Mengenal Desa Kertasari, Penghasil Rumput Laut Terbesar di NTB

Nusa Tenggara Barat dikenal dengan destinasi favorit para turis. Mulai dari Lombok, Pulau Senggigi, Sumbawa, hingga Pulau Gili semua dikenal memesona. Namun kamu juga perlu mengenal Desa Kertasari yang merupakan desa penghasil rumput laut terbesar di NTB. NTB yang memiliki kekayaan laut, tak jarang dimanfaatkan sebagian warga sebagai lahan mata pencaharian.

Ciri Khas Desa Kertasari

Pesisir pantai desa Kertasari (c) Travelingyuk/ Lutfi Dananjaya

Kontur laut di Desa Kertasari memiliki dangkal sepanjang +- 500 meter dari bibir pantai. Hal ini tentunya dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat desa. Selain menangkap ikan, masyarakat juga memanfaatkan tumbuhan dari laut. Tumbuhan yang dimanfaatkan merupakan rumput laut berjenis Eucheuma cottonii yang berwarna hijau.

Bertani di sisi laut foto karya Khaeril Anwar (c) Travelingyuk/ Lutfi Dananjaya

Desa Kertasari merupakan desa yang unik, karena hampir seluruh masyarakatnya memakai Bahasa Selayar sebagai alat komunikasi. Bahasa Selayar bukanlah satu bahasa asli, melainkan campuran dari Bahasa Makassar, Bahasa Bugis, dan Mandar. Perlu diketahui Pulau Selayar ini berada di Selatan Provinsi Sulawesi Selatan. Artinya butuh berkilo-kilo meter jaraknya dari Selayar untuk menuju Desa Kertasari.

Rumput Laut Sebagai Ladang Pekerjaan

Daeng Hamid, salah satu tokoh di desa Kertasari (c) Travelingyuk/ Lutfi Dananjaya

Masyarakat Desa Kertasari sampai saat ini menerapkan budaya Selayar sampai ke perantauan. Tidak hanya bahasa, mereka juga memiliki profesi sebagai petani laut. Hal inilah yang membuat Desa Kertasari kaya akan rumput laut dengan hasil satu kali panen sebanyak 50-60 ton kering.

Khusus di Desa Kertasari metode tanam yang digunakan adalah metode patok dasar. Metode patok dasar merupakan metode yang memanfaatkan pasang surut air laut untuk menanam rumput laut. Jadi masyarakat akan mulai menanam ketika air laut mulai surut.

Petani desa Kertasari (c) Travelingyuk/ Lutfi Dananjaya

Rumput laut jenis Eucheuma cottonii akan membutuhkan waktu 45 hari untuk fase satu kali panen. Waktu panennya akan terhitung dari pertama kali ditanam, ditambah waktu 5 hari untuk proses penjemuran, hingga rumput laut kering maksimal dan siap untuk dijual.

Tersimpan Keindahan Tersembunyi

Hijau menghampar hasil laut desa Kertasari (c) Travelingyuk/ Lutfi Dananjaya

Di musim panen, Desa Kertasari terlihat sangat hijau, mata akan dihujani dengan pemandangan rumput laut yang tumbuh subur menghampar di sisi laut. Desa ini bukan hanya indah, namun menyimpan berbagai keunikan dan pengetahuan baru untuk Teman Traveler. Setuju?

Itu dia cerita mengenal Desa Kertasari sebagai penghasil rumput terbesar di NTB. Jangan cuma datang ke tempat terkenal, kamu juga bisa belajar banyak di sini. Jadi kapan mau datang ke Desa Kertasari?

Tags
NTB wisata ntb
Share