4 Desa Wisata di Nusa Tenggara Timur, Yuk Main ke Sana

Budaya dan tradisi di Nusa Tenggara Timur masih sangat kental terasa hingga saat ini. Dibuktikan dengan masih banyaknya rumah-rumah dengan arsitektur khas Nusa Tenggara Timur di sana. Bahkan, rumah tersebut tak jarang dijadikan sebagai desa wisata supaya bisa dikunjungi oleh para turis. Jadi, kampung mana saja yang dijadikan desa wisata di Nusa Tenggara Timur? Berikut ulasannya. 

Kampung Adat Tarung 

desa wisata nusa tenggara timur

Kampung Adat Tarung adalah sebuah perkampungan kecil yang terletak diatas bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter dari permukaan laut. Kampung ini bukanlah kampung biasa karena di wilayah tersebut para warganya memegang teguh adat leluhur dan budaya turun temurun sampai saat ini. 

Rumah di Kampung Adat Tarung jumlahnya tidak banyak, yakni sekitar 102 rumah panggung saja. Kampung Adat Tarung juga hanya dihuni sekitar 400 keluarga, sehingga satu sama lainnya masih tergolong kerabat dekat. Jumlah warga Tarung sendiri tercatat sekitar 1.530 jiwa dengan mata pencaharian utamanya sebagai petani, perajin tenun ikat, dan pegawai negeri sipil.

Bentuk rumah yang ada di Kampung Adat Tarung adalah adat Sumba atau uma (rumah) yakni berbentuk bangunan adat dengan arsitektur vernakular pencakar langit. Strukturnya segi empat di atas panggung yang ditopang tonggak-tonggak kayu dengan kerangka utama tiang turus (kambaniru ludungu) sebanyak empat batang. Ada 36 batang tiang (kambaniru) berupa struktur portal dengan sambungan pen memakai kayu mosa, kayu delomera, atau kayu masela.

Kampung Adat Belaraghi 

Kampung Adat Belaraghi via instagram/
vay_rie

Belaraghi adalah salah satu kampung tradisional yang masih mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah diwarisi dari nenek moyang mereka. Kampung ini merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat Kabupaten Ngada yang ada di Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Ngada yang tinggal di Nusa Tenggara timur memang cenderung untuk memilih mempertahankan budaya yang telah mereka miliki selama ratusan tahun.

Pada Kampung Adat Belaraghi terdapat 16 rumah yang memang dipertahankan keaslian bangunannya. 16 rumah tradisional tersebut berjajar saling berhadap-hadapan. Salah satu keunikannya adalah di mana pelataran yang ada berada lebih tinggi daripada pondasi rumah itu sendiri. 

Masing-masing rumah tradisional tersebut memiliki nama-nama tersendiri. Ada lima rumah yang bernama Sao Puu yang berarti rumah asal. Ada pula lima rumah yang lainnya yang bernama Sao Lobo yang berarti rumah terakhir, sedangkan sisanya dinamakan Sao Kaka yang artinya berbagi.

Kampung Adat Tololela 

Kampung Adat Tololela via insatgram/
pickbird

Di tengah kuat arus zaman modern saat ini, tidak banyak daerah yang masih mempertahankan tradisi adat budaya dalam lingkungan masyarakat. Namun di Kampung Tololela yang bertempat di Desa Manubhara, Kecamatan Jerebu, Kabupaten Ngada, dapat kita rasakan nuansa adat yang kental dan masih terjaga. Hal ini dapat dilihat dari bangunan rumah yang terdapat di kampung ini, serta kebiasaan dan perilaku masyarakat yang masih memegang erat adat istiadat.

Berbicara tentang rumah, ternyata di dalamnya dihuni oleh suku asli Tololela. Uniknya formasi rumah ini tersusun rapi membentuk pola segi empat, di mana bagian tengahnya terdapat lapangan berundak yang digunakan sebagai tempat Ngadu dan Bhaga. Selain itu, di setiap rumah selalu ada tanduk kerbau yang dulu dijadikan kurban untuk upacara adat penduduk setempat. 

Kampung Adat Praijing 

Kampung Adat Praijing via instagram/
asokaremadja

Kampung adat Praijing merupakan kampung adat yang terletak di Desa Tebara, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini menawarkan pesona sangat indah perkampungan dengan hamparan luas persawahan.

Selain itu kampung ini memiliki rumah adat tradisional yang sungguh unik, di mana pada rumah adat terdapat batu-batu megalitik di dalamnya. Rumah ini dibedakan menjadi tiga bagian antara lain Lei Bangun (kolong rumah) sebagai tempat memelihara ternak, Rongu Uma (tingkat kedua) untuk tempat tinggal sedangkan Uma Daluku (menara atau loteng) digunakan sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan alat pusaka.

Pada bagian atap rumah dilengkapi dengan semacam tiang berukir yang digunakan sebagai pintu pembeda antara pintu lelaki dan pintu perempuan. Biasanya pintu lelaki digunakan oleh kepala rumah tangga atau ayah untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan pintu perempuan digunakan untuk ibu yang akan pergi ke pasar.

Inilah desa wisata yang berada di Nusa Tenggara Timur. Meskipun hampir semuanya memiliki bentuk rumah yang sama, namun ada beberapa ciri khas yang sangat membedakan. Nah, berdasarkan cerita di atas, menurut Teman Traveler mana desa wisata yang paling menarik?

Tags
desa wisata nusa tenggara timur Indonesia Nusa Tenggara Timur Wisata
Share