Travelingyuk

Di sepanjang rute yang dilalui, masyarakat baik dari Solo maupun luar kota
tampak menyemut. Mereka biasanya mulai memadati jalan sejak pukul 22.00. Semuanya antusias untuk melihat langsung maupun mengabadikan momen setahun sekali ini.

Tak sedikit yang datang ke Kori Kamandungan sejak pukul 19.00 untuk melihat prosesi pemberian makan kerbau. Beberapa orang percaya bahwa makanan sajian kerbau sampai kotorannya membawa keberkahan tersendiri.

Itulah uniknya tradisi Satu Suro di Kraton Surakarta. Jika Teman Traveler melewatkan prosesi tahun ini, jangan berkecil hati. Kalian bisa rencanakan menjelajah wisata Solo tahun depan dan jangan lupa sisihkan waktu untuk mampir ke sini ya.

Tags
Indonesia Jawa Tengah kontributor Solo Travelingyuk Wisata Wisata Solo
Share