Huta Siallagan, Menyelami Tradisi Kanibal Suku Batak di Samosir

Selain alamnya yang indah, Indonesia juga dikenal dengan ragam budaya menarik. Salah satu suku Tanah Air yang punya tradisi unik adalah Batak. Mereka konon sempat punya tradisi kanibal dan bukti soal itu masih dijaga hingga kini di Huta Siallagan.

Huta Siallagan adalah desa Batak kuno yang terletak di Simanindo, Pulau Samosir, Sumatra Utara. Letaknya sangat strategis karena dikelilingi oleh pemandangan indah di sekitar area Danau Toba. Namun selain itu, warisan budaya di dalamnya juga sangat menarik untuk disimak.

Eksplorasi Menggunakan Kapal

Kawasan desa batak kuno
Kawasan desa batak kuno via Instagram beautiful_indonesia_official

Huta Siallagan masih masuk wilayah Desa Ambarita di Pulau Samosir. Untuk menuju sana, sobat traveler harus menumpang kapal boat dari Danau Toba. Kapal yang menuju Ambarita cukup jarang, karena kebanyakan rombongan wisatawan lebih suka dibawa ke Desa Tomok – yang terkenal sebagai pusat budaya dan hasil kerajinan tangan serta suvenir.

Namun tak perlu khawatir. Jika memang tak menemukan kapal jurusan Ambarita, sobat traveler tinggal meminta diantar ke daerah Tomok. Dari sana tinggal menyewa sepeda motor untuk mencapai tempat tujuan melalui jalur darat.

Perkampungan Kanibal

Rumah adat batak kuno
Rumah adat batak kuno via Instagram phintor

Huta Siallagan merupakan perkampungan Suku Batak yang sempat tersohor karena tradisi kanibal alias memakan daging manusia. Namun demikian bukan berarti penduduk sini dulunya sangat primitif. Kebiasaan menyantap daging manusia dilakukan dengan alasan jelas.

Orang yang melakukan tindakan kejahatan, seperti membunuh, mencuri, atau memperkosa, akan diadili terlebih dulu di tempat bernama Batu Persidangan. Begitu keputusan diambil, mereka biasanya akan dipancung. Kepalanya akan digantung di depan desa sebagai tanda peringatan, sementara tubuhnya dipotong dan dimasak sebelum kemudian dimakan bersama-sama.

Mirip Benteng

Pintu masuk Huta Siallagan
Pintu masuk Huta Siallagan via Instagram indahyana_sijabat

Jika dilihat sepintas dari luar, Desa Huta Siallagan bisa dibilang mirip sebuah benteng. Luas wilayahnya mencapai kurang lebih 2.400 meter persegi. Di sekelilingnya terdapat tembok batu dengan tinggi antara 1,5 hingga 2 meter.

Dinding tersebut terbuat dari bebatuan licin, konon dulunya juga dilengkapi bambu tajam. Tujuannya tak lain adalah melindungi desa dari serangan suku wilayah lain maupun hewan liar. Dua ancaman tersebut sudah tak ada lagi zaman sekarang, namun kehadiran tembok kuno menambah atmosfer spesial ketika berkunjung ke Desa Huta Siallagan.

Tarian Penyambutan

Turis berfoto bersama Patung Sigale-gale
Turis berfoto bersama Patung Sigale-gale via Instagram tania_slh95

Sobat traveler yang ingin berkunjung ke Huta Siallagan sebaiknya berkoordinasi terlebih dahulu dengan guide setempat. Sebab biasanya pengelola kawasan ini menyiapkan penyambutan khusus untuk para pengunjung. Salah satunya berupa tari-tarian bersama patung Si Gale-Gale.

Wisatawan akan diajak bergoyang mengikuti irama gondang batak dengan dipandu beberapa orang guide. Setelah tiga atau empat tarian, sambutan baru benar-benar selesai. Barulah kemudian pengunjung bisa mulai berkeliling sekitar kampung sembari mendengarkan kisah sejarah menarik di Desa Huta Siallagan.

Itulah tadi sekilas gambaran mengenai pesona keindahan, sejarah, dan tradisi menarik yang ada di Desa Huta Siallagan. Bagi sobat traveler yang tertarik menyelami budaya kanibal suku Batak kuno di Pulau Samosir, sangat disarankan berkunjung ke sini jika kebetulan sedang berada di Sumatra Utara.

Tags
Sumatra Utara Wisata
Share