Revolusi Mental Traveler Untuk Traveling Lebih Baik di Tahun 2016

Traveling itu tidak hanya mengenai kesenangan diri sendiri atau kelompok. Ada subjek-subjek lain yang terlibat di dalamnya seperti alam, penduduk lokal hingga sesama traveler. Oleh sebab itu wajib hukumnya bagi para traveler untuk menjaga keharmonisan di antara elemen-elemen yang terlibat. Traveling sudah menjadi gaya hidup, sayangnya banyak dari mereka yang belum mengetahui cara traveling yang cerdas sehingga di awal tahun 2016 ini sudah saatnya kita musti belajar bersama merevolusi mental untuk menjadi lebih baik dalam bervakansi.

Sepanjang 2015 banyak hal-hal terjadi di dunia traveling mulai dari tingkat kunjungan wisatawan yang kian bertambah di masing-masing tempat wisata di seluruh dunia, sampai menyangkut hal-hal yang kurang mengenakkan. Kita sadar untuk tahun lalu, traveler dicap sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan. Traveler ini tidak sepenuhnya salah sebab mayoritas dari mereka tidak tahu tentang bagaimana sih bervakansi yang cerdas dan berbudaya. Untuk itu memasuki tahun 2016, yuk sama-sama introspeksi diri dan belajar menjadi traveler yang lebih baik agar cap negatif terhapus dari diri seorang traveler. Berikut resolusi yang bisa dilakukan tahun ini.

Belajar Menjadi Traveler yang Patuh Terhadap Peraturan

Aturan dibuat untuk dilanggar! Istilah yang awalnya muncul untuk bercandaan ini ternyata malah diikuti oleh banyak orang termasuk traveler, sedangkan mereka tahu jika slogan itu sebetulnya menyesatkan. Manusia adalah makhluk paling sempurna yang dianugerahi dengan akal untuk berfikir dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Oleh sebab itu, sudah semestinya mereka menggunakan akal diatas kesenangan mereka.

Belajar Menjadi Traveler yang Patuh Terhadap Peraturan, foto oleh Travelingyuk
Belajar Menjadi Traveler yang Patuh Terhadap Peraturan, foto oleh Travelingyuk

Sebagai contoh nyata, bahwa di setiap obyek wisata selalu memiliki aturan baik yang tertulis maupun tidak. Aturan tertulis lebih mudah dipahami karena traveler tinggal membacanya seperti larangan mandi di laut yang berombak besar, dilarang menginjak-injak bunga dan rumput di taman dan lain sebagainya. Namun apa yang terjadi, demi mendapatkan gambar yang diinginkan mereka tidak membaca aturan-aturan tersebut dengan dalih mereka datang sudah membayar mahal jadi suka-suka mau ngapain saja.

Stop berperilaku buruk jika cap negatif tidak mau selamanya disandang traveler. Ini waktu yang tepat untuk merubah sikap menjadi traveler yang lebih baik di awal tahun 2016. Ingat banyak traveler lain yang juga ingin menikmati keindahan tempat wisata yang kalian kunjungi bahkan anak cucu kita juga berhak menikmatinya, so sempatkan barang sejenak membaca aturan tertulis demi menjaga kelestarian tempat wisata.

Belajar Lebih Dekat Untuk Mencintai Alam

Mengunjungi dan mengagumi destinasi bertema alam belum cukup menjadi bukti bahwa manusia mencintai alam. Dibutuhkan tindakan nyata bahwa mereka benar-benar peduli dengan alam. Yang selama ini terjadi adalah, mereka datang foto-foto dan lebih banyak merusak. Ada yang mencorat-coret, ada yang buang sampah sembarangan, kasus terbaru di kebun bunga Amarilis Gunungkidul traveler malah menginjak-injak bunga hingga mati.

Belajar Lebih Dekat Untuk Mencintai Alam, Photo by Travelingyuk
Belajar Lebih Dekat Untuk Mencintai Alam, Photo by Travelingyuk

Yuk mulai sekarang belajar untuk menghargai alam karena kita hidup di dunia yang sama, sudah sepantasnya antara manusia dan alam hidup berdampingan secara harmonis. Stop buang sampah sembarangan, kalaupun tidak menemukan tong sampah masukkan kembali sampah ke dalam kantong plastik dan masukkan dulu di dalam tas kemudian baru dibuang jika sudah menemukan tong sampah. Jangan meludah sembarangan dan jangan merusak taman dengan menginjak-injak bunga serta merusak pepohonan.

Lebih Bijak Dalam Mengambil Gambar dan Membaginya di Media Sosial

Membagi atau memamerkan foto-foto di tempat wisata adalah hal yang sangat menyenangkan apalagi sampai membuat iri teman-teman. Dengan dalih mendapatkan gambar yang bagus kadang traveler lupa dengan keselamatan diri sendiri dan juga kelestarian lingkungan. Menilik kasus kecelakaan yang dialami traveler di tahun 2015, beberapa dari mereka kehilangan nyawa saat mencoba pose ekstrim di suatu tempat wisata. Sebaiknya hal tersebut tidak perlu dilakukan, membahayakan diri sendiri hanya untuk memperoleh foto keren itu bukanlah pertukaran yang sepadan.

Lebih Bijak Dalam Mengambil Gambar dan Membaginya di Media Sosial, Photo by Travelingyuk
Lebih Bijak Dalam Mengambil Gambar dan Membaginya di Media Sosial, Photo by Travelingyuk

Selain pose di tempat berbahaya, ada pula kasus traveler yang berdiri dan menginjak-injak tanaman langka. Ada juga yang berdiri di benda sakral yang seharusnya dijaga kesakralannya. So, yuk lebih perhatian dengan keadaan sekitar, lihat-lihat dulu tanda larangan atau aturan yang terpasang di area wisata. Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dengan begitu selain memberikan rasa aman bagi diri sendiri, obyek wisata yang dikunjungi pun akan terjaga kelestariannya.

Menjadi Traveler Cerdas yang Punya Etika

Sekarang ini tempat ibadah dan kegiatan keagamaan sekalipun bisa menjadi obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Namun untuk menikmati jenis wisata ini traveler harus tahu tata krama dan punya etika. Contoh kecilnya, kalau mengunjungi tempat ibadah apapun agamanya, traveler harus memakai pakaian yang sopan dan tidak membuat kegaduhan selama berkunjung.

Menjadi Traveler Cerdas yang Punya Etika, via instagram
Menjadi Traveler Cerdas yang Punya Etika, via instagram

Begitu pula kalau mau mengabadikan momen-momen tertentu seperti prosesi Waisak di Borobudur, ziarah di makam para Walisongo dan kegiatan keagamaan lainnya, peraturan pertama yang harus dijalankan adalah tidak mengganggu proses yang sakral tersebut. Jangan seenaknya mondar-mandi di depan acara, lebih baik menggunakan kamera tele sehingga bisa menangkap gambar bagus dari jarak jauh. Ingat toleransi harus kita kedepankan ketimbang egoisme diri sendiri.

Meminimalisir Ketergantungan pada Gadget

Orang Indonesia terkenal ketergantungan pada gadget sampai-sampai banyak situs traveling yang membuat ulasan mengenai perbedaan turis mancanegara dengan turis lokal yang salah satu isinya membandingkan penggunaan smartphone dan gadget lainnya. Sadar atau tidak traveler Indonesia dicap sebagai orang yang paling ketergantungan dengan gadget dan itu bukanlah sanjungan melainkan cap negatif.

Meminimalisir Ketergantungan pada Gadget [image source]
Meminimalisir Ketergantungan pada Gadget [image source]
Yuk kita sudahi era negatif pandangan terhadap traveler. Mulai sekarang tahan untuk menggunakan gadget secara berlebihan. Keindahan alam yang disuguhkan itu ada untuk dinikmati dengan mata kepala bukan mata kamera saja. Bukan berarti foto-foto tidak boleh, hanya saja ambil foto seperlunya, sedangkan sisa waktunya bisa kamu gunakan untuk bersantai menikmati keagungan alam ciptaan Tuhan.

Belajar Berbagi dan Berkontribusi Pada Lingkungan Sekitar

Di awal tahun 2016 ini sudah saatnya traveler merevolusi mental dengan hal-hal yang lebih bermanfaat bukan hanya bagi diri sendiri namun juga lingkungan sekitar. Belajarlah untuk tidak hanya datang ke tempat wisata, menikmatinya, mengambil gambarnya dan membagikannya di media sosial. Ada banyak kontribusi nyata yang bisa dilakukan traveler di tempat wisata.

Belajar Berbagi dan Berkontribusi Pada Lingkungan Sekitar [image source]
Belajar Berbagi dan Berkontribusi Pada Lingkungan Sekitar [image source]
Misal mereka datang ke desa adat di pedalaman, upayakan untuk tidak datang dengan tangan kosong. Benda-benda sepele seperti pulpen, pensil, dan buku kadang akan sangat berguna bagi anak-anak di pedalaman. Kalau toh malas membawa benda-benda itu, kamu masih bisa berkontribusi dengan membagikan pengetahuan yang kamu miliki. Meski nilainya kecil bagimu namun itu bisa jadi akan sangat bermanfaat bagi mereka.

Itulah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk merevolusi mental agar menjadi traveler yang lebih baik di tahun 2016 ini. Keep Traveling Guys!

Tags
Revolusi Mental Traveling 2016
Share