Festival Lembah Baliem Wamena, Jarang Terdengar Namun Sudah Mendunia

Rero Rivaldi

Rero Rivaldi

On Indonesia

Sudah bukan rahasia lagi jika kawasan Papua memiliki beragam eksotisme memukau yang belum sepenuhnya dieksplorasi. Sejauh ini kita lebih sering mendengar soal keindahan bawah laut Raja Ampat yang mendapat perhatian besar dari media lokal. Padahal Pulau Cendrawasih sebenarnya juga punya kekayaan budaya yang luar biasa dan bahkan sudah mendunia, salah satunya Festival Lembah Baliem Wamena.

Festival Lembah Baliem sudah lama menjadi ritual tahunan Suku Dani yang selalu dinanti-nantikan para wisatawan. Bahkan tradisi kolosal ini gaungnya sudah sampai hingga ke telinga traveler luar negeri. Beragam atraksi menarik bisa disaksikan dan selalu ada hal-hal baru ditonjolkan di tiap edisi. Kali ini TravelingYuk bakal beri ulasan festival yang sudah mendunia ini.

Potret Suku Dani Sepuas-puasnya

Seorang pria dari Suku Dani via Instagram tehhalin

Festival Lembah Baliem sering disebut dalam beberapa tulisan sebagai surga bagi para fotografer. Sebab dalam kesempatan ini anggota Suku Dani dalam jumlah besar akan tampil gagah lengkap dengan pakaian perang mereka. Semuanya bisa dipotret dengan gratis tanpa biaya sepeser pun.

Poin gratis di sini perlu ditekankan karena Suku Dani konon dikenal sebagai suku yang cukup komersil. Mereka biasanya enggan dipotret jika tidak ada insentif uang. Kebiasaan ini konon muncul dari budaya wisatawan asing yang dulunya sering memberikan uang karena prihatin dengan kehidupan dan kondisi perekonomian masyarakat sekitar.

Berawal dari Perang Suku

Kemeriahan Festival Lembah Baliem di Wamena via Instagram suave.trip

Dulunya Lembah Baliem menjadi tempat bagi Suku Dani untuk menggelar peperangan dengan suku Lani dan Yali. Namun seiring berjalannya waktu dan juga karena pengaruh modernisasi, tradisi kekerasan tersebut sudah dihilangkan. Namun simulasi peperangan tetap rutin digelar tiap tahun dan akhirnya menjadi Festival Lembah Baliem seperti yang dikenal sekarang.

Mirip seperti simulasi pelatihan polisi atau tentara, ‘peperangan’ di Lembah Baliem biasanya diadakan dengan beragam skenario menarik seperti penculikan anak suku atau penyerbuan ladang. Tradisi kolosal ini dilangsungkan selama kurang lebih tiga hari. Biasanya dilangsungkan pada bulan Agustus atau bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Dimeriahkan Bakar Batu dan Tari-tarian

Atraksi Perang Antar Suku, via Instagram awasenak

Simulasi perang di Lembah Baliem biasanya bakal berjalan dengan seru. Di satu titik masing-masing kubu bakal mengirimkan prajurit terbaik dan saling mengadu kemampuan melempar tombak dan memanah. Tak sampai ada yang meregang nyawa, namun kadang ada juga yang terluka dan langsung dibawa ke tepi untuk dirawat.

Setelah ritual peperangan selesai, bakal diadakan acara memasak daging babi. Cara memasaknya pun unik karena daging babi akan dikubur dalam lubang yang sudah digali dan ditambahkan sejumlah batu yang sudah dipanaskan. Cara memasak semacam ini sering disebut dengan istilah bakar batu.

Budaya Suku Dani yang menarik disimak via Instagram.com/wonderful.indonesiaku

Selain itu para wisatawan juga bisa menyaksikan beragam tari-tarian tradisional dan mengunjungi pasar kesenian. Di sini mereka bisa melihat-lihat ataupun membeli hasil kerajinan Suku Dani yang dikenal bernilai seni tinggi.

Biayanya tak murah

Suku Dani tengah berpose di depan kamera via Instagram jah_rudolf

Salah satu alasan yang mungkin membuat Festival Lembah Baliem masih kurang begitu dikenal oleh traveler domestik adalah untuk melihatnya dibutuhkan biaya yang tidak murah. Terbang menuju kawasan Papua menelan biaya yang tidak sedikit. Selain itu mencari penginapan di Wamena juga tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi beberapa hari menjelang festival dimulai.

Itulah tadi beberapa keistimewaan yang bisa ditemui di Festival Lembah Baliem, Wamena. Bagi yang tertarik, tahun ini festival akan diadakan antara tanggal 8 hingga 10 Agustus 2018. Jadi bagaimana, tertarik melihat tradisi perang Suku Dani yang sudah melegenda?