Kain Lurik, Karya Tenun Khas Jogja yang Melegenda

Jogja bisa dibilang merupakan kawasan yang masih memegang teguh tradisi di tengah gempuran arus modernitas. Salah satunya tercermin dalam kerajinan kain lurik, tenun khas Jogja yang sudah melegenda.

Tak sulit menemukan kain lurik di Jogja. Teman Traveler bisa mendapatkannya di butik hingga lapak pasar tradisional Jogja. Masing-masing punya motif berbeda, melambangkan siapa pemakainya. Bisa masyarakat biasa, abdi dalem, maupun kerabat keraton.

Sejarah Lurik

_20190920_074540_8SH.jpg
Halaman depan (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Dalam sejarah perkembangannya, pembuatan lurik mengalami beragam perubahan. Dulu semua kain dibuat secara tradisional, dengan menenun helai demi helai benang hingga menjadi selembar kain. Namun kini, karena alasan efisiensi tenaga dan waktu, semuanya dikerjakan menggunakan mesin.

Meski begitu pembuatan lurik tradisional tak sepenuhnya punah. Teman Traveler bisa menyaksikannya di kawasan Krapyak Wetan, tak jauh dari daerah kota. Jaraknya hanya sekitar 15 menit berkendara.

Di perkampungan tenang ini, kalian bisa mampir ke produksi kain tenun lurik Kurnia. Rumah produksi ini telah eksis sejak 1962 dan didirikan oleh Bapak H. Dibyo Sumarto.

Proses Pembuatan

kain lurik
Bahan baku benang (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Pembuatan lurik di Kurnia terdiri dari serangkaian proses panjang. Bahan baku utama benang didatangkan langsung dari luar kota. Tahap awalnya dimulai dari pemberian warna pada benang.

Begitu pewarnaan rampung sempurna, proses selanjutnya adalah penjemuran benang. Dulu pewarna yang digunakan mengandung bahan kimia. Namun kini yang lebih banyak dipakai adalah pewarna alami dari ekstrak daun.

img_3362_01_WrG.jpg
Tempat mewarnai benang (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk
img_3365_01_AAd.jpg
Benang yang telah diwarnai (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Setelah benang benar-benar kering, selanjutnya masuk proses palet dan klos. Di sini benang bakal diurai untuk kemudian dipintal. Berikutnya lanjut ke proses skir, di mana semua benang disusun secara teratur. Setelah selesai, dilakukan proses cucuk. Benang pendek akan diselipkan di antara benang panjang.

kain lurik
Proses memintal benang (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk
kain lurik
Hasil proses klos (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Setelah itu, benang akan disetel dan baru ditenun. Begitu kain jadi, akan langsung dicuci dan siap dijual. Hmm, prosesnya lumayan panjang dan rumit ya Teman Traveler?

img_3381_01_1l9.jpg
Proses tenun lurik (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Mendapatkan kain halus dan padat bukan perkara gampang lho. Itulah mengapa dalam proses pembuatan lurik, orang yang menggarapnya harus sama. Tidak boleh berganti-ganti.

Sederhana dan Ramah Lingkungan

img_3368_01_6Fo.jpg
Transportasi yang digunakan para pekerja (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Pekerja di sini jumlahnya mencapai sekitar tiga puluh orang. Mereka rata-rata sudah berusia lanjut. Uniknya, tidak semua menyelesaikan pekerjaan mereka di tempat. Pengelola mengizinkan para pegawai untuk membawa pekerjaan pulang. Selain itu, untuk transportasi para pekerja memakai sepeda angin. Semuanya terkesan begitu ramah lingkungan dan sederhana.

Ukuran Kain

kain lurik
Proses menjemur kain (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Kurnia memproduksi dua lurik dalam dua ukuran, 70 x 110 cm dan 110 x 110 cm. Jumlah benang yang digunakan mencapai masing-masing 2.100 dan 3.300 helai. Harga per meternya dibanderol Rp37.000-an dan Rp55.000-an. .   

Tak hanya kain tenun, Kurnia juga melayani pembuatan syal untuk suvenir. Selain membeli langsung, Teman Traveler juga bisa mendapatkan hasil produksi mereka secara daring lho. Bagaimana, ada yang tertarik?

Itulah sedikit ulasan mengenai proses pembuatan kain lurik di Kurnia. Meski sederhana, di dalamnya terdapat pengabdian dan dedikasi tinggi untuk melestarikan warisan budaya lokal. Jika Teman Traveler sedang jalan-jalan di wisata Jogja, jangan lupa mampir ya.

Tags
Indonesia Jogja Jogjakarta kain lurik kontributor Travelingyuk wisata jogja Wisata Jogjakarta
Share