Yuk Ngabuburit di Masjid Raya Sultan Riau, Kokoh Ratusan Tahun dengan Perekat Telur

Jalan-jalan ke Tanjungpinang, jangan lupa mampir ke Pulau Penyengat. Pulau satu ini memiliki bangunan ikonik yang pantang Teman Traveler lewatkan. Namanya, Masjid Raya Sultan Riau.

Sudah berusia ratusan tahun dan konon dibangun dengan putih telur sebagai perekat. Hebatnya, masjid tetap berdiri kokoh hingga kini.

Masjid Raya Sultan Riau (c) Rosita/Travelingyuk

Menuju sini cukup mudah, Teman Traveler tinggal menyeberang 15 menit naik pompong (kapal nelayan-red) dari Pelabuhan Sri Bintan Pura. Daripada penasaran, yuk simak penjelasan lengkapnya Teman Traveler.

Berada Tak Jauh dari Dermaga

Pompong siap mengantar kalian ke Dermaga Pulau Penyengat (c) Rosita/Travelingyuk

Meski baru pertama berkunjung ke Pulau Penyengat, Teman Traveler akan dengan mudah menemukan Masjid Raya Sultan Riau. Posisinya sangat strategis karena berada dekat Dermaga Pulau Penyengat. Cukup berjalan kaki sekitar 300 meter dari dermaga, kalian akan sampai di tempat tujuan.

Masjid Sultan Raya Riau bisa dibilang merupakan bangunan pertama yang bakal menyambut kedatangan kalian di Pulau Penyengat. Tempat peribadatan ini terlihat megah, dengan corak kuning dan hijau di sekujur dindingnya. Berusia ratusan tahun, struktur ikonik ini jarang terlihat sepi dari kunjungan wisatawan.

Kokohnya Perekat Putih Telur

Bangunan masjid tampak depan (c) Rosita/Travelingyuk

Megah dan kokoh. Itulah kesan pertama ketika melihat Masjid Raya Sultan. Bangunan bersejarah ini juga menyimpan cerita unik lho Teman Traveler. Menurut cerita yang beredar, perekat yang digunakan untuk mendirikan masjid ini adalah putih telur. Entah benar atau tidak, yang jelas hingga kini masjid tetap berdiri kokoh meski sudah berusia 200 tahun lebiih.

Masjid Raya Sultan Riau dibangun pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman, sekitar tahun 1800-an. Beliau merupakan cucu Raja Haji Fisabilah, Pahlawan Nasional Indonesia asal Riau.

Pendopo di kedua sisi masjid (c) Rosita/Travelingyuk

Secara keseluruhan masjid megah ini memiliki 13 kubah dan ditopang empat tiang beton. Lantainya dilapisi ubin tanah liat. Di kedua sisinya, Teman Traveler akan menemukan pendopo mungil untuk beristirahat.

Al-Quran Tulisan Tangan Berusia Seabad Lebih

Gerbang masuk masjid (c) Rosita/Travelingyuk

Selain bangunannya yang unik, Masjid Raya Sultan Riau juga menyimpan koleksi penting. Di sini Teman Traveler bisa melihat langsung peninggalan Al-Quran tulisan tangan berusia seabad lebih. Benar-benar luar biasa bukan?

Al-Quran tersebut merupakan hasil karya Abdurrahman dan hingga kini dipajang sebagai sumber pengetahuan bagi wisatawan. Abdurrahman sendiri dikisahkan sempat dikirim Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Begitu kembali, Abdurrahman menjadi seorang guru dan dikenal dengan kemampuannya membuat Khat, kaligrafi gaya Istanbul. Menurut penelitian, Al-Quran hasil tulisan tangan Abdurrahman selesai dibuat pada 1867.

Itulah sekilas ulasan mengenai Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat. Bagaimana Teman Traveler, adakah di antara kalian yang tertarik mampir ke wisata Riau ini?

Tags
kontributor Riau Travelingyuk wisata riau
Share