Museum Sri Baduga, Bermain Alat Musik Sunda Hingga Menonton Pertunjukan Film Sejarah

Terkadang kita ingin melipir sejenak dari padatnya rutinitas. Obat yang cukup ampuh adalah liburan. Bila berkunjung ke wisata alam terhalang oleh jarak yang kerap kali cukup jauh, maka destinasi lain seperti museum bisa jadi pilihan. Kalau sedang di Bandung, Teman Traveler bisa singgah ke Museum Sri Baduga.

Siapa bilang berkunjung ke tempat bersejarah itu membosankan? Ikuti ulasan berikut untuk mengetahui keseruan Museum Sri Baduga.

Museum Sri Baduga

Museum Sri Baduga
Bangunan panggung museum Sri Baduga (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Museum Sri Baduga merupakan cagar budaya Kota Bandung yang menyimpan koleksi peninggalan sejarah dan kebudayaan khas Jawa Barat. Berlokasi di ruas Jalan BKR 185 Tegalega, destinasi ini tak jauh dari Monumen Bandung Lautan Api. Desain bangunannya mempunyai ciri unik khas tradisional Jawa Barat yaitu rumah panggung dengan suhunan panjang.

Wisata di Bandung ini didirikan sejak tahun 1974. Namun, baru diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Budaya pada tahun 1980 dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Barat.

Kemudian 1990, berganti menjadi Museum Negeri Provinsi Jawa Barat Sri Baduga. Sri Baduga sendiri berasal dari Jayadewata, seorang raja agung Hindu yang berhasil membawa kemakmuran kerajaan Sunda.

Koleksi Mahkota Ibu Padi

Museum Sri Baduga
Mahkota Ibu Padi (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Museum Sri Baduga punya luas tanah sekitar 8415.5 m2. Di tempat ini terdapat banyak koleksi sejarah yang masih terawat dengan baik. Seperti perhiasan, mata uang, fosil, bebatuan, keramik, seni budaya, alat musik serta lainnya. Salah satunya adalah koleksi Mahkota Ibu Padi yaitu simbol kesuburan dalam budaya Sunda.

Dalam masyarakat Sunda, alam serta bumi dianggap sebagai Ibu atau Nyai Pohaci yang dipercaya sebagai sumber kehidupan. Mahkota Ibu Padi merupakan perhiasan yang dikenakan boneka Ibu Padi saat upacara mapang sri untuk menyambut panen raya.

Konon dia tidaklah dilahirkan sebagai manusia melainkan dari sebutir telur. Ketika ia meninggal mayatnya tumbuh menjadi sumber pangan bagi manusia.

Koleksi Geologika Masa Lampau Hingga Sekarang

Koleksi geografis museum Sri Baduga (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Museum Sri Baduga tidak hanya memajang koleksi zaman purba, namun juga menyajikan data geografis Jawa Barat masa lampau hingga sekarang. Seperti pada gambar di atas yang merupakan papan informasi letak geografis bernilai sejarah di Jawa Barat.

Jika kita memencet salah satu tombol, maka lampu akan berkedip menunjukkan lokasi. Dari sini pengunjung bisa mengetahui di mana sajakah letak penemuan artefak, daerah aliran sungai, dan lain-lain.

Koleksi Tutup Nisan Menarik Perhatian

Batu Tutup Nisan (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Salah satu koleksi sejarah yang cukup menarik perhatian adalah tutup nisan, sisa peninggalan dari makam Belanda Jalan Pajajaran. Batu andesit tersebut terletak di dekat pintu masuk dengan ukuran cukup besar, panjang sekitar 1.3m, lebar 0.5m, serta tebal 0.15 m. Berwarna abu muda dengan tulisan berbahasa Belanda.

Dalam batu nisan terdapat tulisan “ANNO 1756”, “Anna Maria”, “Sergee De Groot” serta sebuah tanggal “28 Desember 1756”. Sedangkan dalam keterangannya disebutkan bahwa batu ini berasal dari Dayeuhkolot, kemudian dipindahkan ke pemakaman Kristen (Kerkhof) Pajajaran. Tutup
nisan tersebut merupakan milik Anna Maria, putri Sersan De Groot, tentara VOC yang ditugaskan ke Bandung.

Koleksi Etnografi, Kecantikan Seni Nusantara

salah satu koleksi etnografi berupa wewayangan 2 dimensi (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Koleksi etnografi termasuk seni budaya. Di sini Teman Traveler bisa melihat pameran hasil karya seni serta beragam budaya Sunda yang menawan. Mulai dari kain, tenunan, keramik, baju pengantin, alat musik, serta wewayangan Jawa.

Karya seni rupa juga tersedia dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Tidak hanya melihat, Teman Traveler juga bisa berfoto di sini.

Belajar dan Bermain Alat Musik Tradisional

Museum Sri Baduga
Memainkan alat musik tradisional, gamelan (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Bukan hanya menyaksikan pameran, Teman Traveler juga bisa memainkan langsung alat musik tradisional Sunda, seperti gamelan dan angklung. Alat musik ini tidak berada dalam ruang pameran, melainkan di ruang terbuka sebelah auditorium.

Angklung yang bisa dimainkan oleh pengunjung (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Jika kalian penasaran cara memainkannya, bisa mencobanya dengan leluasa. Namun harus tetap berhati–hati jangan sampai merusaknya. Bila tidak bisa menggunakannya, biasanya ada seorang penjaga yang bisa dimintai pertolongan.

Pertunjukan Film Sejarah Bandung Lautan Api

Museum Sri Baduga
Pemutaran Film Bandung Lautan Api di Ruang Auditorium (c) Dwi Wahyu Intani/Travelingyuk

Setelah berkeliling di ruang pameran, kalian juga bisa beristirahat sembari menonton pertunjukan kesenian atau film di ruang auditorium. Pertunjukan seni tari dan film sejarah seperti Bandung Lautan Api sering diputar di sini. Tidak dikenakan biaya lagi untuk masuk ke dalamnya.

Museum Sri Baduga dibuka pada hari Selasa hingga Minggu, sedangkan Senin dan hari libur tutup. Jam operasional pun berbeda setiap harinya, Selasa–Jum’at buka pada jam 08.00–16.00 dan Sabtu–Minggu 08.00 – 14.00 WIB. Tiket masuknya terjangkau yaitu Rp3 ribuan untuk umum.

Jika kalian sedang berwisata di Bandung, sempatkan singgah ke Museum Sri Baduga. Rasakan sendiri keseruannya bersama kawan maupun keluarga.

Tags
Bandung Indonesia kontributor Museum Sri Baduga Travelingyuk Wisata
Share