Pendopo Agung Mojokerto, Wisata Sejarah Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit merupakan yang terbesar di Indonesia. Didirikan pada 1293 oleh Raden Wijaya. Puncak kejayaannya terjadi pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (Raja ke-4), dengan didampingi Mahapatih Gadjah Mada. Mojokerto menjadi pusat pemerintahan Majapahit kala itu, sehingga tak heran jika ditemukan banyak peninggalan kuno. Salah satunya adalah Pendopo Agung Mojokerto yang dibangun antara 1964 hingga 1973 oleh Kodam V/Brawijaya.

Pembangunan ini didasarkan pada penemuan umpak-umpak, yang dianggap sebagai pendopo keraton besar di masa lalu. Lokasi pendopo berada di Dusun Ngelinguk, Desa Sentonorejo, kecamatan Trowulan.

Suasana di sekitarnya cukup asri dan sering digunakan pengunjung
untuk melepas penat. Lantas apa saja peninggalan dan hal menarik yang terdapat di kompleks Pendopo Agung Mojokerto? Mari simak ulasan berikut ini.

Pintu Gerbang

Pintu masuk kawasan pendopo (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Sebelum masuk kawasan pendopo, Teman Traveler akan mendapati gapura hitam besar dengan arsitektur khas Jawa kuno. Gapura menjadi pembatas area pendopo dengan area luar, yang biasa digunakan masyarakat untuk berjualan dan kegiatan lainnya. Kalian tidak perlu membayar tiket untuk mengunjungi destinasi ini, cukup membayar seikhlasnya.

Patung Raden Wijaya

Patung Raden Wijaya (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Begitu melewati gerbang masuk, akan ada patung hitam dengan sentuhan corak emas di tengah halaman pendopo. Patung ini merupakan sosok Raja Majapahit, Raden Wijaya. Figur Sang Penguasa tampak berdiri di atas umpak batu hitam dan dinaungi payung kerajaan warna emas.

Prasasti Mahapatih Gadjah Mada

Prasasti Gadjah Mada (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Di sebelah kiri pintu masuk terdapat cungkup kecil dengan prasasti Mahapatih Gadjah Mada. Tokoh satu ini memiliki peran penting dalam masa keemasan Kerajaan Majapahit. Ia juga terkenal dengan Sumpah Palapa, sumpah untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara.

Monumen Gadjah Mada sendiri sudah ada sejak 22 Juni 1986. Kala itu keberadaannya diresmikan oleh Komando Pusat Polisi Militer.

Pohon Beringin Tua

Pohon beringin berusia puluhan tahun (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Di sisi lain halaman terdapat pohon beringin berukuran besar. Pohon ini ditanam oleh Gubernur Jawa Timur, Mohamad Nur dalam rangka memperingati HUT Kodam VIII/ Brawijaya pada 1973 silam. Di sekitar sini juga terdapat pohon besar lain yang membuat suasana sekitar pendopo semakin asri dan segar.

Bangunan Pendopo

Detail bangunan pendopo agung (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk
Dokumentasi mantan Pejabat Pangdam V Brawijaya (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Tepat di belakang patung Raden Wijaya terdapat bangunan pendopo dengan arsitektur Jawa kental. Bangunannya didominasi kayu dan berhiaskan ukiran indah di tiap sudutnya. Terdapat pula pilar umpak batu yang sudah ada sejak zaman Majapahit.

Pendopo digunakan sebagai tempat istirahat wisatawan (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Area ini biasanya dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat karena
asri dan sejuk. Teman Traveler juga bisa melihat foto-foto mantan pejabat Pangdam V Brawijaya sebagai pendiri pendopo.

Relief Kisah Kerajaan

Relief penobatan Raden Wijaya (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Di belakang pendopo terdapat relief yang mengisahkan beberapa kejadian penting selama masa Kerajaan Majapahit. Salah satunya adalah penobatan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit pada tanggal 15, bulan Kartika, tahun 1215 saka atau sekitar 10 November 1293. Peristiwa ini juga disebut awal mula berdirinya Majapahit.

Pembacaan Sumpah Palapa (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Pada masa pemerintahan Tribuwana Tunggadewi (Ratu ke-3 Majapahit sepeninggal Jayanegara), Gadjah Mada diangkat sebagai Mahapatih menggantikan Mpu Nala. Saat momen inilah, Sang Patih mengucapkan Sumpah Palapa yang terkenal.

“Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana isun amukti palapa,” demikian kira-kira bunyi sumpah Gadjahmada.

Intinya, Mahapatih Gadjah Mada bersumpah takkan menikmati palapa (rempah – rempah) atau kenikmatan dunia sebelum bisa menyatukan Nusantara.

Panglima Kodam Brawijaya

Daftar Nama Pejabat Pangdam V/Brawijaya (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Sejak tahun 1447-1498 gelar kepemimpinan Kerajaan Majapahit berubah menjadi Brawijaya I-II-III-IV-V-VI. Pada masa pemerintahan Kodam V/Brawijaya, pendopo agung ini lantas didirikan.

Paku Bumi Pengikat Gajah

Paku bumi diletakkan dalam ruangan khusus (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Di area belakang terdapat batu berbentuk segi enam menancap tanah dengan kemirinagn sekitar 60 derajat. Konon batu ini merupakan paku bumi pengikat gajah dan menembus hingga kolam segaran, terpisah 400 m dari Pendopo Agung.

Menurut cerita yang dipercaya masyarakat sekitar, Paku bumi ini dulunya
merupakan tempat mengikat tali gajah atau tunggangan Sang Mahapatih Gadjah Mada.

Petilasan Panggung

Petilasan panggung (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Di area paling belakang terdapat petilasan berbentuk joglo. Tempat ini dipercaya sebagai tempat Raja Brawijaya bersemedi sebelum membuka
pemukiman di hutan tarik, yang kemudian menjadi awal mula Kerajaan Majapahit.

Pendopo Agung Mojokerto ini juga dipercaya sebagai tempat pembacaan Sumpah Palapa oleh Patih Gadjah Mada. Banyak pula yang menganggapnya sebagai simbol moksa (terlepasnya jiwa raga dari ikatan duniawi) Raden Wijaya. Beberapa pengunjung juga kerap terlihat bersemedi di sini.

Lingkungan Bersih dan Asri

Halaman depan Pendopo Agung (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Tidak hanya belajar sejarah, Teman Traveler juga bisa jalan-jalan sambil menikmati lingkungan luas, asri, nan bersih di Pendopo Agung Majapahit. Cocok untuk sekedar melepas penat di akhir pekan. Bagaimana, adakah yang tertarik berkunjung ke wisata Mojokerto ini dalam waktu dekat?

Tags
Indonesia kontributor Mojokerto Travelingyuk wisata mojokerto
Share