Es Campur Tempo Dulu Mbah Slamet, Nikmatnya untuk Berbuka Puasa

Es Campur termasuk minuman yang punya banyak penggemar. Isiannya yang beragam jadi daya tarik utama para pecintanya. Nah, bagi Teman Traveler yang sedang berwisata di Malang, bisa menjajal nikmatnya Es Campur Tempo Dulu Mbah Slamet.

Meski terlihat sederhana, kenikmatan hidangan ini sukses membuat pelanggannya kagen dan ingin kembali mencicipi lagi. Yuk, simak ulasan lengkap soal cita rasa es campur yang cukup legendaris ini.

Sajian Es Campur Legendaris

Mbah Slamet (c) Erny Kusumawaty/Travelingyuk

Saat saya berkunjung, Mbah Slamet tampak ramah menyambut setiap pelanggan. Pelayanan oke ini bisa jadi membuat pelanggan terus bertambah tiap harinya.

Mbah Slamet sendiri memulai usaha berjualan es sejak 1980. Pria yang kini sudah banyak beruban tersebut awalnya berdagang di daerah Polehan, tepatnya di perempatan Jalan Kresno, Sadewa dan Puntodewo. Namun seiring berjalannya waktu, lokasi jualannya bergeser, meski tak terlalu jauh dari perempatan.

Lokasi di jalan Puntodewo (c) Erny Kusumawaty/Travelingyuk

Mbah Slamet mengaku sebelumnya ia sempat bekerja di pabrik permen dan makanan kecil pada 1965. Kala itu ia memiliki seorang atasan keturunan Tionghoa. Dari sang bos inilah, pria berusia 70 tahun tersebut mendapat ilmu soal es campur nikmat dan segar.

Meski demikian, Mbah Slamet tak lantas langsung berjualan es usai meninggalkan pabrik permen, Bapak lima anak ini sempat bergelut di bisnis percetakan, sebelum akhirnya memulai berjualan es di 1980.

Racikan Mantap

Es Campur Tempo Dulu Mbah Slamet (c) Erny Kusumawaty/Travelingyuk

Lantas apa yang membuat Es Campur Mbah Slamet bertahan hingga hampir 40 tahun? Sang pemilik sendiri mengaku tidak memiliki rahasia khusus.

Sama seperti es campur lain, ia menggunakan aneka macam isian seperti cincau, dawet, kolang-kaling, kelapa muda, blewah, serta alpukat jika memang sedang musim. Semua bahan tersebut lantas dicampur dengan gula putih cair, susu dan serutan es batu.

Bahan-bahan es campur (dok.pri(

Gula cair tersebut dimasak dengan sedikit air. Menurut Mbah Slamet, proses ini tidak bisa asal. Ada cara dan teknik khusus agar gula tak sekedar terasa manis, namun sekaligus ‘sedep’. Bisa jadi, inilah yang membuat es campur di sini terasa berbeda dan unik.  

Laris Manis Diburu Pelanggan

Semangkuk es campur nikmat (c) Erny Kusumawaty/Travelingyuk

Mbah Slamet mengaku bisa menjual antara 100 hingga 300 porsi es campur dalam sehari. Semangkuknya dibanderol Rp7.000. Jika ingin menambah roti, harganya menjadi Rp8.000. Wah, cukup terjangkau ya?  

Pelanggan es campur legendaris ini tak hanya berasal dari warga sekitar Polehan. Ada juga yang datang jauh-jauh dari Singosari, Turen, hingga Dampit. Wati, salah seorang pelanggan, mengaku sudah jadi langganan Es Campur Tempo Dulu Mbah Slamet sejak usia anak-anak.

Menjaga Kualitas dan Keramahan

Mbah Slamet melayanu pelanggan (dok.pri)

Bagi Mbah Slamet menjaga rasa dan kualitas adalah nomor satu. Pantang mengurangi takaran dan wajib menggunakan bahan pilihan. Gula maupun susu yang digunakan seberapa banyak, semua ada ukurannya.

“Selalu menjaga rasa itu yang penting, selain pelayanan yang ramah pada pelanggan”, ujar pria berkacamata tersebut, saat ditanya tips yang membuat usahanya begitu langgeng.

Di usia senjanya, Mbah Slamet berharap putra bungsunya bisa melanjutkan usaha es campur. Suatu saat nanti, ia ingin pensiun berjualan dan berharap bisnisnya bisa memasuki generasi kedua.

Nah, bagi Teman Traveler yang tengah berada di Malang, coba deh mampir ke Es Campur Tempo Dulu Mbah Slamet. Rasanya begitu segar, apalagi dinikmati saat panas terik. Mau?

Tags
jawa timura kontributor kuliner malang Malang Travelingyuk
Share