Kampung Adat Cireundeu, Menelusuri Kearifan Masyarakat Parahyangan

Pernah dengar soal Kampung Adat Cireundeu? Kawasan di dekat pusat kota Cimahi ini masih menjunjung tinggi nilai kearifan lokal, di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi. Mampir ke sini, Teman Traveler bisa melihat indahnya harmonisasi kehidupan manusia dan alam.

Berada di Desa Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi, kampung adat ini juga sukses berswasembada pangan. Mereka menggunakan singkong sebagai alternatif beras. Palawija tersebut lantas diolah lagi menjadi rasi alias beras singkong. Yuk, kenalan lebih dekat dnegan wisata Cimahi ini.

Sejarah Konsumsi Rasi

Alam indah di Kampung Adat Cireundeu (c) Lutfi Dananjaya/Travelingyuk

“Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat.”

“Tidak Punya Sawah Asal Punya Beras, Tidak Punya Beras Asal Dapat Menanak Nasi, Tidak Punya Nasi Asal Makan, Tidak Makan Asal Kuat.”

Empat kalimat tersebut seolah merangkum sejarah konsumsi rasi alias beras singkong di Desa Cireundeu. Hal tersebut berkaitan pula dengan tradisi nenek moyang mereka yang kerap berpuasa mengonsumsi beras selama waktu tertentu.

Pedoman hidup masyarakat Kampung Adat Cireundeu (c) Lutfi Dananjaya/Travelingyuk

Tujuan puasa tersebut adalah mendapat kemerdekaan lahir batin. Ritual yang juga sekaligus menguji keimanan seseorang dan pengingat akan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa.

Proses mengolah singkong menjadi rasi (c) Lutfi Dananjaya/Travelingyuk

Pengolahan singkong menjadi rasi telah dilakukan masyarakat Kampung Adat Cireundeu selama kurang lebih 85 tahun. Hal tersebut membuat mereka mandiri soal pangan. Kehidupan di sini bisa dibilang tak terpengaruh gejolak ekonomi-sosial, terutama soal fluktuasi harga beras.

Disambut Meriam Sapu Jagat

Monumen meriam (c) Lutfi Dananjaya/Travelingyuk

Begitu sampai di gerbang masuk Kampung Adat Cireundeu, Teman Traveler akan menemukan monumen Meriam Sapu Jagat. Simbol Satria Pengawal Bumi Parahyangan ini juga dilengkapi tugu mungil bertuliskan Wangsit Siliwangi, yaitu jujur, ksatria, membela rakyat kecil, sayang pada sesama, dan menjadi wibawa.

Bale Saresehan

Bale Saresehan (c) Lutfi Dananjaya/Travelingyuk

Teruskan perjalanan dari gerbang masuk dan usai sekitar 200 meter, Teman Traveler akan menemukan Saung Baraya Mang Ali. Di sini kalian akan melihat gerbang lain yang mengarah ke Bale Saresehan.

Bale-bale ini biasa digunakan warga sekitar sebagai tempat pertemuan dan pagelaran seni. Bangunan dengan material bambu dan kayu ini memiliki luas sekitar 200 meter persegi dan sanggup menampung hingga maksimal 100 orang.

Bale Saresehan (c) Lutfi Dananjaya/Travelingyuk

Setiap bulan Sura, bale-bale ini bakal digunakan untuk menggelar pertunjukan wayang golek. Tradisi ini merupakan bentuk syukur pada Sang Maha Pencipta, atas semua kenikmatan yang sudah diterima.

Imah Panggung

Imah Panggung (c) Lutfi Dananjaya/Travelingyuk

Tak jauh dari Bale Saresehan, Teman Traveler bisa mengunjungi Imah Panggung. Rumah panggung berukuran lumayan besar ini seolah jadi bukti betapa kayanya seni arsitektur tradisional Indonesia. Tampak sangat kokoh dan mengagumkan.

Itulah sedikit pengalaman saya menelusuri Kampung Adat Cireundeu. Banyak pelajaran menarik soal kearifan lokal, sejarah, dan nilai budaya yang saya petik di sini Teman Traveler. Jika ingin habiskan liburan di Cimahi dengan lebih bermakna, janganr ragu untuk datang ke sini ya.

Tags
Cimahi Indonesia kampung adat cireundeu kontributor Travelingyuk wisata cimahi
Share