Kawin Kopi Blitar, Romansa Harapan di Tanah Patria

Lebih dari sekadar minuman, kopi bisa jadi sebuah perlambang harapan. Tak percaya? Tanyakan saja pada masyarakat Blitar. Sejak zaman pendudukan Belanda, bertepatan dengan awal musim panen, mereka rutin menggelar tradisi Kawin Kopi.

Dua biji kopi terbaik dipetik dari perkebunan dan ‘dikawinkan’. Layaknya pernikahan manusia, prosesi ini libatkan beragam tradisi, elemen masyarakat, dan ditutup dengan pesta meriah. Di balik semua keriaan itu, tersimpan doa untuk hasilkan panen terbaik di musim berikutnya.

Keselerasan dalam Perbedaan

Selaras dalam perbedaan
Selaras dalam perbedaan (c) Travelingyuk/Aditya Alfinsyah

Travelingyuk beruntung bisa saksikan tradisi yang konon mulai langka ini. 17 April silam kami diundang ke Perkebunan Kopi Sengon, sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Blitar. Kedatangan kami lantas disambut sebuah pertunjukan keselarasan nan indah. 

Betapa tidak, komunitas Hindhu, Kejawen, dan Islam setempat nampak kompak menghaturkan pujian dalam cara masing-masing. Meski mengusung adat berbeda, semua satu suara memohon pada Sang Kuasa untuk limpahkan hasil terbaik di musim panen berikutnya. Prosesi agung ini sekaligus jadi pembuka cantik untuk rangkaian prosesi Kawin Kopi.

Pertemuan Joko dan Sri Gondel

Tetua memetik biji kopi terbaik
Tetua memetik biji kopi terbaik (c) Travelingyuk/Aditya Alfinsyah

Begitu semua perangkat siap, Kawin Kopi dimulai. Sosok yang dituakan memetik dua biji kopi terbaik dari perkebunan. Masing-masing diberi nama Joko dan Sri Gondel. Setelah menghaturkan doa, dua biji kopi tersebut lantas diserahkan pada Kembar Mayang, dua lelaki yang memanggul janur kuning berhiaskan dedaunan dan pelepah pisang. 

Ditemani iring-iringan sesepuh kampung, perkebunan, pemimpin agama, dan tokoh panutan, Kembar Mayang berjalan perlahan menuju gerbang masuk pabrik kopi PT Devi Sri, yang sudah beroperasi sejak 1917.

Iring-iringan Kembang Mayang
Iring-iringan Kembang Mayang (c) Travelingyuk/Aditya Alfinsyah

Begitu sampai, rombongan disambut Kembar Mayang lain, kali ini terdiri dari sepasang perempuan. Umumnya dipilih yang masih perawan. 

Prosesi dilanjutkan dengan membawa Joko dan Sri Gondel mengelilingi perkebunan, sebelum dibawa masuk ‘ruang pengantin’. Keduanya dijaga hanoman, kera putih dengan kesaktian luar biasa. Tahapan ini lantas ditutup setelah dua biji kopi diserahkan pada kepala perkebunan. 

Joko dan Sri Gondel kemudian dibiarkan intim berdua. ‘Pasangan’ ini diharapkan bisa beranak pinak, berikan hasil terbaik demi kesejahteraan warga sekitarnya. 

Berbaur dalam Genduren

Sajian dalam proses genduren
Sajian dalam proses genduren (c) Travelingyuk/Aditya Alfinsyah

Tak sampai di situ, prosesi dilanjutkan dengan genduren alias kenduri. Di sini semua elemen berbaur jadi satu. Duduk lesehan di dalam gudang kopi, beralaskan tikar sederhana. Pejabat, tamu undangan, jurnalis, hingga warga, semua larut dalam tradisi sederhana nan agung ini. 

Pembagian makanan
Pembagian makanan (c) Travelingyuk/Aditya Alfinsyah

Usai doa dan pujian pada Sang Kuasa rampung dihaturkan, waktunya pembagian berkat alias makanan. Masing-masing peserta syukuran menanti dengan sabar di depan alas daun pisang. Dengan cekatan, para tetua desa membagi rata aneka camilan, jajanan pasar, ayam ingkung, dan masakan lainnya. Semua harus dapat, semua harus ikut senang. 

Makan sambil muluk
Makan sambil muluk (c) Travelingyuk/Aditya Alfinsyah

Di sinilah nuansa kebersamaannya sangat terasa. Makan dilakukan bersama dan sederhana, menggunakan tangan alias muluk. Tak ada yang dianggap spesial, semua sama. Sama sekali tak ada suara protes. Semua lahap menyantap lauk yang tersedia. 

Pertunjukan Kesenian

Pertunjukan jaranan
Pertunjukan jaranan (c) Travelingyuk/Aditya Alfinsyah

Sementara genduren berlangsung, di luar sebagian warga berkumpul saksikan beragam persembahan seni. Beberapa pekerja perkebunan berdandan cantik, lengkap dengan kostum caping dan kebaya warna-warni. Mereka tampak luwes lakukan Tarian Petik Kopi. 

Dijembatani tepuk tangan riuh penonton, pertunjukan seni berikutnya dimulai. Kali giliran kelompok tari jaranan mempertontonkan kelihaian mereka. Sama seperti sebelumnya, gerakan mereka terlihat begitu apik. Warga yang menonton seolah ikut larut dalam keindahan tariannya. 

Harapan untuk Si Java

'Ruang pengantin'
‘Ruang pengantin’ (c) Travelingyuk/Aditya Alfinsyah

Berakhirnya pertunjukan tradisional seperti Jaranan sekaligus menandai usainya prosesi dan perayaan Kawin Kopi, sebuah perlambang harapan untuk Si Java. Istilah Java sendiri kerap digunakan orang asing untuk menyebut biji kopi asal Tanah Jawa.

Berawal dari ekspor yang dilakukan Belanda pada Abad ke-17, biji kopi dari Jawa Timur disebar hingga penjuru Eropa dan Amerika. Dikenal dengan cita rasa manis, para bule lantas kompak menyebutnya sebagai Java, mengacu pada merek ‘Java Coffee’ yang disematkan Pemerintah Kolonial.

Demikianlah tradisi Kawin Kopi, sebuah prosesi khusus untuk Si Java. Perkawinan Joko dan Sri Gondel melambangkan asa para petani dan pekerja kebun kopi akan hasil panen terbaik. Sebuah tradisi yang mulai langka, namun layak untuk terus diperjuangkan keberadaannya. Bisa jadi tambahan destinasi saat keliling wisata Blitar. Setuju, kan?

Tags
Blitar Indonesia kawin kopi Travelingyuk wisata blitar
Share