Menyelami Filosofi Kain Nusantara di Museum Batik Jogja

Gallant Tsany A

Gallant Tsany A

On Indonesia
Museum Batik Jogjakarta Museum Batik Jogjakarta

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak Teman Traveler begitu mendengar kata batik? Kain atau motif? Nama-nama seperti Jogja, Solo, atau Pekalongan? Apapun itu, batik memang sudah identik dengan Indonesia, terutama di kota-kota tersebut. Mahakarya asli Indonesia ini juga sudah terdaftar sebagai salah satu warisan budaya dunia UNESCO dan bisa dinikmati, juga dipelajari di Museum Batik Jogja.

Jika ingin tahu lebih banyak soal sejarah batik, Teman Traveler bisa berkunjung ke Jogja. Yuk, simak penjelasannya.

Berawal dari Keprihatinan

Penjelasan sejarah museum oleh guide (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Museum Batik Jogjakarta didirikan oleh dua pemerhati dan penggiat batik, Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih, pada 1973. Keduanya berniat menyediakan sarana khusus untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang batik. Baik Hadi maupun Dewi kala itu merasa resah dengan maraknya batik cetak (print), yang dianggap tak mewakili esensi seni dari sebuah batik.

Perangkat membatik sederhana (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Popularitas batik cetak kala itu membuat banyak perusahaan batik tulis dan cap gulung tikar. Kedua pendiri Museum Batik Jogjakarta berpendapat bahwa batik bukan sekedar motif, melainkan proses. Mereka pun sepakat mendirikan museum khusus untuk melindungi aneka karya batik tulis dan cap.

Beberapa koleksi kain batik (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Batik sendiri dimaknai sebagai sebuah proses menghasilkan desain atau motif pada pakaian, menggunakan lilin sebagai perintang warna. Inilah mengapa batik cetak, yang menggunakan tinta sebagai pewarna, tak bisa dianggap sebagai batik sebenarnya.

Koleksi Alat dan Bahan Membatik

Koleksi alat dan bahan membatik dalam etalase kaca (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Teman Traveler bisa melihat beragam peralatan membatik di sini. Canting salah satunya. Mirip seperti kuas lukisan atau kaligrafi, setiap canting memiliki bentuk dan fungsi berbeda. Ada yang digunakan untuk meletakkan lilin pada kain pertama kali, membuat blok, ada juga yang untuk membuat garis-garis.

Canting dulunya terdiri dari pegangan kayu dan lilitan rambut di bagian depan. Namun pengaruh bangsa-bangsa pendatang turut berpengaruh pada perkembangan canting. Lilitan rambut ditinggalkan dan diganti tembaga.

Contoh kain saat proses membatik (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Museum juga memiliki koleksi bahan-bahan membatik seperti parafin, lilin, daun, kayu, dan bunga sebagai pewarna alami. Ada juga madu yang digunakan sebagai perekat dan pewarna buatan dari bahan kimia.

Zaman dulu, untuk membedakan batik asli dan bukan, cukup menjilat sedikit permukaan kainnya. Kandungan madu pada lilin akan menciptakan sensasi manis. Namun tentunya cara ini hanya berlaku jika batik dibuat menggunakan bahan alami.

Proses membatik tidak bisa rampung dalam waktu singkat. Dimulai dari klowong atau memberikan goresan lilin pertama kali pada pola-pola yang dibentuk. Berikutnya ada nembok atau mem-blok bagian sebelum dicelup pewarna. Dilanjutkan dengan medel (memberi warna), ngerok (menghilangkan lilin), mbironi (menutup warna biru pada kain), nyoga (memberi warna coklat), hingga nglorod atau ngebyok (merebus kain agar tiap lilinnya luruh)

Motif dan Sejarah Kain Batik

Beberapa gulungan koleksi (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Dari awal perkembangan batik, sudah terdapat beragam motif. Masing-masing memiliki makna filosofis sendiri. Motif tersebut juga diiringi aturan lain, seperti kapan dan siapa saja yang boleh mengenakan batik tersebut. Parang Besar misalnya, motif ini sangat disakralkan dan hanya boleh digunakan pemimpin besar atau Sultan.

Koleksi kain batik dalam lemari (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Ada pula Batik Sidomukti atau Sidoasih yang biasa dikenakan pasangan pengantin kala menikah. Sementara orang tua sang pengantin akan mengenakan motif Batik Truntum, yang melambangkan cinta orang tua dalam menuntun pasangan pengantin menuju kehidupan baru.

Tentu saja masih ada sederet motif batik lain dengan filosofi masing-masing. Teman Traveler harus datang ke Museum Batik untuk mengetahui makna di balik motif-motif tersebut, sehingga tak sampai salah ketika mengenakannya nanti.

Batik Solo, Jogjakarta, dan Pekalongan

Kain batik disimpan dengan cara digulung (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Di Museum Batik Jogjakarta, Teman Traveler juga bisa menemukan beragam koleksi kain batik. Mulai dari motif khas Solo hingga Jogjakarta. Sedikit latar belakang sejarah, dua kota tersebut sebelumnya disatukan dalam panji Kerajaan Mataram dan menjadi cikal bakal lahirnya batik.

Setelah terjadi perpecahan, kedua kota tersebut lantas memiliki pemerintahan dan wilayah sendiri. Demikian pula dengan motif batiknya, masing-masing kota punya ciri khas sendiri.

Batik Peranakan (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Batik lantas mulai dibawa dan berkembang di daerah pesisir. Namun jika di Jogja dan Solo batik didominasi warna coklat, kawasan pesisir justru mengembangkan motif batik peranakan. Batik ini banyak dipengaruhi budaya Tionghoa dan Belanda hingga terdapat perbedaan signifikan, terutama soal warna yang lebih variatif. Di sinilah muncul motif seperti Batik Lasem dan Batik Pekalongan.

Seorang ibu sedang Membatik (c) Gallant Tsany/Travelingyuk

Sungguh naif rasanya jika kita merasa sudah tahu banyak soal batik, padahal dunia batik sendiri begitu luas. Sebagai pusat batik dunia, Jogjakarta bisa jadi tempat bagus untuk belajar mengenai sejarah batik.

Untuk memasuki Museum Batik Jogjakarta, Teman Traveler hanya perlu memberikan donasi sebesar Rp20.000. Kalian bakal mendapat banyak pengetahuan anyar soal filosofi batik, didampingi seorang guide kompeten. Kenali lebih dalam agar mahakarya asli Nusantara ini tak lantas punah atau dicuri bangsa lain di kemudian hari.