Labuan Bajo Darurat Sampah, Begini Kronologisnya

Kawasan pariwisata yang berkembang pesat tentu akan membawa manfaat positif bagi masyarakat di sekitarnya. Tak hanya memajukan pembangunan di lokasi tersebut, namun juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru untuk warga lokal. Namun bagi kawasan Labuan Bajo, perkembangan wisata yang terlalu cepat ternyata justru membawa masalah tersendiri.

Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai gerbang menuju petualangan di sejumlah titik eksotis di Nusa Tenggara Timur. Selain letaknya yang tak begitu jauh dari Pulau Komodo, Labuan Bajo juga menjadi lokasi start bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Pulau Padar, Pulau Kalong, atau mengunjungi desa tradisional di Wae Rebo.

Namun sayangnya keindahan Labuan Bajo belakangan mulai terancam. Kawasan tersebut mulai dikotori oleh banyaknya sampah. Seperti apa kronologisnya hingga hal tersebut bisa terjadi? Berikut Travelingyuk berikan penjelasan lengkapnya.

Terjadi Sejak 2003

Sampah di salah satu sudut dermaga Labuan Bajo via Instagram mufariz88

Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula, mengatakan bahwa masalah sampah sudah terjadi sejak 2003. Hal tersebut bertepatan dengan dibentuknya Labuan Bajo sebagai kabupaten. Menurutnya, masyarakat sekitar kurang punya kesadaran dalam memelihara lingkungan tempat mereka tinggal.

Agustinus juga menjelaskan sebagian besar masyarakat Labuan Bajo sibuk menghabiskan waktu mereka untuk bekerja. Energi mereka terkuras demi mencari nafkah bagi keluarga maupun menghidupi diri sendiri. Tanpa sadar, tak banyak yang memikirkan soal kebersihan dan lingkungan.

Pertumbuhan Wisata Terlalu Cepat

Sampah di pinggiran perairan Labuan Bajo via Instagram sekar_kencana

Masalah sampah yang dihadapi oleh Labuan Bajo tak terlepas dari pertumbuhan wisata yang terlalu cepat. Tahun 2017 saja, tercatat ada 50.000 orang wisatawan yang masuk ke Labuan Bajo. Namun demikian, hal tersebut justru menjadi masalah karena mereka tidak punya sistem pengelolaan sampah yang bagus.

Agustinus sendiri mengakui bahwa daerah yang dipimpinnya memang tengah bermasalah. Menurutnya, sampah adalah musuh bersama yang juga bisa mengganggu perkembangan wisata di Labuan Bajo.

Mulai Mengotori Pantai

Indahnya pantai di Labuan Bajo akan sayang jika dikotori sampah via Instagram patriciasudarsana

Tidak sulit melihat masalah sampah di Labuan Bajo. Jika berjalan ke daerah pantai, khususnya di pelelangan ikan, terdapat banyak tumpukan plastik, kaca, dan juga terpal. Sementara di bagian darat, mudah sekali ditemui sampah-sampah berupa botol minuman kemasan. Sejumlah sampah kelihatan menggunung.

Jika tak segera ditemukan solusinya, bukan tak mungkin Labuan Bajo akan menjadi sorotan dunia seperti yang terjadi di Bali beberapa saat lalu. Kala itu seorang turis asal Inggris merekam video dirinya berenang di salah satu titik perairan di Nusa Dua. Namun bukannya ikan dan terumbu karang, ia malah disambut banyak sampah plastik.

TPA Kurang Memadai

Ilustrasi proses pembuangan sampah di TPA via Instagram rifkymh22

Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah (BHD) Kabupaten Manggarai Barat, luas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada memang tidak sepadan dengan sampah yang dihasilkan per harinya. TPA di Labuan Bajo memiliki luas 25×90 meter. Sementara dalam sehari bisa ada sampah dengan berat sebesar 12,8 ton atau sekitar 112,4 meter kubik.

Agustinus mengakui adanya kekurangan tersebut. Ia juga menyatakan untuk sementara ini pemerintah masih berusaha mencari sistem yang tepat untuk ikut campur dalam pengelolaan sampah. Selama ini semua prosesnya masih dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat.

Gerbang Menuju Pulau Komodo

Labuan Bajo menjadi pintu gerbang menuju Pulau Komodo via Instagram lumitrip

Labuan Bajo merupakan area vital dalam perkembangan pariwisata Indonesia. Lokasi ini bisa diibaratkan sebagai gerbang menuju Pulau Komodo, satu-satunya tempat di dunia untuk menyaksikan langsung kadal raksasa keturunan terakhir dinosaurus berkeliaran di habitat aslinya. Selain itu masih ada juga banyak titik favorit wisatawan di sekitar Labuan Bajo, seperti Pulau Padar dan Pulau Kalong.

Wisatawan pun sejatinya juga bisa ikut membantu agar krisis sampah di Labuan Bajo tidak semakin bertambah parah. Di antaranya dengan membawa kantong belanjaan sendiri dengan bahan ramah lingkungan, membawa botol air minum yang bisa diisi ulang, dann tak sembarangan membuang plastik di lautan.

Itulah tadi penjelasan mengenai bagaimana krisis sampah yang tengah terjadi di Labuan Bajo. Para traveler juga bisa aktif ikut ambil bagian dalam menjaga kebersihan tempat yang dikunjungi, agar keindahannya bisa terus dinikmati hingga anak cucu kelak.

Tags
Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur Wisata
Share