Begpacker, Parasit Bagi Target 20 Juta Kunjungan Turis Asing ke Indonesia, Benarkah?

Hangga Prayudi

Hangga Prayudi

On Indonesia

Dalam dunia traveling, istilah backpaker bukan lagi hal yang asing. Umumnya mereka sangat meminimalisir biaya pengeluaran, meskipun tidak semua turis seperti itu. Bahkan backpacker dengan level ekstrim memilih membawa tenda dalam tasnya. Tujuannya, agar mereka tak perlu menginap di hotel dan dapat mendirikan tenda di mana pun mereka mau. Lebih parah lagi, ada wisatawan yang mencari iba dari bantuan orang lain. Turis jenis ini akrab disebut dengan ‘begpacker’. Fenomena begpacker ini sendiri telah semakin menjamur di berbagai negara Asia.

Hanya Terjadi di Negara Berkembang

Bule asal Ukraina menjual foto untuk mendapatkan uang via news.lovepattayathailand.com

Fenomena begpacker ini sendiri lebih sering terjadi di negara-negara yang baru berkembang, terutama di Asia. Negara-negara barat, kebanyakan telah memiliki kebijakan yang cukup ketat untuk masuknya wisatawan. Bahkan pelancong yang akan masuk diminta untuk menunjukan kemampuan finansial, tiket akomadasi pulang dan pergi, hingga bukti pemesanan hotel. Peraturan yang ditetapkan untuk visa pun sangat ketat. Turis yang memiliki visa kunjungan tak bisa mencari uang dengan cara apapun.

Masalah di Tengah Mudahnya Kunjungan ke Indonesia

Dua bule yang menjual foto di Thailand via independent.co.uk

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan kebijakan yang mudah untuk pelancong asing dan tentunya biaya yang murah. Apalagi kini ada target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2019. Akses untuk masuk ke Indonesia benar-benar dipermudah. Data Kementrian Pariwisata menyebutkan, sepanjang tahun 2017 hingga Mei 2018 sendiri total kunjungan dari semua pintu Indonesia meningkat 11,39%. Dari 5.511.107 kepala menjadi 6.166.109.

Dengan akses yang mudah serta pertumbuhan kunjungan sebesar itu, masalah begpacker adalah hal yang nyata. Tak jarang masyarakat yang menemukan bule mengamen atau menjual lukisan hanya untuk mencari uang. Entah benar-benar untuk pulang atau melanjutkan perjalanan ke destinasi lain. Dua orang bernama Dimitrii Abdugafarov dan Aleksandra Kolesnikov, asal Rusia, yang mengamen di Stasiun Jakarta adalah salah satu contohnya. Ada juga tiga bule asal Rusia juga ditemukan mengamen di Pasar Beringkit, Badung, Bali.

Thailand Telah Membuat Kebijakan

Dua bule asal Russia yang mengamen di Jakarta via suratkabar.id

Semakin maraknya fenomena begpacker di Asia, membuat beberapa negara yang sering menjadi destinasi wisata pusing bukan kepalang. Karenanya, negara di Asia seperti Thailand dan Vietnam mulai menerapkan peraturan yang ketat. Agar bule modal minim tersebut tidak menjadi masalah baru di negaranya. Thailand sendiri telah menetapkan kebijakan baru. Turis yang masuk harus membawa dana sebesar 20 ribu bath.

Berhenti Bersimpati

Bule mengamen di Bali via bali.tribunnews.com

Sayangnya, beberapa masyarakat masih belum menyadari bahwa hal seperti ini adalah bibit masalah yang besar. Sayangnya, masyarakat Indonesia masih banyak yang mendewakan bule. Turis yang mengamen, bahkan mengemis langsung mendapat perhatian dan iba. Para begpacker ini pun mendapat banyak simpati dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Mereka Dapat Menggunakan Aplikasi

Ilustrasi backpacker via pexels.com

Bukannya mengabaikan rasa kemanusiaan dengan tidak memberi rasa iba kepada bule-bule tersebut. Namun mereka masih memiliki opsi lain, mereka masih dapat meminta perlindungan lewat kedutaan negara masing-masing yang ada di Indonesia. Selain itu, mereka juga masih dapat menggunakan cara yang terhormat melalui aplikasi dan platform donasi seperti FundMyTravel.

Dengan semakin mudahnya akses untuk masuk ke Indonesia, tentu saja semakin bayak turis yang datang. Memang hal tersebut diperlukan untuk mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada tahun 2019. Namun jangan sampai para wisatawan asing tersebut malah menjadi ‘sampah’ di negeri sendiri. Setuju, kan?