Museum Pos Indonesia di Bandung, Mengenal Komunikasi Sebelum Ada Sosmed

Teman Traveler ada yang pernah mengalami masa-masa berkirim surat lewat pos? Komunikasi sebelum era Internet dan sosial media memang menarik untuk disimak ya. Jika ingin bernostalgia sedikit soal hal tersebut, kalian bisa mampir ke Museum Pos Indonesia.

Tempatnya bisa Teman Traveler temukan di Jalan Cilaki no 73, Bandung. Sangat mudah dijangkau kok, lantaran berada tepat di samping Gedung Sate. Yuk, simak cerita saya saat berjalan-jalan di Museum Pos Indonesia belum lama ini.

Surat yang Ditunggu

diorama_glj.jpg
Diorama tukang pos dan warga menunggu surat (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Surat jadi salah satu barang paling ditunggu beberapa puluh tahun silam. Teman Traveler bisa sedikit membayangkan situasinya lewat diorama yang dipajang di dekat pintu masuk museum. Digambarkan, warga dari berbagai kalangan usia dan profesi tampak antusias menanti surat mereka datang.

museum pos indonesia
Museum Pos Indonesia (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Jika dibandingkan dengan sekarang, mungkin antusiasme tersebut sama seperti saat Teman Traveler harap-harap cemas menanti balasan pesan di sosial media atau surat elektronik ya. Hanya saja zaman sekarang kurir pengantar pesannya tidak terlihat karena semua sudah serba digital.

Prangko dari Seluruh Dunia

museum pos indonesia
Rak prangko dari berbagai negara (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Bagi filatelis atau penggemar prangko, bagian museum ini tentu bakal sangat menarik. Ribuan koleksi prangko ditampilkan di papan kaca serta rak berjejer. Semuanya berasal dari berbagai masa dan negara.

Menariknya, biasanya prangko edisi khusus akan dikeluarkan sesuai dengan kejadian luar biasa yang terjadi pada masa itu. Contohnya pada 2016, Pos Indonesia mengeluarkan prangko edisi Gerhana Matahari Total. Jadi sedikit banyak kita juga bisa belajar soal sejarah.

prangko_khusus_dZP.jpg
Prangko batik dan Kulit gunungan (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Selain itu ada juga beberapa koleksi prangko yang terbilang unik. Salah satunya adalah prangko dari kain batik asli dan kulit gunungan. Wah, ternyata prangko tidak melulu terbuat dari kertas ya Teman Traveler.

Perlengkapan Pos dari Masa Lalu

kotak_pos_xLq.jpg
Kotak pos dari masa ke masa (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Teman Traveler juga bisa melihat perubahan kotak pos dari masa ke masa di museum ini. Beberapa merupakan sumbangan dari Negeri Sakura alias Jepang.

Tak hanya itu, ada juga timbangan, alat pembuat materai, seragam tukang pos, dan kain pembungkus surat serta barang. Bahkan Teman Traveler akan menemukan berbagai macam kendaraan yang dulunya sempat digunakan Pos Indonesia untuk mengantar surat.

museum pos indonesia
Vending machine benda pos (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Saya sendiri baru tahu bahwa ternyata sampai awal tahun 2000 beberapa kantor pos besar menyediakan vending machine berisi aneka keperluan surat menyurat, mulai dari amplop hingga prangko. Adakah di antara Teman Traveler yang pernah melihat langsung mesin semacam ini?

Surat Emas dari Para Raja

ruangan_surat_emas_rGd.jpg
Koleksi surat emas (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Surat telah jadi media komunikasi berbagai kalangan, termasuk para raja
dan pemimpin negara. Di museum ini Teman Traveler bisa melihat surat emas dari berbagai daerah dan negara. Semuanya ditulis dalam bahasa berbeda. Isinya macam-macam dan semua ditulis tangan langsung.

Sosok Sang ‘Bapak’ Pos

mas_soeharto_7K9.jpg
Patung dan Lukisan Mas Soeharto (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Mas Soeharto merupakan Kepala Jawatan Pos Telegraf dan Telepon (PTT)
pertama di Indonesia. Perjuangan beliau dalam mengembangkan jaringan pos dan telepon di Nusantara benar-benar luar biasa. Sayangnya, hingga kini tak ada yang tahu di mana jasadnya berada. Diduga beliau diculik oleh tentara Belanda di awal masa kemerdekaan.

Guna mengenang jasa Mas Soeharto, dibuat seri prangko khusus pada 1955. Tidak hanya itu, di dalam museum Teman Traveler juga bisa melihat patung dan lukisan Sang Bapak Pos. Jika kalian sempat jalan-jalan ke Jogja, bakal ada salah satu ruas jalan yang diberi nama Mas Soeharto.

museum pos indonesia
Tugu Peringatan Pahlawan PTT (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Ternyata surat memegang banyak peran penting di masa lalu ya Teman Traveler. Jika kalian penasaran ingin mampir ke Museum Pos Indonesia, datanglah antara Senin sampai Jumat antara pukul 09.00 hingga 16.00. Khusus Sabtu, museum beroperasi antara pukul 09.00 hingga 13.00. Oh ya, tidak ada tiket masuk sama sekali. Kalian bisa masuk secara gratis.

Sempatkan untuk mampir ke Museum Pos Indonesia saat jelajah wisata Bandung, ya. Jadi mau ajak siapa ke sini?

Tags
Bandung Indonesia Jawa Barat kontributor Travelingyuk wisata bandung
Share