Pulau Penyengat, Jejak Warisan Melayu di Tanjungpinang

Rosita

Rosita

On Indonesia
Masjid Raya Sultan Riau Masjid Raya Sultan Riau

Tak hanya keindahan alam mempesona, Kepulauan Riau juga memiliki
sederet destinasi yang kaya peninggalan budaya Melayu. Salah satunya adalah Pulau Penyengat. Di sini Teman Traveler bisa melihat sendiri bangunan peninggalan maupun simbol budaya Melayu dari masa lampau.

Semuanya berdiri kokoh selama ratusan tahun dan terus bertahan hingga kini. Wajib dikunjungi bagi Teman Traveler yang mengaku menyukai wisata sejarah. Yuk, simak bersama ulasan mengenai Pulau Penyengat berikut ini.

Akses menuju Pulau Penyengat

Pompong menuju Pulau Penyengat (c) Rosita/Travelingyuk

Pulau Penyengat masuk dalam wilayah Kepulauan Riau. Posisinya tak terlalu jauh dari Tanjungpinang, dengan Pelabuhan Sri Bintan Pura sebagai pintu gerbang menuju sana. Ya, Teman Traveler harus menempuh perjalanan laut untuk bisa sampai di pulau mungil ini.

Teman Traveler bisa menumpang pompong, kapal kecil milik nelayan setempat, untuk menyebrang ke Penyengat. Tak butuh waktu lama, dalam 15 menit, kalian bakal tiba di tujuan.

Begitu tiba di pulau seluas dua hektar ini, Teman Traveler bisa lanjutkan perjalanan dengan becak motor alias bentor. Kalian bisa menyewa dengan hitungan jam per hari. Satu unit bisa menampung dua hingga tiga penumpang. Pengemuda bentor akan dengan ramah mengantar kalian keliling pulau.

Masjid Raya Sultan Riau

Masjid Raya Sultan Riau (c) Rosita/Travelingyuk

Peninggalan Melayu pertama yang bakal menyambut Teman Traveler di Pulau Penyengat adalah Masjid Sultan Riau. Untuk mencapai tempat ini, kalian cukup berjalan kaki kurang lebih 300 meter dari dermaga setempat.

Di sini Teman Traveler bisa melihat Al-Quran tulisan tangan yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Uniknya, menurut cerita yang beredar, masjid berumur 200an tahun ini dulunya dibangun dengan perekat putih telur dan masih berdiri kokoh hingga kini.

Istana Kantor

Istana Kantor dari depan (c) Rosita/Travelingyuk

Meski terlihat kusam karena umurnya sudah lebih dari 100 tahun, Istana
Kantor masih nampak kokoh. Bangunan yang juga sering disebut sebagai Marhum Kantor ini sempat jadi tempat tinggal Raja Ali beserta kerabatnya antara 1844 hingga 1857.

Bagian gerbang Istana Kantor masih berdiri kokoh dengan pagar
tembok di sekelilingnya. Begitu pula dengan keberadaan menara pengintai yang masih bisa Teman Traveler saksikan hingga kini.

Komplek Makam Raja Ali Haji

Beberapa ratus meter ke arah kiri, tak jauh dari gerbang selamat datang, Teman Traveler akan menemukan Komplek Makam Raja Ali Haji. Beliau merupakan sosok pujangga kerajaan pengarang Gurindam 12. Atas jasanya, Raja Ali Haji diberi gelar Bapak Bahasa oleh Pemerintah Indonesia.

Balai Adat Indra Perkasa

Balai adat tampak depan (c) Rosita/Travelingyuk

Balai Adat Indra Perkasa merupakan replika rumah adat Melayu di Pulau
Penyengat. Bangunan ini biasanya digunakan untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang penting. Siapa saja bisa masuk sini karena memang terbuka untuk umum.

Teman Traveler akan menemukan ruangan dengan panggung pelaminan yang mengusung desain khas Melayu. Bagian ini selalu jadi spot foto favorit wisatawan saat mampir ke Balai Adat Indra Perkasa.

Itulah sekilas ulasan mengenai beberapa warisan budaya Melayu di Pulau Penyengat. Yuk, segera wujudkan rencana liburan Teman Traveler dan jangan lupa masukkan destinasi di atas dalam itinerary kalian. Selamat jalan-jalan.