Menjelajah Pulau Lanjukang, Kepingan Indah Makassar

Membahas wisata bahari Makassar memang seolah tak ada habisnya Teman Traveler. Kali ini saya akan membagikan pengalaman liburan ke Pulau Lanjukang, pulau terluar Makassar yang masuk dalam gugusan Kepulauan Spermonde. Pulau ini juga biasa disebut Lanyukang, yang berarti ‘lanjutkan’ dalam bahasa setempat.

Panorama Lanjukang dari sisi selatan (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Pulau Lanjukang kerap jadi persinggahan para nelayan yang sedang melaut. Posisinya sekitar 40 km dari Makassar, dengan luas tak lebih dari enam hektar. Vegetasi di kawasan ini didominasi cemara pantai dan pohon kelapa.

Kondisi Terkini

Peta di sekitar Lanjukang (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Lanjukang dihuni 14 kepala keluarga, dengan total penduduk tak lebih dari 40 orang. Saya cukup prihatin dengan fakta bahwa pulau ini tidak memiliki fasilitas pendidikan. Anak-anak di Lanjukang pun kebanyakan memilih tak bersekolah, ketimbang harus meninggalkan pemukiman mereka.

Warga Lanjukang juga punya ciri fisik unik, meliputi badan ‘kerdil’, punggung bungkuk, dan rambut jarang. Menurut para ahli, fenomena ini disebut drawfisme, yakni kelainan yang menyebabkan penderitanya memiliki kondisi fisik di bawah rata-rata. Konon hal ini diakibatkan pernikahan antar saudara sekandung (incest) yang dilakukan nenek moyang terdahulu.

Saat ini sepanjang garis pantai Pulau Lanjukang telah mengalami abrasi. Teman Traveler tak perlu kaget jika menemukan banyak pohon tumbang di sini.

Akomodasi dan Transportasi

Resort yang sudah ditinggalkan (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Sebagaimana pulau terluar di Indonesia pada umumnya, fasilitas di Pulau Lanjukang terbilang minim. Statusnya masuk golongan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Namun bagi Teman Traveler yang ingin menginap, tenang saja. Di sini terdapat ‘home stay’ kok.

Lanjukang sebenarnya memiliki sebuah resort semi permanen, namun sudah tak beroperasi sejak tiga tahun belakangan. Tapi ibarat kata peribahasa ‘tak ada rotan, akar pun jadi’. Tak ada hotel, kalian masih bisa memanfaatkan ‘home stay’ berupa rumah warga.

Tidak perlu sungkan karena warga Lanjukang sangat terbuka dengan pengunjung. Kalian bisa bermalam di rumah mereka. Saya sendiri sempat ditawari menginap secara cuma-cuma. Saya pun tak tega menolak penawaran menggiurkan tersebut, hehe.

Lanjukang belum memiliki dermaga. Listriknya pun hanya menyala antara pukul 17.30 hingga 21.00. Sumber airnya berasal dari sebuah sumur, yang sebenarnya berisi air payau. Untuk toilet umum, hanya tersedia satu. Teman Traveler harus bersabar. Warung yang menjual kebutuhan pokok juga hanya ada dua, jadi sebaiknya Teman Traveler mempersiapkan perbekalan lengkap ketika berkunjung ke sini.

Masyarakat sekitar berusaha mencari jaringan telepon (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Simpan saja smartphone Teman Traveler, karena pulau ini sama sekali tak terjangkau sinyal 3G maupun 4G. Bahkan jaringan GSM pun terbilang sulit.

Menumpang Kapal Jollorok (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Moda transportasi reguler menuju pulau mungil nan cantik ini juga belum tersedia. Dari Makassar, Teman Traveler harus menuju Pelabuhan Paotere terlebih dahulu. Berikutnya, kalian bisa sewa Jollorok atau perahu tradisional penduduk sekitar untuk perjalanan pulang-pergi Lanjukang. Biayanya sekitar Rp900.000 hingga Rp1,4 juta. Satu kapal bisa memuat 10 hingga 15 orang. Jika ingin lebih murah, kalian bisa patungan dengan penumpang lain.

Eksplore Lanjukang

Bermain bersama Lanjukers (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Saat hendak mengitari Pulau Lanjukang, rombongan kami sempat disambut meriah oleh beberapa anak. Sontak saya memanggil mereka, meminta untuk menjelaskan keindahan pulau sembari berkelililing. Berangkat dari kawasan pemukiman, kami bergerak menuju arah timur laut, menelusuri jalan setapak berhiaskan semak belukar.

Selama perjalanan bersama para pemandu cilik tersebut, kami sepakat menyebut rombongan kami sebagai ‘Lanjukers’. Mereka lantas tertawa. Senang rasanya melihat antusiasme anak-anak tersebut menyambut wisatawan.

Pesona Lanjukang dari sisi timur (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Begitu sampai di ujung timur Lanjukang, kami tak sanggup menahan hasrat bermain di hamparan pasir putih. Ditemani permadani laut berwarna biru yang begitu menggoda. Apalagi kawasan ini juga sering digunakan pelancong untuk mendirikan tenda, snorkeling, dan berenang.

Puas bermain, perjalanan kami lanjutkan dengan menyisir pantai ke arah tenggara hingga akhirnya sampai di selatan pulau. Kami sempat dikagetkan salah seorang Lanjukers yang dengan lihai memanjat pohon kelapa. Rupanya berinisiatif memetik kelapa muda nan segar dan menyuguhkannya pada kami. Setelah kenyang dengan sajian tersebut, perjalanan kami teruskan.

Mercusuar Instagramable (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Di sisi barat daya pulau terdapat mercusuar yang lumayan Instagramable. Namun perjalanan kami harus terhenti di sini karena ada panggilan makan dari tuan rumah. Kami tak sanggup menolak, lantaran ajakan tersebut diiringi nada nyolot khas pesisir Makassar.

Oh ya, Teman Traveler juga bisa memesan makanan khas Lanjukang. Harganya antara Rp10.000 hingga Rp15.00 per porsi, tergantung menu yang diminta.

Pesona sunset Lanjukang (c) Faiz Fachri/Travelingyuk

Itulah sedikit pengalaman saya menjelajah Pulau Lanjukang. Bagaimana Teman Traveler, siap bertualang di Pulau Sunyi ini? Segera berangkat dan rasakan asyiknya melihat panorama keindahan asri di sisi terluar Makassar.

Tags
kontributor Makassar Travelingyuk wisata makassar
Share