Kota Lama Semarang, Jejak Belanda di Kota Lumpia

Ester Devi

Ester Devi

On Indonesia
Gedung Marba Gedung Marba

Saya tak pernah menyangka jika Semarang punya peninggalan arsitektur Belanda yang kaya. Mulanya saya hanya iseng mampir ke Kota Lumpia untuk menyambangi Taman Srigunting. Namun berikutnya, saya malah jatuh cinta pada atmosfer tempo dulu kawasan Kota Lama Semarang.

Deretan gedung kuno dan pernak-pernik antik yang ditawarkan para pedang lokal sungguh nampak memukau. Yuk Teman Traveler, simak pengalaman saya menjelajah sekitaran Kota Lama Semarang berikut ini.

Belanda Kecil di Semarang

Sejarah Kota Lama Semarang dimulai sekitar tahun 1705, ketika pemerintah Belanda membangun Benteng De Vijf Hoek van Semarang. Tujuannya untuk melindungi wilayah pemukiman penduduk dan kawasan perniagaan.

Dulunya kawasan ini dikenal dengan nama outstadt lantaran kondisi geografisnya tampak terpisah dari daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota sendiri. Tak sedikit yang lantas menjulukinya sebagai ‘Little Netherland’. Ditambah lagi tata kotanya mirip dengan bangunan-bangunan Eropa dari abad ke 17-18.

Gereja Blenduk

Gereja Immanuel (c) Ester Devi/Travelingyuk

Salah satu peninggalan sejarah kolonial Belanda di Kota Lama Semarang adalah Gereja Blenduk. Tempat peribadatan ini dulunya bernama Nederlandsch Indische Kerk. Begitu memasuki masa kemerdekaan, namanya berganti menjadi Gereja Immanuel.

Gereja di Jalan Letjen Suprapto no.32 ini pertama dibangun oleh bangsa Portugis pada 1753. Bentuknya kala itu masih berupa rumah panggung dan beratap tajuk. Begitu Pemerintah Belanda berkuasa, gedungya dirombak besar-besaran. Bentuknya pun menjadi segi delapan, seperti yang bisa disaksikan sekarang.

Memasuki 1894-1895 HPA de Wilde dan W. Westmaas kembali melakukan renovasi dengan menambahkan dua menara, mengganti elemen pintu dan
jendela, serta mengubah atap bangunan menjadu bentuk kubah, seperti gereja Protestan Eropa pada masa itu.

Di sinilah gereja lantas disebut Blenduk, diambil dari istilah Bahasa Jawa ‘mblenduk’ yang artinya menggelembung seperti bola. Istilah ini untuk menggambarkan ciri khas atap kubah bangunan gereja. Berikutnya nama Gereja Immanuel justru makin tenggelam, kalah populer dari Blenduk.

Gereja Kristen Protestan tertua di Jawa Tengah ini masih digunakan sebagai tempat ibadah jemaat GPIB Immanuel, selain jadi objek wisata sejarah dan religi populer di kalangan wisatawan. Sayangnya, kala itu kami berkunjung malam hari sehingga kubah gereja tak nampak jelas saat difoto.

Gedung Spiegel

Gedung H. Spiegel (c) Ester Devi/Travelingyuk

Bangunan kuno kedua yang sempat kami abadikan di kawasan Kota Lama Semarang adalah Gedung Spiegel. Namanya diambil dari sang pemilik, Herman Spiegel, seorang pengusaha Austria-Hungaria keturunan Yahudi.

Gedung di Jalan Letjen Suprapto no.34 ini dulunya merupakan toko perusahaan NV Winkel Maatschappij. Didirikan pada 1895 oleh Spiegel, yang berkongsi dengan Moritz Moses Addler dan Ignacz Back. Mereka menyediakan beragam barang perlengkapan rumah tangga, kain, pakaian, mesin tik, lampu minyak dari Amerika, dan masih banyak lagi.

Beda dengan arsitektur Gereja Blenduk, gedung ini sedikit terpengaruh gaya kolonial Spanyol. Begitu masa Pemerintahan Hindia Belanda berakhir, temat ini sempat terbengkalai dan hanya dijadikan sebagai gudang. Barulah pada 8 Juni 2015, tempatnya diubah menjadi restoran bergaya klasik. Dari balkonnya, Teman Traveler bisa melihat pemandangan indah Kota Lama.

Gedung Marba

Gedung Marba (c) Ester Devi/Travelingyuk

Nama ‘Marba’ diambil dari singkatan nama Marta Badjunet, seorang saudagar asal Yaman yang memprakarsai pembangunan gedung ini pada pertengahan abad ke-19. Dulu fungsinya adalah sebagai kantor usaha pelayaran, ekspedisi muatan kapal laut (EMKL), dan sempat menjadi De Zeikel. satu-satunya supermarket modern di Semarang kala itu.

Dilihat dari ornamen dekorasinya, bangunan ini tinggalkan gaya neoklasik dan adopsi arsitektur tropis Hindia Belanda. Ciri utama Marba adalah warna merah marun pada dinding setebal 20 cm, dengan bata yang khas.

Terletak tepat di depan Taman Srigunting, gedung ini sering dijadikan lokasi shooting film dan tempat hunting foto favorit.

Taman Srigunting

Pemain bola jalanan (c) Ester Devi/Travelingyuk

Taman ini dulunya adalah alun-alun yang sering dipakai untuk latihan baris berbaris para serdadu Belanda. Bentuknya persegi, dengan empat jalan masuk menuju titik pusat taman. Ruang terbuka ini kerap dimanfaatkan untuk rekreasi, meeting point, maupun tempat berkumpul berbagai jenis kelompok sosial dan komunitas. Tak jarang ada beberapa seniman jalanan beraksi di wisata Semarang satu ini.

Sepeda antik (c) Ester Devi/Travelingyuk

Srigunting kerap ramai didatangi pengunjung malam hari. Taman ini juga tawarkan spot cantik bernuansa tempo dulu. Pas untuk berswafoto, lengkap dengan latar belakang gedung-gedung tua dan ketersediaan properti kuno. Teman Traveler bisa berpose dekat sepeda antik yang dipajang di halaman.

Pasar Klitikan

Salah satu lapak barang antik di Pasar Klitikan (c) Ester Devi/Travelingyuk

Satu yang tak boleh dilewatkan para penggemar seni budaya dan kolektor barang antik adalah Kampung Seni Padang Rani (Paguyuban Pedagang Barang Seni). Berlokasi di sekitar Taman Srigunting, Teman Traveler bakal menemukan deretan lapak pedagang barang ‘klitikan’ alias pernak-pernik barang tua, kuno, langka, bahkan antik.

Jenisnya beragam, mulai dari suvenir, hiasan dinding, barang jadul, hingga aneka koleksi benda lawas. Semuanya kerap jadi buruan para kolektor seni.

Itulah sedikit pengalaman saya menjelajah kawasan Kota Lama Semarang, yang belakangan tengah mengajukan diri menjadi salah satu destinasi World Heritage UNESCO 2020. Semoga kita semua bisa turut mendukung dan menjaga sisa peninggalan sejarah ini sebagai warisan budaya, serta aset bangsa yang tak ternilai harganya. Bagaimana, kapan mau coba jelajah ke Kota Lumpia ini?