Museum Konferensi Asia Afrika, Bukti Pencapaian Diplomasi Indonesia

‘Jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah’, begitulah kalimat yang pernah diungkapkan Sang Proklamator, Ir Soekarno. Indonesia sendiri memang punya banyak sejarah menarik untuk dipelajari. Salah satunya adalah pencapaian monumenal yang bisa Teman Traveler lihat buktinya di Museum Konferensi Asia Afrika.

Museum di Bandung ini menyimpan banyak bukti terkait keberhasilan Indonesia menyatukan suara negara-negara di Asia dan Afrika. Sebagai sebuah negara yang kala itu baru merdeka sekitar 10 tahun, hal tersebut merupakan sebuah prestasi luar biasa. Lantas apa saja yang ada di Museum Konferensi Asia Afrika? Yuk, simak ulasan saya.

Upaya Mengusahakan Kemerdekaan

Diorama konferensi (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Konferensi Asia Afrika (KAA) mulanya merupakan pemikiran yang dihasilkan dari pertemuan lima perdana menteri dari Sri Lanka, Burma, Indonesia, Pakistan, dan India pada 1954. Hadirnya KAA diharapkan bisa mempercepat proses kemerdekaan sejumlah negara yang masih berada di bawah pendudukan negara asing.

Indonesia sendiri akhirnya dipercaya sebagai tuan rumah KAA pertama pada 1955. Kala itu pertemuan digelar di Bandung dan dihadiri 29 negara. Nah, untuk mengenang peristiwa tersebut dibuatlah beberapa diorama istimewa yang dipamerkan di Museum KAA.

Lokasi dan Jam Buka

Antrean pengunjung (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Museum yang diresmikan pada 24 April 1980 ini bertempat di
Gedung Merdeka, tepatnya di Jalan Asia Afrika no.65. Lokasinya tidak jauh dari Alun-Alun Bandung. Sangat mudah dijangkau dari berbagai sudut Paris van Java.

Teman Traveler hanya perlu mengisi buku tamu untuk masuk. Tak perlu membeli tiket atau membayar biaya apa pun. Museumnya sendiri buka mulai Selasa hingga Kamis (pukul 14.00-16.00) dan Sabtu-Minggu (pukul 09.00-16.00). Khusus Senin dan Hari Libur Nasional, mereka tidak akan menerima pengunjung.

Oh ya Teman Traveler, museum juga akan tutup saat jam istirahat. Pengunjung tidak bisa mampir antara pukul 12.00 hingga 13.00.

Ruang Pameran Utama

Ruang utama (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Begitu masuk ruang utama museum, Teman Traveler akan disambut bola dunia besar bertuliskan nama negara peserta KAA perdana pada 1955 silam. Selain itu ada diorama Presiden Soekarno yang menyampaikan pidato pembukaan berjudul ‘Let a New Asia and New Africa be Born’, konon berhasil memancing tepuk tangan meriah dari semua hadirin kala itu.

Teman Traveler juga bakal melihat patung sejumlah perdana mentri pencetus KAA, seperti Sir John Kotelawala, U Nu, Alisastroamijoyo, Mohammed Ali, dan Pandit Jawaharlal Nehru.

Deretan poster di ruang utama (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Ruang pameran utama juga dihiasi deretan kursi meja dan mesin tik yang
digunakan pada KAA pertama. Di sisi lain ada beberapa poster yang menceritakan kronologi jalannya konferensi pada 1955, kutipan pidato, tuntutan anak-anak dunia, dan profil negara peserta.

Mesin tik di ruang utama (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Teman Traveler juga bisa membaca informasi lebih detail lewat presentasi di beberapa layar interaktif. Tenang saja, jumlahnya cukup banyak kok. Tersebar di sejumlah sudut di ruang pamer utama.

Ruang KAA 1955

Ruang KAA 1955 (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Begitu selesai menjelajah ruang utama, Teman Traveler bisa langsung menjelajah ke Ruang KAA 1955. Area ini sering digunakan untuk menggelar beragam aktivitas penting di tingkat kota, provinsi, nasional, hingga Internasional. Sementara di hari biasa, biasanya ruangan ini akan dipenuhi pengunjung yang mendengarkan dengan seksama penjelasan dari pemandu museum.

Ruangan Lain

Lorong berhiaskan bendera negara (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Ruangan lain yang tak boleh Teman Traveler lewatkan di museum ini adalah Perpustakaan, Ruang Pameran Sementara, Ruang Audio Visual, Ruang Sahabat Museum KAA, dan Ruang Suvenir. Cukup lengkap, bukan?

Oh ya, museum ini juga kerap dimanfaat beberapa komunitas untuk menggelar kegiatan. Salah satunya adalah Sahabat KAA, yang beberapa kali menghelat acara menarik seperti ‘Bandung Historical Study Games’, ‘Night at The Museum’, dan masih banyak lagi.

Palestine Street

Palestine Street (c) Listya Prabawa/Travelingyuk

Masih ada hubungannya dengan KAA, di luar gedung museum, tepatnya di sisi timur Alun-alun Bandung, terdapat sebuah jalan yang diberi nama Palestine Street. Diresmikan pemerintah kota pada 13 Oktober 2018, jalan ini merupakan bentuk solidaritas Indonesia terhadap Palestina yang hingga kini masih memperjuangkan kemerdekaannya.

Itulah sedikit pengalaman saya jalan-jalan di Museum Konferensi Asia Afrika. Liburan tak harus melulu bersantai di pantai atau bermain di sekitar air terjun. Agar lebih bermakna, tak ada salahnya jalan-jalan sambil belajar sejarah. Jika sedang keliling wisata Bandung, jangan lupa sempatkan mampir ke sini ya.

Tags
Bandung kontributor museum konferensi asia afrika Travelingyuk wisata bandung
Share