Tradisi Perang Topat 2018, Simbol Kerukunan Antar Umat Beragama di Lombok Barat

Lombok tidak hanya terkenal dengan wisata alam, tapi juga budaya serta adat istiadatnya yang tetap terjaga hingga saat ini. Toleransi antar umat beragama juga erat, sehingga tak heran jika gelaran tradisi Perang Topat tak pernah gagal digelar. Ritual tahunan religi dan budaya ini berlangsung pada tanggal 22 November 2018 di Pura Lingsar, Lombok Barat. Seperti apa keseruan dari Perang Topat 2018 ini? Berikut ulasan dari Kontributor Travelingyuk, Sidik Al-Anshori.

Sudah Ada Sejak 1759

Kemeriahan Perang Topat 2018
Kemeriahan Perang Topat 2018 (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

‘Perang Topat’ atau secara harfiah berarti perang ketupat merupakan salah satu tradisi warisan leluhur tahunan di Lombok antara Suku Sasak yang beragama Islam dan dan suku Bali yang beragama Hindu. Konon, warisan budaya leluhur ini sudah dimulai sejak tahun 1759 dan hingga kini masih terpelihara dengan baik. Pusat prosesi acaranya pun masih tidak berubah sejak ribuan tahun yang lalu yaitu di Pura Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Pembukaan Perang Topat oleh Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid
Pembukaan Perang Topat oleh Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Bangkit Merajut Harmoni dan Toleransi

Umat Hindu Lombok di Pura Lingsar
Umat Hindu di Pura Lingsar (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

“Bangkit Merajut Harmoni dan Toleransi” merupakan tema yang diangkat pada gelaran Perang Topat 2018. Hal ini berarti para pemeluk agama Islam-Hindu mulai bangkit dari segala duka yang pernah terjadi akibat bencana gempa beberapa waktu lalu, sekaligus mempertahankan kerukunan dan saling hormat-menghormati dalam kehidupan bersuku serta beragama.

Umat Muslim pada gelaran Perang Tioat 2018
Potret kemeriahan tradisi tahunan di Lombok Barat (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Kesenian Tradisional yang Mencuri Perhatian

Kesenian Gendang Beleq
Kesenian Gendang Beleq (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Sebelum melaksanakan prosesi Perang Topat berbagai kesenian khas Suku Sasak dan Suku Bali ditampilkan. Walaupun berbeda suku dan agama, persatuan dan persaudaraan sangat terlihat pada penampilan kesenian masing-masing dan menjadi penghibur bagi masyarakat yang menyaksikan acara Perang Topat di kompleks Pura Lingsar.

Kesenian Gamelan Bali
Kesenian Gamelan Bali (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Dimulai Ketika “Rara’ Kembang Waru”

Kemeriahan Perang Topat 2018
Kemeriahan Tradisi tahunan di Lombok Barat (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Prosesi perang topat biasanya dilaksanakan setelah “rara’ kembang waru” yang berarti gugur bunga waru. Rara’ kembang waru bermakna masuknya waktu sholat ashar. Disebut demikian karena konon pada masa lalu, para leluhur menentukan waktu sholat ashar ketika bunga waru mulai gugur yang biasanya tepat pada pukul 16.00 WITA. Setelah “rara’ kembang waru”, dimulailah segala prosesi hingga perang topat dimulai.

Penonton di Tradisi Perang Topat
Penonton di Tradisi Perang Topat (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Prosesi Sebelum ‘Perang Topat’

Batek Baris
Batek Baris (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Sebelum melaksanakan Perang Topat, umat Hindu terlebih dahulu melakukan Puja Wali atau persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya dilanjutkan dengan arakan ketupat sebesar butir telur yang dipergunakan sebagai ‘peluru’ oleh iring-iringan Batek Baris. Iringan Batek Baris ini merupakan belasan pasukan berpakaian ala kompeni Belanda, lengkap dengan senapan.

kaum ibu yang membawa ribuan ketupat dan sesajen
kaum ibu yang membawa ribuan ketupat dan sesajen (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Batek Baris berada di barisan depan mengawal puluhan kaum ibu yang membawa ribuan ketupat dan sesajen dalam bentuk bunga dan buah-buahan menuju Kemalik atau tempat yang dikeramatkan oleh Suku Sasak. Kemalik yang berada di wilayah Pura Lingsar menjadi tempat proses doa sebelum memulai acara perang topat.

Serunya Perang Topat

Warga saling melempar topat atau ketupat
Warga saling melempar topat atau ketupat (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Setelah proses doa di Kemalik selesai, tibalah saatnya para warga saling melempar dengan menggunakan ribuan ketupat. Pada ‘perang’ ini biasanya dihiasi dengan senyum keceriaan para pelempar dan tidak ada satupun yang merasa dendam ketika terkena ‘peluru’ ketupat.

Berbagai perangkat yang harus tersedia agar Perang Topat berjalan sesuai dengan warisan leluhur yakni rombong, sesaji, kebun odek, lamak, momot, kerbau dan ketupat. Menariknya, tradisi ini tidak hanya dihadiri warga sekitar, tapi juga wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Saling melempar ketupat
Saling melempar ketupat (c) Sidik Al-Anshori/Travelingyuk

Itu tadi ulasan lengkap mengenai Perang Topat 2018. Perang yang bertujuan untuk menjaga perdamaian antar umat beragama. Event ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk Teman Traveler melihat kerukunan umat beragama di Lombok. Tak perlu khawatir, tradisi ini juga akan digelar di tahun depan, jadi, siapkan diri Teman Traveler untuk mengikuti acara ini ya!

Tags
Indonesia Lombok Lombok Barat Nusa Tenggara Barat Tradisi di Lombok Travelingyuk wisata lombok
Share