Mangut Lele Bu Is, Rasa Otentik yang Legendaris

Berwisata ke Jogjakarta belum lengkap rasanya jika tak menjelajah kulinernya. Jika sedang jalan-jalan di sekitaran Bantul, Teman Traveler bisa coba mampir ke Mangut Lele Bu Is. Kuliner yang sudah eksis sejak 40 tahun silam ini benar-benar lezat dan layak dicoba. Yuk, simak ulasan lengkapnya.

Favorit Semua Kalangan

20190719_111036_01_3200x1800_CWb.jpeg
Mangut lele yang legendaris (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Menebar rasa sejak 1979, Mangut Lele Bu Iswanto atau lebih akrab disapa dengan Bu Is memang berani diadu. Banyaknya pengunjung yang datang tiap hari menjadi bukti bahwa kuliner satu ini wajib Teman Traveler coba.

Selama 40 tahun usaha kuliner ini masih sanggup bertahan, meski harus bersaing dengan aneka kuliner kekinian. Cita rasanya memang begitu legendaris, membuatnya jadi salah satu kedai mangut lele khas Jogja yang sayang dilewatkan.  

20190719_103238_01_3200x1800_sAb.jpeg
Tempat bersantap favorit wisatawan (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Teman Traveler tak perlu heran jika kendaraan berplat luar Jogja selalu memenuhi halaman parkir warung. Semuanya silih berganti datang dan pergi. Tak kalah dengan Mangut Lele Mbah Marto, warung ini memang juga kerap jadi jujugan favorit wisatawan.

Menjelang siang, warung biasanya bakal makin ramai. Pelanggan tak hanya datang dari kalangan wisatawan saja lho. Beberapa pegawai kantoran kerap terlihat mampir, lengkap dengan baju dan pakaian rapi.

Tak salah memang menjadikan Mangut Lele ala Bu Is sebagai andalan sarapan, santap siang, maupun makan malam. Pasalnya, warung legendaris ini buka mulai pukul 08.00 hingga 20.00.

Warung Sederhana di Selatan Jogja

20190719_110852_01_3200x1800_akj.jpeg
Suasana di sekitar warung (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Warung Mangut Lele Bu Is beralamat di Jalan Imogiri Barat No.12, Turi, Sumberagung, Jetis, Bantul. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit.

Suasananya jauh dari kesan mewah. Warungnya harus berbagi tempat dengan rumah tinggal Bu Is. Para pelanggan bisa pilih duduk lesehan atau di samping rumah. Meski begitu, halamannya cukup luas. Dimanfaatkan sebagai lahan parkir dengan kapasitas lumayan besar.

20190719_111016_01_3200x1800_QZV.jpeg
Proses mempersiapkan mangut dan sayuran (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Meski warungnya sangat sederhana, nuansanya terasa nyaman dan begitu nostalgic. Pembeli juga bisa menyaksikan langsung kesibukan pegawai ibu–ibu meracik pesanan di dapur. Salah satu di antara mereka bakal bertanya berapa porsi mangut lele yang ingin dipesan. Setelah itu dengan ramah Teman Traveler akan dipersilahkan mencari tempat duduk.

Sajian yang Lengkap

20190719_102903_01_3200x1800_ejl.jpeg
Sajian paket komplet (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Tak perlu menunggu lama, seorang ibu paruh baya membawakan pesanan saya. Kedua tangannya sibuk dengan tujuh piring. Berikutnya datang menyusul nasi putih, sambal, dan air kobokan untuk cuci tangan.

Piring-piring tadi berisi aneka sayur dan lalapan segar. Tentu saja yang tak ketinggalan adalah mangut lele-nya. Teman Traveler tak perlu heran, setiap pelanggan di sini memang bakal disuguhkan sayur lengkap. Meski hanya memesan satu porsi sekalipun. Porsi nasinya cukup banyak.

Rasanya Nendang di Lidah

20190719_103146_01_3200x1800_AS2.jpeg
Lele jadi pemeran utama (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Pemeran utama di warung ini tentu saja adalah mangut lele. Ukurannya lumayan besar, disajikan dengan kuah mangut berwarna jingga. Konsistensinya begitu kental, dengan sedikit lapisan minyak di atasnya. Meski warnanya cukup gelap dan dihiasi potongan cabai, rasanya tidak terlalu pedas kok.

Teman Traveler yang tidak suka pedas harusnya masih bisa mentolerir rasanya. Pihak warung juga sediakan sambal terpisah kok. Kalian yang merasa kurang pedas tak perlu khawatir.  

20190719_102933_01_3200x1800_Nrm.jpeg
Mangut Lele Bu Is (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Baru menyeruput kuahnya saja Teman Traveler dijamin bakal jatuh hati. Mencicipi daging lelenya yang kata orang Jawa benar-benar ndaging, dijamin bakal ketagihan. Rasa bumbunya pun juara, meresap hingga ke dalam. Sangat memanjakan lidah.

Disajikan hangat-hangat, mangut lele terasa makin sempurna ketika disantap. Pas dengan paduan aneka sayuran yang tersaji di meja. Saking nikmatnya, dijamin nasi putih dalam wadah akan berkurang dengan cepat.

Aneka Sayuran dan Sambal Khas

20190719_103019_01_3200x1800_dHO.jpeg
Aneka sayuran yang disediakan (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Total ada delapan piring tersaji di meja saya. Salah satunya terbuat dari tanah liat dan berisi sambal. Tujuh lainnya digunakan sebagai wadah mangut dan aneka sayuran. Ada ketimun, kemangi, tauge rebus, bayam, kenikir rebus, bumbu kelapa, dan oseng cabai hijau.

Semuanya bisa Teman Traveler makan langsung sebagai lalapan atau dicampur sebagai gudangan (urap di daerah Jawa). Bumbu kelapanya sudah tersedia kok.  

20190719_102945_01_3200x1799_Nfv.jpeg
Sambal Petis yang khas (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Satu lagi yang pantang dilewatkan adalah sambal petis ala Bu Is. Rasanya memang tak terlalu pedas, namun dijamin bikin ketagihan. Sering jadi favorit pelanggan lantaran paduannya dengan mangut lele begitu mantap.

Jika ingin sensasi pedas yang berbeda, tinggal campurkan oseng cabai hijau. Terdiri dari cabai hijau yang dipotong-potong lalu ditumis, oseng ini sederhana namun bisa bikin lidah terbakar. Sangat cocok disantap bersama mangut.

20190719_104030_01_3200x1800_jq4.jpeg
Siap disantap (c) Annissa Saputri/Travelingyuk

Seporsi mangut lele dibanderol Rp25.000. Jika kita menyantap sayuran yang disajikan, Teman Traveler bakal kena tambahan biaya. Tapi tenang, harganya murah kok. Kala itu saya melahap sayur lumayan banyak, namun hanya perlu merogoh kocek Rp10.000.

Bagaimana Teman Traveler, berniat makan di sini? Jangan lupa ajak teman dan keluarga agar lebih seru. Langsung saja mampir jika sedang liburan di Jogja ya.

Tags
Jogja Jogjakarta kontributor kuliner Jogja kuliner jogjakarta Travelingyuk
Share